JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Tahun 1960 hingga 1980-an menjadi masa keemasan Jalan Jaksa, Menteng Jakarta Pusat, lokasi yang sangat dikenal wisatawan mancanegara. Namun berbalik 180 derajat jika melihat kondisi saat ini, di mana para pelancong asing mulai jarang ke Jalan Jaksa.
Seorang tokoh di Jalan Jaksa, Endang Permana Sastradijaya atau yang akrab disapa "Bang 'Nci" mengatakan, awalnya Jalan Jaksa dikenal secara internasional di antara para petualang khususnya para backpacker melalui International Youth Hostel Federation (IYHF).
Pada masa itu, para petualang sering menginap di sebuah hostel bernama Wisma Delima sebagai tempat transit, untuk melakukan penjelajahan ke daerah seluruh Indonesia. Saat itu, Bandar Udara Kemayoran masih beroperasi.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di era Ali Sadikin juga mendukung masyarakat sekitar dan para pelancong dengan memudahkan akses menuju Jalan Jaksa, termasuk izin membangun hostel di lokasi tersebut lantaran datangnya pelancong yang tak terbendung.
"Backpacker sudah mulai datang dari seluruh dunia, bule-bule, di sini kelabakan karena hostelnya minim. Mulailah berkembang orang bangun hostel, minta izin ke DKI Jakarta buat buka hostel, di berikan," ungkap Bang Nci, saat ditemui Ayojakarta, di Jalan Jaksa, Minggu (22/9/2019).
Menurut dia, Gubernur Ali Sadikin yang membantu mempercantik tampilan Jalan Jaksa dengan tema-tema yang khas.
Saat itu, kata Bang Nci, animo petualang asing ke Jalan Jaksa sangat tinggi lantaran banyak pedagang kaki lima (PKL) yang menjual makanan tradisional, bahkan ada juga karena pelancong merindukan suasana menjemur pakaian ala masyarakat setempat.
"Mulai dari nasi uduk, kue Betawi nya, dan bule itu suka, terus bule itu melihat kampung-kampungnya banyak jemuran-jemuran yang nggak ditemukan di rumahnya, dan mereka melihat kerja sama antara warga itu berbeda dengan di negaranya, karena di sini lebih akur," tuturnya.
Seiring waktu, Jalan Jaksa mulai sepi pasca ditutupnya Bandar Udara Kemayoran pada tahun 1985-an.
"Dulukan transit di Kemayoran, dari Amerika harus ke Kemayoran dulu dua hari di Jakarta baru mau ke Bali. Setelah transit dipindahkan ke Soekarno Hatta di sini jadi sepi, biasanya kan dua hari mereka pada menginap," kenangnya.
Perlahan, tambah Bang Nci, banyak masyarakat mulai menjual hostel-hostelnya. Padahal, Ali Sadikin sebelumnya sudah mengimbau dan melarang agar mempertahankan ciri khas jalan Jaksa dengan tidak menjualnya.
"Zaman Pak Ali Sadikin, rumah-rumah, termasuk hostel-hostel di sini jangan dijual, boleh disewakan dan dikontrak, perkembangan zaman pak Ali Sadikin melengser setiap pemimpin baru akhirnya menyebabkan kebijakan yang berubah," tuturnya.
Kini yang tersisa bangunan asli khas dari Jalan Jaksa hanyalah Kafe Memories. Ia menjadi saksi perkembangan Jalan Jaksa yang dahulunya menjadi favorit pelancong dan musisi lawas Indonesia kini terpampang banner dijualnya bangunan kafe tersebut.
Bahkan kerinduan para pelancong asing kini sudah tidak bisa tertebus, lantaran kekhasan Jalan Jaksa kini pudar, muncul kafe-kafe dan pusat kuliner baru namun tidak membekas diingatan seperti dulu.