Fashion

Dari Bandung ke Paris, UMKM Dama Kara Tunjukkan Sisi Elegan Kreativitas yang Melewati Keterbatasan

Oleh: Admin Selasa 29 Apr 2025, 20:46 WIB
Rima Insania (paling kiri) Commercial Manager Darma Kara.

AYOJAKARTA.COM -- Di balik gemerlap Paris Fashion Show 2024, ada kisah inspiratif dari sebuah brand lokal asal Bandung yang membuktikan karya tradisional Indonesia bisa bersanding dengan tren global, yakni Dama Kara.

Mengusung misi lebih dari sekadar fesyen, Dama Kara menjelma menjadi representasi kekuatan budaya, keberlanjutan, dan pemberdayaan sosial. 

Dalam debutnya di Paris, mereka tak hanya tampil memukau lewat busana batik modern, tetapi juga membawa koleksi unik berupa sepatu dan sandal berbahan limbah kain batik. 

Konsep sustainable fashion yang mereka usung mendapat sambutan hangat dari pasar Eropa yang kini semakin peduli pada produk ramah lingkungan dan buatan tangan (handmade).

Namun, pencapaian ini tak datang dalam semalam. Sejak berdiri pada 2020, Dama Kara konsisten membangun jati diri sebagai brand yang mengangkat teknik kriya tradisional Indonesia, seperti batik cap, bordir, tenun, dan tusuk jelujur. 

Tidak hanya itu, mereka juga mengembangkan koleksi sarimbit atau family set, sebuah konsep busana serasi untuk seluruh anggota keluarga yang cocok digunakan di berbagai kesempatan.

"Sejak awal berdiri, sebenarnya tantangan Dama Kara itu dari motifnya. Jadi kita itu punya motif namanya Gayatri dengan garis dua. Itu adalah motifnya Dama Kara. Mungkin motif ini dianggap tidak konvensional, lebih berjiwa muda, sehingga waktu kita banyak demand ke perajin jadi banyak yang meniru. Jadi mungkin kalau kita lihat di e-commerce itu banyak banget produk-produk yang motifnya seperti Dama Kara, tapi sebenarnya yang memproduksi bukan kita," papar Rima Insania, Commercial Manager Darma Kara, saat diwawancara oleh ayojakarta.com pada Februari 2025 lalu.  

Baca Juga: Dama Kara Merangkai Warisan Budaya dan Pemberdayaan Sosial dalam Balutan Fashion Lokal

Selain motif unik yang tidak konvensional, ihwal yang membuat Dama Kara berbeda adalah caranya merajut bisnis dengan nilai-nilai sosial yang kuat. Mereka memberdayakan perajin lokal dari Solo, Pekalongan, Garut, Soreang, hingga Cileunyi.

Para ibu rumah tangga dan pengrajin kampung dilibatkan dalam proses produksi, sehingga brand ini tidak hanya mengangkat budaya, tetapi juga menghidupkan roda ekonomi masyarakat lokal.

Lebih jauh, Dama Kara membuka ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk turut berkarya. 

Berkolaborasi dengan yayasan, mereka mengajak anak-anak disabilitas berkontribusi dalam tahap desain. Hasil gambar atau tusuk jelujur buatan tangan mereka kemudian dijadikan bagian dari produk Dama Kara. 

Inklusivitas ini tidak hanya memberi peluang pada kelompok rentan, tetapi juga menambah nilai unik pada setiap karya yang dihasilkan.

"Jadi koleksi di Dama Kara itu dibagi menjadi dua (komersial dan kolaboratif). Untuk yang kita berkolaborasi dengan anak berkebutuhan khusus ini, sifatnya kita akan profit sharing dengan yang bersangkutan," sambungnya.

Semua langkah progresif ini mendapatkan dorongan signifikan berkat keikutsertaan Dama Kara dalam program pembinaan UMKM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). 

Lewat BRI, Dama Kara mendapatkan akses ke berbagai pelatihan, promosi, serta dukungan permodalan. Tidak sedikit peluang emas seperti partisipasi dalam expo tingkat nasional maupun internasional datang melalui pintu BRI, termasuk kesempatan tampil di Paris Fashion Show.

Berkat dorongan dari BRI, Dama Kara tidak hanya mampu menguatkan branding, tetapi juga memperluas jangkauan pasar, dari konsinyasi di dalam negeri hingga pengiriman produk ke Korea Selatan dan Perancis. 

Meskipun skalanya belum besar, langkah kecil ini menunjukkan potensi luar biasa dari UMKM lokal jika diberi ruang berkembang.

Baca Juga: Bertahan, Berdagang Pakaian, dan Membesarkan Harapan dengan KUR BRI di Cibuaya

"Mudah-mudahan BRI tetap support UMKM lokal, bisa membawa nama UMKM lokal ke seluruh penjuru Indonesia. Kalau ada kesempatan bisa juga memberangkatkan UMKM lokal ke tingkat internasional, supaya masyarakat dunia lebih tahu kalau UMKM lokal secara kualitas bisa disandingkan dengan merek global," tutup Rima. (*)

Reporter Admin
Editor Aris Abdulsalam