AYOJAKARTA.COM -- Ketika mentari pagi mulai menyapa Pasar Cibuaya, Karawang, seorang perempuan berusia 60-an tahun tampak sibuk menata tumpukan pakaian. Tangannya yang cekatan tak pernah berhenti merapikan dagangan, gamis, kaus anak, hingga daster warna-warni.
Dari lapak sederhana itu, Popon Fauziah bukan hanya membangun usaha, tapi juga menanam harapan untuk keluarga, lingkungan, dan masa depan yang lebih baik.
Namun, kisah hidup Ibu Popon jauh melampaui meja dagangannya. Di samping rumahnya yang sederhana, berdiri juga sebuah taman kanak-kanak dan masjid kecil yang menjadi pusat kegiatan warga sekitar.
“Itu TK Al Furqon, saya yang dirikan sendiri sekitar tahun 2007. Saya juga yang jadi kepala sekolah, guru, ya semua dikerjakan sendiri waktu awal-awal,” ujarnya dengan nada bangga namun bersahaja, pada 7 April 2025.
Popon tak hanya berdagang. Ia juga seorang pendidik.
Sejak lama, ia membuka pengajian di Masjid Al Furqon yang letaknya berdampingan dengan rumahnya untuk anak-anak dan ibu-ibu sekitar. Ia mengajarkan huruf-huruf hijaiah, tajwid, dan nilai-nilai hidup yang ia pelajari dari pengalaman panjangnya sebagai istri sopir angkot dan ibu dari 6 anak.
“Saya pikir, kalau tidak ada yang mulai ngajar ngaji di lingkungan sini, anak-anak bisa jauh dari agama. Jadi saya mulai dari rumah, lama-lama bangun masjid kecil di sebelah, terus bikin TK supaya anak-anak bisa sekolah sejak dini,” ujarnya sambil mengusap pelan jilbabnya.
Kegigihan Ibu Popon membesarkan 6 anaknya (semuanya berhasil menempuh pendidikan tinggi) terasa semakin luar biasa ketika mengingat latar belakangnya.
Ia dan suaminya, almarhum Nandang Bahtiar, memulai segalanya dari nol. Keduanya sempat berpindah-pindah tempat tinggal karena usaha yang tak berhasil, sebelum akhirnya menetap di Cibuaya pada 1994.
“Dulu saya bantu jaga toko emas. Baru mulai jualan baju itu sekitar tahun 2000, pas keadaan ekonomi sedang sulit. Tapi saya percaya, asal tekun, pasti ada jalan,” sambungnya.
Perjalanan berdagangnya dibantu oleh program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Saya sering dapat bantuan dari BRI, tapi lupa yang sebelum-sebelumnya itu program apa, baru tahu ada yang namanya KUR itu belakangan,” katanya.
Ia menyebut dua KUR yang paling membantunya didapatkan tahun 2019 sebesar Rp10 juta dan tahun 2021 sebesar Rp20 juta. Keduanya ia lunasi tepat waktu.
“Uangnya saya pakai buat tambah stok, apalagi pas mau Ramadan. Biasanya orang beli baju baru, jadi saya harus siap,” jelasnya.
Meskipun suaminya telah meninggal dunia pada 2024, Ibu Popon tetap berjualan seorang diri hingga kini.
Setiap hari ia membuka lapak sejak pagi, dan pulang menjelang sore. Bila malam tiba, waktunya dihabiskan untuk mengajar mengaji dan mengelola kegiatan TK kecilnya yang masih aktif menerima murid dari kampung sekitar.
Anak-anaknya, yang kini telah bekerja dan berdikari, selalu mengirimkan uang bulanan untuk dana tambahan.
“Alhamdulillah, anak-anak tidak lupa. Ada yang kerja kantoran, ada yang dagang juga. Mereka kirim tiap bulan, biar saya tidak terlalu capek,” ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Namun, baginya, kebahagiaan tidak terletak pada jumlah uang.
“Saya tidak ingin kaya raya berlebihan, tidak mimpi aneh-aneh. Cuma ingin usaha ini terus berjalan, anak-anak sehat, dan bisa terus bantu masyarakat lewat TK sama masjid,” katanya pelan.
Kisah Ibu Popon sejalan dengan strategi BRI dalam menyalurkan KUR. Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak semata-mata dinilai dari besaran nominalnya, tetapi dari dampaknya yang berkelanjutan.
“Kami percaya, semakin luas akses pembiayaan KUR, semakin besar peluang UMKM untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi nasional,” ujar Supari dalam keterangan resmi yang diterima Ayojakarta.com.
Baca Juga: Bertahan, Berdagang Pakaian, dan Membesarkan Harapan dengan KUR BRI di Cibuaya
Komitmen BRI dalam mendukung UMKM pun tercermin dalam angka. Sejak tahun 2015 hingga Februari 2025, total penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.285 triliun kepada lebih dari 43 juta debitur. Capaian ini menjadikan BRI sebagai pemain utama dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia.
Di tengah kesederhanaan dan usia yang tak lagi muda, Popon Fauziah terus menyalakan pelita harapan dari tiga tempat, di pasar, di masjid, dan ruang kelas TK. Ia membuktikan bahwa pengabdian bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seorang ibu pedagang yang tak pernah lelah memberi manfaat peran. (*)