AYOJAKART.COM -– Perempuan dibawah umur berinisial AG ditetapkan menjadi anak yang berkonflik dengan hukum.
Dalam hal ini AG terlibat kasus penganiayaan David oleh anak eks pejabat pajak, Mario Dandy Satriyo.
Pasalnya saat penganiayaan terjadi, AG terlihat sangat santai.
Baca Juga: Terlibat Kasus Mario Dandy, Pakar Sebut AG Jadi Korban Sosial, Ternyata Maksudnya Begini.....
Hal itu terungkap dalam rekonstruksi penganiayaan Mario Dandy yang digelar pada, 11 Maret 2023 di Kompleks Green Permata, Jakarta.
Meski AG tidak dilahirkan, namun ia digantikan dengan pemeran pengganti.
Tergambar dalam rekonstruksi, AG ternyata turut melihat David ditendang Mario Dandy sambil menghisap rokok.
Tidak hanya itu AG juga sempat merekam tindakan Mario Dandy yang menganiaya korban.
Lantas apa yang menjadi pemicu AG bersikap tenang, meski melihat korban dianiaya?
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube TvOneNews pada Minggu, (12/3/2023), Psikolog Novita Tandry menjelaskan bahwa kemungkinan ada banyak faktor.
Baca Juga: Sisi Gelap Kelakuan AG Terbongkar saat Rekonstruksi Penganiayaan David, Netizen Seret Nama Kak Seto
Faktor pertama yakni dari faktor orang tua, khususnya pola asuh orang tua dalam mendidik AG.
“Banyak hal sih, bisa karena ada gangguan kepribadian anti sosial atau memang faktor eksternal, pola asuh ketidakhadiran orang tua,” kata Novita.
“Siapa yang membesarkan anak ini, dengan siapa dia tumbuh dan berkembang, kenapa dia seperti ini, karena usianya itu usia anak,” lanjutnya.
Novita menilai faktor yang menjadi pemicu AG tidak mempunyai empati karena ia bingung.
“Kenapa tidak mempunyai empati, saya melihat bahwa antara simpati dan empati, anak-anak di zaman generasi Alfa ini abu-abu ya,” ungkap Novita.
“Jadi mereka bingung ini yang mana realita, yang mana hanya sekedar fantasi,” tuturnya.
Mengingat pada saat umur 14 tahun kebawah banyak sekali menghapus memori kegiatan yang tidak diulangi.
“Dan di 14 tahun ini otak manusia ada yang namanya pruning, jadi mendelete segala hal beberapa tahun belakangan yang tidak diulangi dari kecil,” sebut Novita.
Faktor selanjutnya, yakni situasi yang sepi bisa menjadi pemicu melakukan kekerasan.
“Atau memang anak ini ada dalam situasi, dimana tempatnya yang sepi, tidak ada orang yang melarang atau melarang,” jelas Novita.
“Jadi faktor ketiga ini menjadi pemicu sebagai faktor resiko terjadinya penganiayaan terhadap David,” tutur Novita.
Meski begitu Psikolog Novita menyarankan agar dilakukan assessment test terhadap AG.
“Perlu diadakan suatu assessment untuk mengetahui apa yang terjadi,” pungkas Novita.***(Winna Anaziah)