AYOJAKARTA.COM - Kasus meninggalnya balita Raya (4 tahun) di Sukabumi benar-benar memilukan dan membuka mata kita tentang kondisi kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Indonesia.
Raya, putri dari pasangan Udin (32) dan Endah (38), hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di sebuah rumah bilik dengan kandang ayam penuh kotoran di bagian bawahnya.
Kondisi keluarga yang sulit - ayah yang sakit-sakitan dan ibu dengan keterbatasan mental - membuat Raya tidak mendapat perawatan dan lingkungan hidup yang layak.
Baca Juga: Macet di TB Simatupang? Yuk Coba 8 Rute Transjakarta Ini untuk Perjalanan Lebih Lancar!
Tragisnya, balita ini bahkan tidak memiliki identitas resmi seperti akta kelahiran atau Kartu Keluarga, sehingga tidak terdaftar di BPJS dan sulit mendapat akses layanan kesehatan.
Kondisi lingkungan yang tidak sehat inilah yang diduga menjadi sumber infeksi cacing yang akhirnya merenggut nyawa Raya.
Perjuangan menyelamatkan Raya dimulai ketika tim pegiat sosial Iin membawanya ke rumah sakit pada 13 Juli 2025 dalam kondisi tidak sadar.
Kondisi medis Raya sangat mengkhawatirkan - sekitar 1 kilogram cacing telah menginfeksi tubuhnya, bahkan cacing gelang sepanjang 15 cm keluar dari hidungnya dalam keadaan hidup.
Baca Juga: Tinggal 38% Lagi! Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Rampung, Siap Layani 80 Ribu Penumpang Harian
Ratusan cacing lainnya ditemukan di berbagai bagian tubuh, dan hasil CT Scan menunjukkan cacing beserta telurnya sudah menyebar hingga ke otak.
Meski tim medis dan pegiat sosial berjuang keras selama 9 hari, Raya akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 22 Juli 2025.
Yang lebih menyedihkan, biaya pengobatan sebesar 23 juta rupiah harus ditanggung oleh pegiat sosial karena bantuan dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan tidak berhasil diperoleh.
Hal ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pelayanan sosial dan kesehatan untuk masyarakat miskin yang tidak memiliki dokumen resmi.
Kasus ini menjadi cermin betapa pentingnya sistem perlindungan sosial yang komprehensif dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kematian Raya seharusnya tidak terjadi jika ada mekanisme deteksi dini untuk keluarga rentan, program bantuan sosial yang lebih mudah diakses, dan layanan kesehatan dasar yang menjangkau daerah terpencil.
Pemerintah daerah perlu memperkuat program kunjungan rutin ke daerah-daerah terpinggir, memudahkan pengurusan dokumen kependudukan, dan memastikan tidak ada anak yang hidup dalam kondisi tidak layak.
Selain itu, peran masyarakat dan organisasi sosial juga sangat penting dalam membantu mengidentifikasi dan melaporkan kasus-kasus seperti ini.
Tragedi Raya harus menjadi momentum untuk memperbaiki sistem perlindungan anak dan keluarga miskin, serta memastikan akses layanan kesehatan dan sosial yang lebih merata dan mudah dijangkau oleh semua warga negara, tanpa terkecuali.**