Rektor Unisba Sesalkan Penembakan Gas Air Mata dan Pemukulan Satpam oleh Oknum Polisi

- Sabtu, 10 Oktober 2020 | 20:29 WIB
Kericuhan antara Polisi dan Satpam Kampus Unisba, Kota Bandung, Kamis (8/8/2020) malam. [Tangkapan layar Instagram @info.mahasiswaunisba]
Kericuhan antara Polisi dan Satpam Kampus Unisba, Kota Bandung, Kamis (8/8/2020) malam. [Tangkapan layar Instagram @info.mahasiswaunisba]

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof Edi Setiadi menyesalkan tindakan oknum polisi yang melakukan penembakan gas air mata ke dalam area kampus selepas aksi unjuk rasa pada 7-8 Oktober 2020.

AYO BACA : Demo Omnibus Law Ciptaker Berdampak pada Penanganan Covid-19 di Jakarta

Ia mengatakan, penembakan gas air mata tersebut menyebabkan kerusakan terhadap fasilitas keamanan Unisba.

Ia juga sekaligus menyesali tindakan pemukulan oknum polisi kepada petugas keamanan (satpam) yang tengah berjaga di area kampus. Edi menyatakan, kedua tindakan tersebut adalah hal yang tidak patut dilakukan oleh aparat penegak hukum.

"Bahwa tindakan sebagian oknum polisi yang menangani unjuk rasa mahasiswa, yang melakukan tindakan berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan fasilitas kampus, sungguh sebuah perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam rangka menjalankan fungsinya," ungkap Edi dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Unisba, Sabtu (10/10/2020).

Ia menyatakan, tindak kekerasan seharusnya tidak perlu dilakukan polisi karena pada saat itu para oknum tidak berada dalam situasi yang mengancam jiwa.

AYO BACA : Pascademo UU Cipta Kerja, Polisi Tetapkan 87 Tersangka, 7 Resmi Ditahan

Edi meminta agar pihak kepolisian senantiasa memerhatikan code of conduct for law enforcement atau kode etik penegakkan hukum ketika bekerja.

"Salah satunya adalah kapan seorang penegak hukum menggunakan kekuatan. Kemudian juga harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar penggunaan kekuasaan bersenjata dalam peneggakan hukum," ungkapnya.

"Maka pengrusakan fasilitas kampus serta pemukulan terhadap anggota keamanan tidaklah dibenarkan karena polisi tidak dalam bahaya jiwanya. Tindakan berlebihan itu tidak perlu dilakukan," lanjutnya.

Selain menyesali tindakan tersebut, ia juga meminta perhatian Polri agar tindakan oknum polisi tersebut tidak dijadikan sebagai hal yang lumrah ke depannya.

Edi juga mendorong agar pihak kepolisian dapat mengedepankan musyawarah kepada mahasiswa yang masih 'diproses' akibat unjuk rasa yang dilakukan.

Pasalnya, ia mengatakan, tindak kekerasan dan pengursakan oknum polisi yang dilakukan di kampus Unisba sudah diselesaikan secara musyawarah. Oleh karenanya, metode yang sama dinilai harus diterapkan untuk menyelesaikan masalah polisi dengan pihak mahasiswa.

"Kami mengimbau agar aparat kepolisian dapat menerapkannya juga kepada seluruh mahasiswa dari perguruan tinggi manapun yang sampai saat ini masih menjalani proses hukum di kepolisian," ungkapnya.

"Kalau penyelesaian itu (kasus Unisba) cukup dengan musyawarah dan sebagainya, kami memohon untuk mahasiswa dan pengunjuk rasa, polisi juga bisa menggunakan musyawarah," jelasnya.

Sebelumnya, pada 8 Oktober 2020 malam, beredar video berdurasi 30 detik yang direkam di depan gerbang kampus Unisba. Video yang beredar luas di media sosial tersebut menunjukan oknum polisi menghampiri satpam Unisba yang tengah berjaga.

Oknum tersebut kemudian memukul kepala salah seorang satpam. Aksi tersebut kemudian dilerai oleh rekan polisi yang berada di sebelah pelaku pemukulan. (Nur Khansa)

AYO BACA : Pascademo Tolak UU Ciptaker, 3 Halte Bus Transjakarta Harus Dibangun Ulang

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

X