AYOJAKARTA.COM - Kabar kurang sedap datang dari sektor perdagangan internasional Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 hanya mencapai US$ 23,20 miliar.
Angka ini anjlok sebesar 5,73% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Penurunan ini menjadi perhatian serius karena memicu defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar.
Defisit ini merupakan momen pertama kalinya yang dialami Indonesia sejak enam tahun terakhir atau sejak tahun 2020.
Salah satu penyebab utamanya adalah lonjakan impor yang drastis hingga 22,16%, di saat performa ekspor nasional justru sedang lesu.
Rincian Komoditas Nonmigas yang Merosot Tajam
BPS mencatat bahwa penurunan ekspor ini paling besar dipicu oleh melemahnya kinerja sektor nonmigas.
Ekspor nonmigas turun 4,50% menjadi US$ 22,45 miliar. Sementara itu, ekspor migas juga jeblok hingga 31,76% menjadi US$ 760 juta.
Berikut adalah rincian beberapa komoditas utama yang menjadi biang kerok anjloknya nilai ekspor Indonesia:
- Logam Mulia dan Perhiasan/Permata: Komoditas ini mengalami penurunan paling dalam. Nilai ekspornya anjlok hingga 59,35% dan menyumbang andil penurunan sebesar 2,93%.
- Bijih Logam, Terak, dan Abu: Sektor ini merosot paling drastis hingga 99,25% dengan andil penurunan total ekspor sebesar 2,37%.
- Besi dan Baja: Komoditas andalan ini ikut turun sebesar 14,68% dengan menyumbang andil negatif 1,67%.
- Minyak Kelapa Sawit (CPO): Ikut tercatat sebagai salah satu produk utama yang mendorong penurunan nilai ekspor secara tahunan.
- Peralatan Listrik dan Logam Dasar: Peralatan listrik lainnya serta logam dasar bukan besi juga terpantau lesu.
Kontraksi di Berbagai Sektor Vital
Jika dilihat secara sektoral, hampir seluruh lini mengalami pukulan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami kontraksi paling tajam, yaitu sebesar 20,43%.
Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya ikut menyusut sebesar 7,03%.
Bahkan, sektor industri pengolahan yang biasanya menjadi motor penggerak utama ekspor nasional juga harus rela ikut turun sebesar 3,59%.
Meskipun laporan Mei 2026 ini memprihatinkan, BPS mencatat kinerja akumulatif Januari hingga Mei 2026 masih positif.
Total ekspor lima bulan pertama masih tumbuh 3,02% dengan nilai US$ 115,36 miliar.
Pertumbuhan kumulatif ini tetap ditopang oleh ekspor nonmigas ke negara tujuan utama seperti Tiongkok, yang naik sebesar 17,68%.***