AYOJAKARTA.COM – Sempat menjadi primadona kebutuhan sandang, Pasar Tanah Abang perlahan tumbang usai e-commerce menghadang.
Layanan banjir diskon dan bebas ongkir yang ditawarkan sejumlah e-commerce membuat pedagang tanah abang menjadi tersingkir.
Geliat ekonomi yang semula banyak berputar di pasar tanah abang, sejak pandemi Covid dan e-commerce muncul mulai mengubah suasana pasar tak lagi terdengar.
Ribuan pedagang yang menggantungkan hidup di pasar terbesar se Asia Tenggara perlahan mulai gulung tikar.
Sepinya pembeli membuat pedagang meminta agar Tiktok Shop yang dianggap menjadi akar persoalan untuk segera dihentikan.
Dengan berbagai pertimbangan, keinginan pedagang kemudian mendapat reaksi positif dari kementerian perdagangan.
Baca Juga: Pedagang Tanah Abang Minta E-Commerce Ditutup, Mendag Zulhas: Tidak Mungkin!
Permasalahan pedagang offline seringkali muncul akibat banyaknya tuntutan peraturan dari perizinan, sewa tempat dan sejenisnya sehingga menyebabkan harga lebih tinggi.
Sementara banyak juga konsumen yang lebih senang belanja online karena tidak harus terkena macet, parkir dan cukup dilakukan dengan jemari.
Adanya perbedaan minat tersebut yang kemudian mendatangkan perbedaan antara layanan belanja daring atau online dengan luring atau offline.
Baca Juga: Respons Menohok Mendag Zulhas Saat Pedagang Tanah Abang Minta E-Commerce Ditutup: Ikut Shopee Lah
Terlebih lagi, di dalam layanan belanja online terdapat pendapatan bruto per tahun yang angka totalnya mencapai $51,9 miliar atau sekitar Rp770 iriliun.
Dari total pendapatan e-commerce di seluruh Asia Tenggara, Indonesia tercatat sebagai negara dengan sumbangsih terbesar pembelian dengan total mencapai 52 persen.
Dari $51,9 miliar atau sekitar Rp770 triliun rupiah tersebut, Shopee mendapat keuntungan tertinggi dengan nilai mencapai 36 persen atau Rp278,5 triliun.
Usai Tiktok Shop dihapus, pedagang luring kembali meminta agar e-commerce lain juga dibekukan agar profit pedagang bisa kembali mengalami peningkatan.
Sehubungan dengan permintaan pedagang untuk menutup pasar digital, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan atau Zulhas memberi jawaban.
Menurut Zulhas, layanan belanja online merupakan bagian dari perkembangan zaman sehingga harus disikapi pedagang dengan cara beradaptasi.
“Nggak bisa dihindari, karena memang platform digital itu zaman kok, yang nggak mau ikut nanti jadi Komodo, Satwa Langka,” jelas Zulhas.
Karena itu Zulhas meminta agar pedagang berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman agar tetap mampu bertahan.
“Pasar sayuran aja sekarang online, apalagi yang menjual barang-barang komersial, selain online juga offline,” imbuhnya.
Zulhas menambahkan, Kementeriannya akan melakukan upaya regulasi untuk membantu tumbuhnya perekonomian dalam negeri.
“Saya terima kasih pada Shopee ya, sudah tidak impor lagi, tapi menjual produk-produk lokal,” pungkasnya dikutip Ayojakarta pada Kamis, 12 Oktober 2023 dari Kompas TV. ***