AYOJAKARTA.COM - Kisah pilu kembali terdengar dari kampung Citombe, Desa Buniara, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang Jawa Barat.
Pasalnya terdengar kabar bahwa seorang ibu hamil yang meregang nyawa bersama calon bayinya karena tak dapat pertolongan dari pihak RSUD Ciereng Subang.
Berdasarkan penuturan dari suami almarhumah yakni Juju Junaedi (46) yang dikutip dari akun Instagram undercover.id, korban yang bernama Kurnaesih (39) mengalami kontraksi saat masih berada di rumah.
Baca Juga: Turut Berduka! Eks Suami Raya Kitty ‘Anak Jalanan’ Meninggal Dunia Usai Kecelakaan
Ia pun kemudian membawa istrinya ke Puskesmas Tanjungsiang agar segera mendapatkan penanganan awal karena kondisinya terus mengalami penurunan.
"Sudah drop waktu masih di rumah tuh saya bawa langsung ke Puskesmas terus sama masih gitu, tidak ada perubahan terus akhirnya dibawa langsung ke RSUD Subang," ucap Juju.
Juju menuturkan bahwa pada saat itu istrinya sempat diterima di IGD RSUD Ciereng Subang, namun saat masuk ke ruang poliklinik anak untuk mendapatkan tindakan malah ditolak dengan alasan tidak membawa rujukan dari Puskesmas.
Baca Juga: Update Terkini Kebakaran Depo Pertamina Plumpang: Korban Meninggal 13 dan Luka-luka 49 Orang
Setelah ditolak, Juju lantas membawa istrinya ke rumah sakit di Bandung, namun naas dalam perjalanan istrinya meninggal dunia bersama calon buah hatinya.
"Tidak ada tindakan sama sekali dari RSUD Cierengnya langsung ada saya bawa ke Bandung sama Ibu Bidan Puskesmas pakai ambulans di Puskesmas Tanjungsiang. Istri saya tidak kuat dan meninggal duluan waktu mau ke rumah sakit di Bandung," ucap Juju.
Menanggapi kasus ibu hamil yang meninggal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi pun mengatakan bahwa pihaknya akan mengkonfirmasi dengan pihak terkait yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Subang.
"Iyah, nanti saya bicara sama Dinkesnya. Informasi ini baru saya dapat, di Subang yah (kejadiannya)," ucap Budi saat diwawancarai awak media.
Baca Juga: Berita Duka! Ferdy Sambo Meninggal Dunia, Bagaimana Faktanya?
Selain itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang yakni dr. Maxi mengatakan bahwa saat kejadian kondisi RSUD Ciereng penuh sehingga tidak memungkinkan untuk menerima pasien kembali.
Dalam pernyataannya dr. Maxi juga menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan teguran dan meminta RSUD Subang untuk melakukan perbaikan pelayanan tersebut.
"Tidak ada niat mencelakakan atau menolak pasien, karena saat itu memang kondisi ICU penuh. Kami menyesali karena situasi seperti ini membuat akibat yang sangat fatal dan memilukan bagi almarhumah dan keluarga. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran penting dan mawas diri bagi seluruh pelayan kesehatan," ucap dr. Maxi.
Unggahan tersebut menuai banyak respon dari warganet, beberapa komentar memberikan ungkapan kekecewaannya terkait perlakuan RSUD Subang tersebut.
"Seharusnya RS di bawah naungan pemerintah (RSUD) sangat tidak boleh menolak pasien dalam keadaan gawat darurat, dalam triase IGD jika kondisi gawat darurat jika pasien menggunakan BPJS, pasien tidak memerlukan rujukan, BPJS akan langsung di claim," tulis akun @galih.nd.
"Dari sekian banyak petugas, perawat atau dokter di RSUD setempat, apa gak ada satu pun yang mempunyai rasa kemanusiaan, iba atau empati ya?" tulis akun @dhanyjulian.***