Bisnis

Wacana Menjadikan Serangga ke Daftar Menu Makan Bergizi Gratis Masih Hadirkan Polemik, Guru Besar IPB Berikan Kritik!

Oleh: Karseno AJ Rabu 29 Jan 2025, 11:48 WIB
Ilustrasi. Makan Bergizi Gratis

AYOJAKARTA.COM - Wacana memasukan serangga dalam daftar menu program Makan Bergizi Gratis masih melahirkan perdebatan dari berbagai kalangan.

Penggunaan serangga atau makanan eksotis dalam daftar menu program Makan Bergizi Gratis, menurut Adita Irawati selaku Jubir Kepresidenan merupakan alternatif.

Sehingga penggunaan serangga seperti Belalang, Ulat Sagu atau Daun Kelor sebagai pengganti asupan protein di program Makan Bergizi Gratis tidak berlaku secara nasional.

Selain itu, Adita juga menyebut, setiap wilayah di Indonesia memiliki panganan khas yang berbeda sehingga bisa menjadi solusi atas kebutuhan nutrisi.

Baca Juga: Resmi! Apple Segera Luncurkan Produk Terbarunya ke Indonesia, Termasuk iPhone 16? Cek Jadwal dan Estimasi Harganya

Wacana menggunakan serangga dalam daftar menu program MBG, oleh sebagian kalangan dinilai sebagai bentuk siasat kompromi anggaran dan bukan merupakan faktor gizi.

Terlebih untuk dapat terus mewujudkan program andalan Presiden Prabowo tersebut, pemerintah membutuhkan lebih banyak anggaran.

Menyikapi wacana pemilihan alternatif menu serangga sebagai sumber protein, Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor memberi tanggapan.

Menurut Ali Khomsan, meski sumber asupan protein bisa diperoleh dari serangga; namun hal tersebut juga perlu dipertimbangkan secara lebih mendalam.

Baca Juga: Resmi! BKN Umumkan 20 Maret 2025 ASN P3K 2025 akan Mendapatkan THR dan Gaji Ke-13

Penggunaan serangga atau makanan eksotis sebagai sumber protein alternatif, menurut Ali belum sepenuhnya dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.

Selain karena tidak setiap makanan eksotis yang menjadi kearifan lokal dapat diterima secara mudah oleh masyarakat setempat, Indonesia juga kaya akan perairan.

“Kita harus memaksimalkan ikan semaksimal mungkin, sehingga ini menjadi potensi yang perlu digarap dulu daripada menggarap Laron, Ulat Sagu atau Belalang Goreng,” ujarnya dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Rabu (29/1/2025). 

Selain mengoptimalkan varian protein konvensional seperti Ikan, penggunan telur baik Ayam atau Puyuh juga bisa menjadi jalan tengah.

Sehubungan dengan timbulnya perdebatan dari sejumlah kalangan mengenai menu eksotis dalam daftar MBG, Jubir Kantor Komunikasi Presiden memberi penegasan.

Menurut Hariqo Wibawa Satria, wacana memasukan serangga dalam daftar menu MBG bukan dimaksudkan untuk diterapkan secara nasional melainkan lokal.

Penggunaan makanan eksotis yang disesuaikan dengan tiap daerah di Indonesia, menurut Hariqo bisa menjadi solusi kebutuhan nutrisi khususnya protein.

Untuk menyajikan menu sesuai dengan komposisi gizi yang dijanjikan, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional secara berkelanjutan terus mengupayakan penelitian.

Baca Juga: Segini Harga iPhone 16 Setelah Terkena Pajak 12 Persen! Mulai Ada Titik Terang Sebentar Lagi Rilis di Indonesia?

“Yang ditetapkan oleh BGN adalah standar komposisi Angka Kecukupan Gizi, bukan standar menu Nasional,” ungkapnya.

Pernyataan BGN terkait penggunaan serangga tersebut, menurut Hariqo diperuntukan bagi daerah yang memiliki makanan khas bukan berlaku secara nasional di 38 provinsi.  ***

Reporter Karseno AJ
Editor Desi Kris