Gaya Hidup

Titik Nadir Batik Tulis Warna Alami di Desa Wukirsari yang Telah Diakui UNESCO

Oleh: Katarina Erlita Sabtu 08 Nov 2025, 23:56 WIB
Istijanah sedang membuat batik tulis di pendopo Kampung Batik Giriloyo. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Katarina Erlita)

AYOAJAKARTA.COM - Fajar mulai menyapa perbukitan Imogiri. Dari kejauhan terdengar pelan suara langkah di antara embun pagi yang menempel di rerumputan. Di balik kabut tipis, sosok perempuan berkerudung membawa beberapa lembar kain mori putih dalam gendongannya. Dialah Istijanah (56), pembatik tulis dari Padukuhan Karang Kulon, Kelurahan Wukirsari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sudah puluhan tahun tangannya menari di atas kain, menorehkan malam panas dengan canting kecil, menciptakan garis demi garis yang menjelma jadi motif penuh makna. Hari itu, seperti hari-hari lainnya, ia bergegas menuju pendopo Kampung Batik Giriloyo, pusat denyut kehidupan para perajin batik tulis Wukirsari.

“Kalau tidak segera ke pendopo, nanti banyak tamu keburu datang,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Hujan yang turun hampir setiap hari di akhir Oktober 2025 ini tidak pernah ia jadikan alasan untuk berhenti bekerja. “Rezeki tidak datang kalau kita diam saja,” tambahnya pelan.

Sejak pukul delapan pagi, pendopo Giriloyo telah ramai. Beberapa perempuan tampak sibuk menyiapkan kain, mencampur pewarna, hingga menjemur hasil batik yang telah dicuci. Bau malam panas bercampur dengan aroma kopi hitam yang baru diseduh.

Setelah sampai di pendopo, Istijanah menunduk tekun di depan kain mori. Dengan tangan yang cekatan, ia mulai membuat pola menggunakan malam cair. Saking asyiknya membatik, malam panas itu tak terasa menetes di ujung jarinya “Panas sih, tapi sudah biasa,” ujarnya ketika tetesan malam sempat menyentuh kulit jarinya.

Selain membatik, perempuan empat anak ini juga kerap melayani wisatawan yang datang untuk belajar membatik. Kampung Batik Giriloyo merupakan bagian dari program Desa Sejahtera Astra, kini telah menjelma jadi magnet wisata budaya. Tahun 2024, desa ini bahkan meraih penghargaan The Best Tourism Village dari UN Tourism di Cartagena de Indias, Kolombia.

“Bule-bule sering datang ke sini,” tutur Istijanah sambil terkekeh. “Bahasa Inggris saya pas-pasan, tapi yang penting I dong, you dong (saya paham, kamu paham).”

Di hadapan para wisatawan, ia menjelaskan dengan sabar setiap langkah pembuatan batik, mulai dari menyiapkan pola, mencelupkan kain ke larutan warna, hingga tahap pelorotan untuk menghilangkan malam.

Sementara itu, di galeri yang berdiri tak jauh dari pendopo, hasil karya para perajin terpajang rapi. Ada berbagai kain batik tulis dengan motif kawung, parang, truntum, dan wahyu tumurun dijual dengan harga mulai dari satu juta hingga tiga setengah juta rupiah.

It’s really beautiful (Ini sangat indah),” ujar Aya Beu Athmam, turis asal Belanda yang siang itu membeli udeng bermotif kawung dengan kombinasi wahyu tumurun.

“Menurutku budaya membatik itu sangat indah. Aku terpana melihat orang-orang di sini bisa menciptakan sebuah karya seni. Ternyata untuk membuatnya susah juga ya, aku tadi sempat mencobanya. Dan aku tertarik untuk membeli yang satu ini karena aku suka motif dan warnanya,” kata Aya.

Ketika Warna Alam Mulai Meredup

Di balik keindahan warna dan motif itu, ada kegelisahan yang mengendap. Batik tulis warna alami yang menjadi kebanggaan Wukirsari, kini makin jarang dibuat.

Nur Ahmadi, Ketua Pengelola Desa Wisata Kampung Batik Giriloyo, mengakui hal tersebut. “Hampir 70 persen pembeli sekarang lebih suka batik warna sintetis,” ujarnya. “Warnanya lebih mencolok, tampilannya jreng. Sedangkan warna alami itu lembut, kalem.”

Istijanah menunjukkan batik tulis warna alami yang ada di Galeri Batik Giriloyo di Desa Wukirsari. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Katarina Erlita)

Pesona batik tulis warna alami kini memang sudah mulai tergerus dengan bahan sintetis. Alhasil, para pengrajin batik di Desa Wukirsari pun juga lebih banyak memproduksi batik tulis warna sintetis sesuai dengan permintaan pasar.

Istijanah sendiri mengaku terakhir kali membuat batik tulis warna alami pada tahun 2024. “Terakhir bikin pas ada pelatihan pembuatan pasta indigofera di Jogja. Sulit cara bikinnya, tanaman indigofera ini harus dikunci dengan gula jawa agar warna biru bisa bertahan di kain. Perlu pasta indigofera satu kilo dan gula jawa satu kilo untuk memunculkan warna biru di kain batik,” ujarnya.

Indigofera adalah tanaman dari keluarga leguminosa (kacang-kacangan) yang dikenal karena manfaatnya sebagai pakan ternak bergizi tinggi dan juga sebagai pewarna alami biru untuk tekstil seperti batik dan tenun.

Untuk menghasilkan satu kilogram pasta indigofera, dibutuhkan proses panjang, mulai dari perendaman daun, fermentasi, hingga pengendapan zat biru alami.

Selain indigofera yang menghasilkan warna biru, pembatik Wukirsari juga memakai limbah kayu mahoni untuk warna cokelat kemerahan, daun mangga untuk hijau kekuningan, serta kulit buah jelawe untuk kuning keemasan.

Namun proses itu tidak hanya memakan waktu, tapi juga tenaga dan cuaca yang bersahabat. “Kalau mendung, hasil warna tidak keluar sempurna. Bisa sampai tiga puluh kali celup baru jadi,” tambahnya.

Jejak Batik Tulis di Wukirsari

Sejarah batik Wukirsari terbentang panjang hingga ke abad ke-17. Pada tahun 1634, warga setempat sudah menjadi buruh batik putihan, yakni pembatik yang hanya membuat pola tanpa melakukan pewarnaan. Kala itu, bahan dan proses pewarnaan dikendalikan para juragan batik dari Yogyakarta.

Interaksi antara masyarakat Imogiri dan pihak Keraton mulai terjalin saat pembangunan kompleks makam raja-raja Mataram di perbukitan Imogiri. Beberapa kerabat keraton memberi pekerjaan kepada warga sekitar, terutama perempuan, untuk menjadi buruh nyanthing.

Dari sinilah, tradisi membatik mengalir turun-temurun. Dan bagi perempuan Wukirsari, membatik bukan hanya mata pencaharian, melainkan cara menjaga warisan leluhur.

Gempa bumi besar pada tahun 2006 sempat mengguncang Yogyakarta dan meluluh lantahkan sebagian besar penghidupan masyarakat. Namun dari reruntuhan itu pula lahir babak baru bagi batik Wukirsari.

“Setelah gempa, kami banyak dapat pelatihan,” kenang Nur Ahmadi. “Jogja Heritage Society dan Institute for Research & Empowerment mendampingi kami hampir dua tahun. Kami belajar pewarnaan, pemasaran, hingga manajemen kelompok.”

Sejak saat itu, Wukirsari tak lagi sekadar buruh putihan. Mereka telah menjadi produsen mandiri dari membuat pola, mewarnai, hingga menjual hasilnya.

Industri batik di Daerah Istimewa Yogyakarta pun terus berkembang setelah pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Kini batik tulis hasil karya warga desa Wukirsari pun telah diakui sebagai warisan budaya.

Kini, terdapat 643 pembatik aktif yang tergabung dalam 12 kelompok di tiga dusun, yaitu Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon.

Perempuan dan Canting, Sebuah Simbol Kehidupan

Hampir 95 persen pembatik Wukirsari adalah perempuan. Sisanya, laki-laki yang umumnya terlibat di bagian pewarnaan yang membutuhkan tenaga fisik lebih besar.

Rata-rata usia pembatik kini di atas 40 tahun, sebuah tanda bahwa generasi penerus mulai berkurang. Bagi Agus Ismoyo, seniman batik dan pemerhati budaya yang sudah puluhan tahun menggeluti seni batik kontemporer, hal ini mencerminkan sejarah panjang peran perempuan dalam dunia batik.

“Dalam kosmologi Jawa, empu itu berasal dari kata perempuan. Laki-laki itu dari dahulu tugasnya berburu, sedangkan perempuan bertugas mengurus rumah. Jadi perempuan punya banyak waktu untuk berkegiatan di rumah, termasuk membatik,” ungkap Ismoyo.

Pengrajin batik di Giriloyo melakukan proses kurasi batik tulis untuk menentukan harga. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Katarina Erlita)

Perempuan seperti Istijanah adalah penjaga nyala api tradisi. Setiap goresan cantingnya bukan hanya karya, tapi juga doa untuk kehidupan yang lebih baik.

“Harapannya, anak-anak muda mau belajar. Kalau bukan kita yang meneruskan, siapa lagi?” katanya sambil menatap langit sore yang mulai jingga.

Namun di balik idealisme itu, realitas ekonomi kerap jadi tantangan berat. Harga batik tulis warna alam yang bisa mencapai jutaan rupiah sulit dijangkau oleh daya beli masyarakat. Terutama bagi warga Yogyakarta yang Upah Minimum Kabupaten (UMK) di tahun 2025 ini hanya Rp2.655.041. Untuk membeli batik tulis yang harganya jutaan tentu kesulitan.

Kondisi ini memunculkan dilema bagi para pengrajin batik tulis di Desa Wukirsari, antara mempertahankan keaslian dan kelestarian alam, atau bertahan hidup dengan menyesuaikan tren pasar.

Batik warna alam seolah berada di titik nadir yang terjepit di antara modernitas dan kelestarian, antara estetika dan ekonomi.

Alam Mulai Menjerit

Pergeseran dari pewarna alami ke sintetis bukan hanya soal pasar, tapi juga soal lingkungan. Pewarna sintetis, yang ditemukan oleh ahli kimia Inggris William Henry Perkin pada 1856, menjadi tonggak revolusi industri tekstil dunia, namun dengan harga mahal bagi alam.

Bahan kimia dalam pewarna sintetis, terutama yang mengandung logam berat, dapat mencemari air dan tanah. Dalam jangka panjang, residu ini sulit terurai dan berdampak pada ekosistem sungai serta kesehatan manusia.

Dalam buku #Reset Indonesia karya Dandhy Laksono, disebutkan hasil ekspedisi Sungai Brantas yang menunjukkan ikan-ikan di sungai tersebut mengalami fenomena intersex yakni perubahan hormon akibat pencemaran limbah industri. Ikan jantan menjadi steril, tidak bisa lagi membuahi betina.

“Kalau ikan saja bisa berubah karena racun industri, manusia pun bisa kena dampaknya. Itu baru salah satu contoh dampak negatif dari limbah. Maka kesadaran untuk menggunakan bahan yang ramah lingkungan memang harus ditingkatkan lagi,” kata Edia Rahayuningsih,  Guru Besar Bidang Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Teknologi yang berkaitan dengan pewarna alami kini sudah semakin maju. Pengrajin tidak harus repot membuat warna dari awal karena sudah ada yang tersedia dalam bentuk bubuk. Pertanyaannya, apakah mereka mau menerima inovasi ini atau tidak?” sambungnya lagi.

Menurut Edia, dibutuhkan ekosistem yang berkelanjutan untuk bisa mengembangkan batik tulis warna alam yang ramah lingkungan. Dalam hal ini tentunya juga diperlukan dukungan dari pemerintah dan pihak terkait untuk mewujudkannya.

Meski berada di persimpangan sulit, masih ada harapan. Beberapa komunitas kini berusaha menghidupkan kembali tren eco-batik dengan pendekatan ramah lingkungan. Generasi muda mulai melirik konsep slow fashion dan green living, membuka peluang baru bagi batik warna alam.

Sementara itu, Agus Ismoyo, menilai bahwa pelestarian batik warna alam harus dimulai dari kesadaran kolektif. “Batik bukan sekadar kain. Ia adalah kisah hidup, tentang keseimbangan manusia dan alam. Kalau keseimbangan itu hilang, kita kehilangan jati diri,” ujarnya.

Upaya kolaborasi antara perajin, desainer, dan lembaga pariwisata sebenarnya diperlukan untuk memperluas pasar dan menunjang penjualan batik tulis warna alami di Giriloyo. Akan tetapi, Dinas UMKM Bantul saat ini mengaku masih terkendala dengan anggaran, terlebih belakangan ini Kementerian Keuangan memang sedang gencar melakukan pemotongan Transfer ke Daerah (TKD).

Akhir yang Belum Usai

Menjelang sore, ketika matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Imogiri, Istijanah menutup pekerjaannya hari itu. Di pangkuannya terbentang selembar kain batik setengah jadi, dengan motif Prabu Anom, simbol pengharapan untuk pemimpin muda agar bijak dan dapat memelihara budaya luhur.

Istijanah merampungkan batik motif Prabu Anom di pendopo Kampung Batik Giriloyo. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Katarina Erlita)

Prabu Anom itu artinya raja muda,” ujarnya lembut. “Saya percaya, batik warna alam masih punya harapan untuk bangkit, asalkan para pemimpin dan pemangku kebijakan mau berupaya agar budaya luhur tetap lestari.”

Di tengah gempuran tren sintetis dan pasar yang cepat berubah, batik warna alam Wukirsari masih berjuang mempertahankan napasnya, napas yang membawa aroma tanah, air, dan tangan-tangan perempuan yang tak pernah menyerah.

Karena sejatinya, batik bukan sekadar kain indah, melainkan cermin kesetiaan manusia pada alam dan sejarahnya sendiri.

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita