Viral

Viral Prediksi Suhu Indonesia Akan Melonjak Tajam di Bulan Mei-September, Kembali Capai 40 Derajat? Ini Penjelasan BMKG

Oleh: Dewi Nurrohmah Wulansari,Sp Kamis 02 Mei 2024, 14:09 WIB
Ilustrasi. Prediksi BMKG terkait kenaikan suhu wilayah Indonesia yang tinggi di bulan Mei-September

AYOJAKARTA.COM - Beberapa hari publik dihebohkan dengan unggahan salah satu akun X @zakiberkata yang mengunggah foto dan keterangan bahwa akan terjadi peningkatan suhu ekstrem di wilayah Indonesia.

Dikutip AyoJakarta.com dari unggahan akun X @zakiberkata pada hari Kamis (2/5/24), memperlihatkan peta wilayah Indonesia dengan gradasi warna merah dan oranye yang menandakan peningkatan suhu wilayah yang signifikan.

Bukan hanya di wilayah Jawa, peningkatan suhu juga diprediksi akan terjadi di seluruh daerah di Indonesia yang diperlihatkan dengan penampakan warna merah yang lebih dominan merata di seluruh wilayah.

Warna marun terlihat di beberapa wilayah di Indonesia seperti utara Pulau Jawa, Sumatera bagian Tengah dan Kalimantan bagian Selatan.

Baca Juga: Viral Warung Madura Disindir Pemerintah, Menkop UKM Langsug Buka Suara

Warna merah marun dalam label peta menunjukkan bahwa adanya peningkatan suhu udara ekstrem lebih dari 44 derajat celsius sedangkan merah tua menunjukkan intensitas suhu udara yang juga sangat tinggi antara 38-44 derajat celsius.

Sedangkan warna merah menyala menunjukkan suhu udara mencapai intensitas panas tinggi yaitu 32-38 derajat celsius.

Unggahan ini langsung viral dan mendapatkan sorotan yang cukup tajam dari publik.

Beberapa waktu yang lalu sempat beberapa daerah di Indonesia dilanda kekeringan hebat dan kebakaran karena peningkatan suhu udara yang sangat ekstrem di bulan Juli-Desember tahun 2023.

Fenomena alam super El Nino menjadi penyebab utama perubahan suhu udara di wilayah Indonesia yang sangat meningkat tajam.

Baca Juga: Viral di 'X'! Modus Bagikan iPhone, Syaratkan Staycation, Sasar Peserta SNBT

Hingga beberapa wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa terdeteksi peningkatan suhu udara wilayah mencapai titik tertinggi kisaran 39-40 derajat celsius.

Lalu apa tanggapan BMKG terkait isu akan adanya peningkatan suhu wilayah Indonesia yang sangat tajam?

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, memang membenarkan bahwa akan ada suhu yang ektrem meningkat di bulan Mei hingga berlanjut sampai bulan Agustus atau September 2024.

Deputi Bidang BMKG Guswanto menjelaskan bahwa memang benar mulai bulan Mei terpantau ada karakteristik perubahan suhu wilayah di Indonesia yang bergerak pada titik peningkatan suhu udara dari panas menuju panas ekstrem seperti yang pernah terjadi di bulan Juli-Desember 2023.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh gerak semu Matahari yang merupakan siklus biasa yang terjadi setiap tahunnya sehingga diperkirakan akan adanya perubahan suhu wilayah yang cenderung lebih panas dari biasanya.

Dikutip AyoJakarta.com dari unggahan disdik.purwakarta.go.id  pada hari Kamis (2/5/24) beberapa faktor alam yang menyebabkan terjadinya suhu panas menjadi sangat ekstrim di wilayah Indonesia, sebagai berikut.

Baca Juga: Punya Dampak Viral Sangat Fenomenal, Benarkah Perkara Kopi Sianida yang Menyeret Jessica Wongso Merupakan Contoh Perang Intelijen?

- Kondisi dinamika atmosfer yang berpengaruh terhadap minimnya tingkat pertumbuhan awan pada siang di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara.

Wilayah tersebut terkena penyinaran matahari lebih banyak dan lebih terik serta tidak terlalu terhalang oleh awan. Hal ini menyebabkan suhu di luar ruangan menjadi cenderung lebih panas.

- Musim kemarau berkepanjangan

Wilayah selatan Ekuator di Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau kembali dan mulai memasuki periode peralihan musim dari kemarau ke penghujan pada periode September ini.

Hal ini berpengaruh terhadap kondisi cuaca cerah dan cenderung panas masih cukup mendominasi pada siang hari.

- Kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara di Indonesia juga berdampak besar juga terhadap kondisi suhu terik di suatu daerah seperti yang terjadi saat ini.  ***

Reporter Dewi Nurrohmah Wulansari,Sp
Editor Desi Kris