AYOJAKARTA.COM -- Dari Bandung, sebuah brand fashion lokal bernama Dama Kara terus menarik perhatian berkat pendekatan uniknya dalam menciptakan karya busana yang tidak hanya modis, tetapi juga sarat makna.
Sejak berdiri pada 2020, Dama Kara menjadikan teknik kriya tradisional Indonesia sebagai fondasi dalam setiap produknya, seperti batik cap, bordir, tusuk jelujur, dan tenun.
Estetika lokal ini dikemas dalam desain yang minimalis dan kekinian, menjadikan koleksinya relevan untuk berbagai suasana, dari santai hingga acara resmi.
"Kita ada bordir, ada juga jahit jelujur, dan juga tenun. Jadi untuk range produknya itu kita konsentrasinya di sarimbit atau family set. Jadi di sini bisa dilihat produknya itu ada yang untuk dewasa, laki-laki dan perempuan, juga untuk anak-anaknya," ungkap Rima Insania, Commercial Manager Darma Kara, kepada ayojakarta.com pada Februari 2025 lalu.
Baca Juga: Suami Keren yang Tetap Sat-Set Urus Rumah Tangga meski Hobi Game Online
Memang itulah salah satu ciri khas Dama Kara adalah fokus pada koleksi sarimbit atau family set, yang menyediakan busana untuk pria, wanita, hingga anak-anak.
Lantaran konsep ini, Dama Kara menjangkau pasar yang lebih luas dan memperkenalkan batik sebagai pilihan busana sehari-hari yang tetap stylish.
"Jadi koleksi di Dama Kara itu dibagi menjadi dua (Red: komersil dan kolaboratif). Untuk yang kita berkolaborasi dengan anak berkebutuhan khusus ini, sifatnya kita akan profit sharing dengan yang bersangkutan," tuturnya.
Baca Juga: Bertahan, Berdagang Pakaian, dan Membesarkan Harapan dengan KUR BRI di Cibuaya
Kekuatan Dama Kara rupanya tidak hanya terletak pada desain atau teknik kriya. Brand ini juga memiliki visi sosial yang kuat. Mereka menjalin kemitraan dengan perajin dari Solo dan Pekalongan, serta memberdayakan ibu-ibu penjahit dari Garut, Soreang, dan Cileunyi.
Selain itu, Dama Kara menjalin kerja sama dengan yayasan yang mendampingi penyandang disabilitas dan anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka diajak untuk terlibat dalam proses desain, mulai dari menggambar motif hingga menjahit tusuk jelujur, yang kemudian dikembangkan menjadi produk siap pakai.
Kolaborasi ini tidak hanya memberi ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi mereka melalui sistem bagi hasil. Beberapa hasil karya, seperti tusuk jelujur buatan tangan penyandang tunarungu, telah menjadi bagian penting dari koleksi Dama Kara, menampilkan keindahan dalam keunikan dan dedikasi.
"Sebenarnya yang membedakan kita itu, bukan hanya memberdayakan perajin-perajin batik di Solo dan Pekalongan, tapi kita ini sebenarnya bekerja sama dengan yayasan-yayasan yang menaungi para disabilitas. Mereka biasanya membuat gambar lalu kita tuangkan menjadi sebuah desain," sambung Rima.
Seiring waktu, brand ini pun mulai memperluas jangkauannya ke pasar internasional.
Meski produksi masal masih menjadi tantangan, produk Dama Kara telah berhasil menembus pasar Korea Selatan dan Prancis lewat berbagai ajang pameran, terutama yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai mitra pembinaan UMKM.
Partisipasi dalam BRI UMKM Expo ini memberi peluang bertemu dengan pembeli wholesale maupun ritel dari luar negeri.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari lembaga keuangan dan konsumen yang mengapresiasi orisinalitas produk, menjadi energi tambahan bagi Dama Kara untuk terus tumbuh.
Baca Juga: 2 Cerita UMKM Kuliner Beda Kota yang Sama-Sama Membangun Masa Depan dengan BRImo
Dibuat dengan bahan yang nyaman, desain yang unik namun sederhana, serta nilai eksklusivitas karena produksinya terbatas, Dama Kara mampu menarik hati para pecinta fashion yang mencari lebih dari sekadar busana. Sebuah cerita, makna, dan kontribusi sosial. (*)