Ekonomi

Kebijakan Pemindahan Kas Negara Rp200 Triliun, Apa Dampaknya ke Ekonomi? Ferry Irwandi Beri Penjelasan

Oleh: Katarina Erlita Rabu 01 Okt 2025, 10:59 WIB
Kebijakan Pemindahan Kas Negara Rp200 Triliun, Apa Dampaknya ke Ekonomi? Ferry Irwandi Beri Penjelasan (Sumber: youtube.com/@Ferry Irwandi)

AYOJAKARTA.COM - Pemerintah melalui Menteri Keuangan baru, Purbaya, mengambil langkah berani dengan memindahkan dana kas negara sebesar Rp200 triliun ke bank Himbara (BNI, Mandiri, BRI, BTN, dan BSI).

Kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra di publik karena dinilai berpengaruh langsung pada suku bunga deposito, kredit, hingga konsumsi masyarakat.

Ferry Irwandi, aktivis yang juga dikenal lewat kanal YouTubenya, memberikan analisis mendalam terkait kebijakan ini.

Baca Juga: SMF Salurkan Bantuan 7 Septictank Komunal Untuk Kelurahan Kalibata

Menurutnya, keputusan tersebut dilatarbelakangi kondisi makroekonomi yang dinamis dan kebutuhan agar dana negara yang “nganggur” bisa lebih produktif.

“Ide awalnya adalah memindahkan dana kas negara yang sebelumnya hanya disimpan di Bank Indonesia ke bank-bank Himbara. Dengan begitu, dana ini bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif, terutama usaha padat karya, bukan sekadar mengendap tanpa manfaat nyata,” jelas Ferry Irwandi.

Langkah ini pada dasarnya bertujuan meningkatkan likuiditas perbankan. Dengan tambahan dana besar, bank tidak lagi terlalu bergantung pada dana masyarakat melalui deposito.

Hal ini membuat bank lebih leluasa menyalurkan kredit dengan bunga rendah ke pelaku usaha. Ferry menegaskan bahwa secara teori, jika bunga pinjaman turun, masyarakat terdorong untuk berinvestasi maupun berbelanja sehingga roda ekonomi bisa berputar lebih cepat.

Baca Juga: Ini Dia 7 Manfaat Telur Ayam

“Secara jangka pendek, memang yang punya uang di deposito merasa dirugikan karena bunganya turun. Tapi bagi masyarakat luas, bunga kredit lebih rendah akan membantu konsumsi dan investasi. Jadi, tujuan akhirnya adalah menggerakkan ekonomi rakyat,” tambahnya.

Meski punya tujuan baik, Ferry mengingatkan bahwa pengawasan menjadi kunci utama. Ia mencontohkan pengalaman masa pandemi COVID-19, ketika program serupa tidak sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Bank justru mendapat keuntungan besar, sementara pelaku usaha kecil tidak banyak menikmati keringanan kredit.

“Kalau dana Rp200 triliun ini tidak benar-benar disalurkan ke sektor produktif, maka risikonya besar. Ekonomi bisa mandek, kredit macet meningkat, dan justru jadi beban balik ke pemerintah. Jadi, pengawasan harus ekstra ketat,” ujar Ferry.

Baca Juga: Pengawasan Real Time, Taspen Perkuat Fungsi Dewan Komisaris melalui Dashboard Digital

Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya dalam memindahkan dana kas negara Rp200 triliun ke bank Himbara adalah langkah strategis dengan dampak luas.

Jika diawasi dengan baik, kebijakan ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui kredit murah bagi usaha padat karya. Namun, jika pengawasannya lemah, manfaatnya bisa tidak terasa bagi masyarakat.

Seperti kata Ferry Irwandi, kebijakan makroekonomi selalu memiliki sebab-akibat, dan seni pemerintah adalah mengendalikan risikonya agar manfaatnya lebih besar daripada kerugiannya.

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita