AYOJAKARTA.COM - Indonesia saat ini disebut sedang dalam kondisi survival mode.
Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyatakan bahwa APBN 2026 sudah tidak punya ruang untuk kesalahan.
Raymond Chin, pengamat ekonomi, menyoroti situasi ini dan memberikan penjelasan mendalam terkait risiko dan peluang ekonomi Indonesia.
“Artinya kita enggak boleh main-main lagi. No more room buat stupid mistake,” kata Raymond Chin di chanel Youtube-nya.
Ia menambahkan, meski pemerintah sebelumnya selalu optimis dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6%, pernyataan survival mode baru muncul sekarang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi narasi ekonomi di Indonesia.
Salah satu tantangan utama adalah IHSG dan investasi asing. Raymond Chin menjelaskan, target IHSG 28.000 pada 2030 membutuhkan kenaikan hampir 300% dalam 4 tahun, setara dengan 41% per tahun tanpa gagal.
“Kalau mau optimis gua support, tapi realitanya bursa kita paling buruk di Asia,” jelas Raymond.
Ia membandingkan situasi saat ini dengan era 2002–2009 yang mengalami super cycle komoditas, yang kini sulit diulang.
Masalah lain adalah utang negara. Total utang Indonesia mencapai Rp9.637 triliun, dengan Rp599 triliun dialokasikan hanya untuk membayar bunga.
Pengamat ekonomi tersebut menekankan, sebagian besar utang ini muncul selama pandemi COVID-19 karena pemerintah perlu dana cepat melalui skema burden sharing dengan Bank Indonesia.
“Sekarang negara ngos-ngosan bayar bunga, tapi ada program yang anggarannya jumbo, ini kontradiktif,” ujar Raymond Chin.
Kondisi rupiah juga menjadi sorotan. Dengan nilai tukar menembus Rp17.200 per dolar, Indonesia mencatat depresiasi mata uang terbesar di Asia tahun ini.
Dampaknya dirasakan langsung pada daya beli masyarakat, terutama karena 74% impor Indonesia adalah bahan baku dan modal industri.
Raymond menyebut fenomena ini sebagai imported inflation, yang secara perlahan mengurangi daya beli masyarakat.
Selain itu, pria berusia 31 tahun tersebut menyoroti defisit anggaran dan prioritas belanja negara.
Meski pemerintah menyatakan sedang survival mode, beberapa program besar tetap berjalan, yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan investor asing.
“Bilang bertahan hidup tapi tetap foya-foya, ini mengirim sinyal yang membingungkan,” ujarnya.
Raymond Chin menekankan pentingnya kesadaran masyarakat. “Kalau Purbaya bilang kita survival mode, itu alarm keras. Era nabung pasif sambil berharap aman udah enggak ada,” kata Raymond.
Ia menyarankan masyarakat mengelola keuangan lebih defensif, seperti investasi emas, SBN, dan mata uang asing, untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Dengan bonus demografi yang sedang dimiliki Indonesia, Chin mengingatkan bahwa masa emas produktivitas hanya 5–10 tahun ke depan.
Keputusan ekonomi sekarang akan menentukan seberapa maksimal potensi itu dimanfaatkan.***