Ekonomi

Dolar Merangkak Naik, Rupiah Terpuruk! Mengulang Sejarah Krisis Moneter?

Oleh: Indra Purwatama Kamis 05 Des 2024, 12:37 WIB
Ilustrasi. Kenaikan nilai mata uang dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi sorotan.

AYOJAKARTA.COM — Kenaikan nilai mata uang dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi sorotan.

Dolar semakin naik tapi nilai tukar rupiah saat ini ada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir yang menimbulkan kekhawatiran terhadap ekonomi Indonesia.

Dilansir dari kanal YouTube Kamar JERI, Kamis, 5 Desember 2024, pergerakan dolar yang fluktuatif sejak awal tahun 2024 telah membuat rupiah semakin tertekan.

Meskipun beberapa analis memprediksi pelemahan dollar, kenyataannya nilai dolar terus merangkak naik yang mencapai hampir di angka 16.000 per 1 USD.

Kondisi tersebut mengingatkan pada krisis moneter lalu yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998.

Baca Juga: Gelar Sayembara Berhadiah 10 Juta Rupiah untuk Temukan Bukti Kecurangan Pilkada Jakarta, Perludem: Mestinya dari Awal

Saat itu nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai angka 16.800 per 1 USD yang menyebabkan inflasi tinggi, melemahnya daya beli masyarakat serta krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Namun di tengah krisis tersebut, BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia berhasil menstabilkan ekonomi Indonesia serta menguatkan nilai tukar rupiah.

Habibi menerapkan sejumlah kebijakan seperti melakukan merger empat bank milik pemerintah menjadi Bank Mandiri, memisahkan Bank Indonesia dari pemerintah serta menerapkan kebijakan moneter dengan menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga tinggi.

Kebijakan tersebut berhasil meredam inflasi dan meningkatkan kepercayaan investor asing serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Anjlok Parah! 5 HP Samsung Galaxy A Ini Turun Harga dari Ratusan Ribu hingga Jutaan Rupiah

Kisah Habibie saat itu menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Kenaikan nilai dolar terhadap rupiah berdampak pada berbagai sektor, terutama impor.

Harga barang-barang impor seperti bahan baku BBM dan beras menjadi lebih mahal sehingga berpotensi meningkatkan inflasi serta menekan daya beli masyarakat.

Selain itu, pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor juga terkena dampaknya karena biaya produksi yang meningkat.

Baca Juga: Info Penting Seputar Bansos, Poin 7 Bisa Dapat Uang Total Rp25 Juta Rupiah, Simak Syaratnya di Sini

Meskipun pemerintah telah berupaya untuk mengendalikan inflasi serta menjaga stabilitas ekonomi, tantangannya tidak akan mudah.

Persaingan dagang antara Amerika Serikat dan Cina, konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global menjadi salah satu faktor yang mempersulit upaya pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.

Mengenang kembali keberhasilan Habibie dalam mengatasi krisis moneter di masa lalu dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk segera cari solusi yang tepat dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Pemerintah perlu mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.***

Reporter Indra Purwatama
Editor Tedi Rukmana