Gaya Hidup

Dekat Realita, Terjerat Pinjol hingga Perjanjian Iblis: Film Horor "Aku Harus Mati" Siap Menghantui Bioskop 2 April 2026

Oleh: Birny Birdieni Jumat 27 Mar 2026, 06:39 WIB
Film Aku Harus Mati dari Rumah produksi Rollink Action mengangkat isu sosial yang sangat dekat dengan realita masyarakat urban saat ini yang dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026. (Foto: Dok Birny Birdieni)

AYOJAKARTA.COM-- Demi mengejar kemewahan semu, Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik terjerumus dalam lingkaran setan hutang pinjaman online (pinjol) dan paylater yang melilit hidupnya.

Dalam keputusasaan untuk menemukan kembali jati dirinya, Mala memutuskan pulang ke panti asuhan tempat ia dibesarkan.

Di sana, ia kembali bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron), pemilik panti yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.

Namun, ketenangan yang dicari Mala justru menjadi awal dari petaka. Setelah mata batinnya terbuka secara misterius, Mala terlempar ke dalam serangkaian pengalaman mistis yang mengerikan.

Baca Juga: Soal Rencana Hemat BBM yang Dicanangkan Pemerintah, Ini Respons Gubernur Pramono Anung

Mala dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang asal-usulnya dan rahasia kelam keluarganya, sebuah perjanjian iblis yang menjadikan nyawa orang-orang terdekat sebagai tumbal kesuksesan.

"Aku Harus Mati" membawa penonton pada klimaks yang menyesakkan dada. Mala harus menghadapi pilihan mustahil yang tidak bisa ia tolak, karena ada nyawa yang harus dibayar.

"Film ini adalah refleksi dari fenomena 'jual jiwa demi harta' yang marak di sekitar kita. Kami ingin memperlihatkan bahwa teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar," ujar Sutradara film, Hestu Saputra di acara press conferencenya, Kamis 26 Maret 2026.

Baca Juga: Efek Tarif Hanya Rp1, Penumpang Transjakarta Melonjak Tajam Saat Lebaran 2026

Sebagai tim kreatif, lanjut dia, dirinya memiliki keresahan sosial yang sama bahwa eror pinjaman online dan media sosial hampir terlihat seperti hal yang biasa. "Padahal di sekitar kehidupan kita, masalah ini sangat banyak dan menjadi persoalan bersama," tegasnya.

Karena itulah Hestu ingin menarasikan bagaimana normalisasi terhadap korban ini terjadi. Keresahan tersebut menjadi motivasi kuat untuk membuat film "Aku Harus Mati".

Dalam film ini ditampilkan berbagai simbol, seperti pejabat memakai baju oranye, debt collector, dan situasi orang yang terjebak hutang pinjaman online.

"Semua itu menggambarkan kegelisahan masyarakat terhadap hutang yang sudah dianggap hal biasa, padahal banyak orang tidak tahu dampak di belakangnya," tegas dia.

Normalisasi ini terjadi tidak hanya di kalangan menengah bawah, tetapi juga menengah atas. Salah satu isu yang diangkat adalah tentang “menjual jiwa demi harta”.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Usulkan WFH 1 Hari Dalam Sepekan Tiap Jumat, Ini Alasannya

Film dari Rumah produksi Rollink Action ini mengangkat isu sosial yang sangat dekat dengan realita masyarakat urban saat ini yang dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026.

Cerita yang ditulis oleh Aroe Ama dan diproduseri oleh Eksekutif Produser Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta diarahkan oleh sutradara bertangan dingin Hestu Saputra, "Aku Harus Mati" menawarkan kengerian yang bukan sekadar teror kasat mata, melainkan gelapnya ambisi manusia demi validasi sosial yang juga merupakan film dengan pesan psikologi dalam kehidupan.

“Aku Harus Mati” adalah film Horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern jaman sekarang fenomena Jual Jiwa Demi Harta, banyak masyarakat modern sekarang rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol, paylater, dan lain-lain,” ujar Eksekutif Produser, Irsan Yapto.

Baca Juga: Ayo Media Network Perkenalkan Website ISMN untuk Perkuat Ekosistem Homeless Media

Faktanya, lanjut Irsan bahwa banyak manusia merasa wajib memenuhi ekspektasi sehingga mereka terjerat masalah keuangan demi valisasi. Dia berharap pesan dari film ini dapat didistribusikan secara massal agar bisa menjangkau banyak orang.

Alasan kenapa memilih film horor, menurutnua, dari riset data selama 3 tahun, genre horor mencapai sekitar 30 persen. "Artinya, pesan yang ingin disampaikan memiliki peluang besar untuk terserap oleh penonton melalui genre tersebut," jelas dia.

Sementara itu, pemeran Mala, Hana Saraswati menyebut kalau tema “menjual jiwa demi harta” diangkat karena sangat dekat dengan kondisi masyarakat sekarang. Kata “jual” sendiri memiliki konotasi yang kuat.

Baca Juga: Jelang Puncak Arus Balik, Terminal Lebak Bulus Mulai Dipadati Pemudik

"Banyak orang sebenarnya hanya mencari ketenangan batin, tetapi justru melakukan hal-hal yang tidak perlu, seperti pinjaman online, berbohong kepada orang lain, bahkan pesugihan," jelas dia.

Dia menyebut kasus-kasus seperti ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. "Kesuksesan seharusnya dimulai dari proses awal. Jika menggunakan jalan pintas, kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya kita lakukan dan siapa yang nantinya akan menagih," pungkasnya.

Reporter Birny Birdieni
Editor Birny Birdieni