Ekonomi

Imbas Konflik Timur Tengah: Ekspor RI Terhambat, Industri Masuk Zona Kontraksi

Oleh: Katarina Erlita
Ilustrasi Ekspor. (Sumber: Pixabay/Pexels)

AYOJAKARTA.COM - Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata pada perekonomian Indonesia.

Sektor perdagangan internasional nasional tengah menghadapi tekanan besar.

Berbagai tantangan logistik global kini mengancam stabilitas ekspor dan industri manufaktur dalam negeri.

Situasi memanas di luar negeri ini menciptakan efek domino yang merugikan para pelaku usaha lokal.

Produk-produk andalan Indonesia kini harus berjuang lebih keras untuk bisa menembus pasar global.

Jalur Dagang Terganggu, Harga Produk Kalah Saing

Konflik di Timur Tengah secara langsung menciptakan gangguan perdagangan internasional.

Jalur distribusi logistik laut menjadi tidak aman dan terhambat. Akibatnya, pengiriman barang dari Indonesia ke luar negeri mengalami keterlambatan yang cukup parah.

Tantangan ini diperburuk oleh penurunan daya saing harga. Biaya industri manufaktur di dalam negeri melonjak tajam karena harga bahan baku impor semakin mahal.

Ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi harga input pabrik mencapai level tertinggi.

Produsen terpaksa menaikkan harga jual, sehingga produk Indonesia kalah saing di pasar global.

Dampaknya, terjadi pelemahan permintaan baru dari negara-negara tujuan ekspor.

Gabungan antara lesunya pasar global dan pasar domestik membuat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia Juni 2026 anjlok ke level 46,9.

Angka ini membawa industri nasional masuk ke zona kontraksi terdalam dalam setahun terakhir.

Ekspor Nonmigas Anjlok dan Memicu Defisit

Melemahnya permintaan ekspor terlihat jelas dari data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026.

Nilai ekspor Indonesia tercatat turun 5,73% menjadi US$ 23,20 miliar. Penurunan paling parah disumbang oleh sektor nonmigas yang merosot 4,50%. Berikut adalah beberapa komoditas utama yang ekspornya anjlok tajam:

  • Bijih logam, terak, dan abu: Merosot drastis hingga 99,25%.
  • Logam mulia dan perhiasan: Turun signifikan sebesar 59,35%.
  • Besi dan baja: Terkontraksi sebesar 14,68%.

Penurunan ekspor ini, bersamaan dengan melonjaknya impor sebesar 22,16%, memicu defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar.

Ini adalah catatan defisit pertama yang dialami Indonesia dalam enam tahun terakhir sejak 2020.

Ancaman PHK di Depan Mata

Kondisi pabrik yang sepi pesanan berdampak langsung pada nasib para pekerja.

Industri manufaktur mulai mengurangi aktivitas produksi dan berujung pada penurunan penyerapan tenaga kerja.

Banyak produsen terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan mengurangi jumlah karyawan pada Juni 2026.

Jika tekanan ekspor akibat konflik Timur Tengah ini terus berlanjut, ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara masif akan mengintai sektor industri manufaktur.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita