Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Anak Remaja Tiba-tiba Mogok Bicara? Ini Penjelasan Mutisme Selektif dari Pakar Psikologi

Oleh: Muhammad Imansyah Senin 08 Jul 2024, 14:12 WIB
Tips menghadapi anak yang tiba-tiba mogok bicara menurut pakar

AYOJAKARTA.COM - Mutisme selektif (selective mutism) adalah gangguan kecemasan dimana seseorang tidak dapat berbicara dalam situasi sosial tertentu.

Seringnya dialami seorang anak dan remaja, padahal mampu berbicara dalam situasi sosial lain.

Dikutip dari situs NHS.uk, kondisi ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan, jika tidak diobati, dapat berlanjut hingga dewasa.

Baca Juga: Edukasi Psikologi: Ini yang Harus Dilakukan Ketika Anak Remaja Tak Mau Lagi Bicara dengan Orang Tua, Ketahui Penyebabnya!

Penting untuk memahami sikap diam selektif untuk mendukung mereka yang terkena dampak secara efektif.

Apa itu Mutisme Selektif?

Mutisme selektif ditandai dengan ketidakmampuan seseorang berbicara dalam situasi sosial tertentu.

Misalnya dengan teman sekelas atau saudara jauh. Ini bukanlah soal pilihan; Harapan untuk berbicara memicu kecemasan dan kepanikan yang hebat.

Menyebabkan hasrat berbicara menjadi hilang atau tidak mungkin dilakukan dalam situasi tersebut.

Seiring waktu, individu dengan mutisme selektif dapat mengantisipasi situasi ini dan berusaha menghindarinya.

Meskipun mereka tidak mampu berbicara dalam situasi tertentu, penderita mutisme selektif seringkali dapat berkomunikasi secara bebas.

Khususnya dengan orang-orang tertentu, seperti keluarga dekat dan teman, ketika mereka berada dalam lingkungan yang nyaman.

Kondisi ini memengaruhi sekitar 1 dari 140 anak kecil dan lebih sering terjadi pada anak perempuan dan anak-anak yang baru saja bermigrasi dari negara asalnya.

Baca Juga: Tak Perlu Meledak-ledak! Begini 6 Trik Marah yang Elegan, Yakin Bisa Bikin Lawan Bicara Langsung Kena Mental

Tanda-tanda Mutisme Selektif

Mutisme selektif dapat dimulai pada usia berapa pun tetapi paling sering terlihat antara usia 2 dan 4 tahun.

Namun seringkali terjadi ketika seorang anak mulai berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarga dekatnya. Tanda-tanda utamanya meliputi:

- Keheningan yang tiba-tiba dan ekspresi wajah yang membeku ketika diharapkan untuk berbicara.

- Menghindari kontak mata dan terlihat gugup, gelisah, atau canggung secara sosial.

- Perilaku seperti menempel pada orang yang dikenalnya, bertindak pemalu dan menarik diri, atau menunjukkan tanda-tanda ketegangan.

- Beberapa anak mungkin menggunakan isyarat untuk berkomunikasi, seperti mengangguk atau menggelengkan kepala, sementara anak lainnya mungkin menghindari segala bentuk komunikasi sama sekali.

Baca Juga: Dianggap Ekslusif karena Mampu Menggabungkan Kepribadian Introvert dan Ekstrovert, inilah Tanda-Tanda Seorang Ambivert

Penyebab Mutisme Selektif

Mutisme selektif sering dikaitkan dengan kecemasan, khususnya ketakutan (fobia) berbicara dengan orang-orang tertentu.

Meskipun penyebab pastinya tidak selalu jelas, beberapa faktor dapat berkontribusi:

- Kecenderungan umum menuju kecemasan.

- Kesulitan mengatasi kejadian sehari-hari.

- Gangguan bicara dan bahasa atau masalah pendengaran, yang dapat membuat berbicara menjadi lebih stres.

- Masalah pemrosesan sensorik, seperti kesulitan menangani suara keras atau lingkungan ramai.

Baca Juga: Tes Psikologi: Kamu Lebih Dahulu Memperhatikan Orang Lain atau Diri Sendiri?

- Pengalaman trauma atau stres pasca trauma.

Penting untuk diperhatikan bahwa mutisme selektif tidak berhubungan dengan autisme, meskipun seorang anak dapat memiliki kedua kondisi tersebut.

Mendiagnosis Mutisme Selektif

Diagnosis dan penatalaksanaan dini sangat penting untuk membantu individu mengatasi mutisme selektif.

Jika tidak ditangani, hal ini dapat menyebabkan isolasi, rendahnya harga diri, dan gangguan kecemasan sosial.

Baca Juga: Kamu Malas atau Depresi? Kenali Tanda dan Cara Untuk Mencari Tahu, Jangan Self Diagnosis!

Diagnosis pada Anak

Anak dengan mutisme selektif dapat mengatasi kondisi tersebut dengan dukungan yang tepat.

Diagnosis melibatkan pengenalan tanda-tanda sejak dini, sering kali oleh orang tua dan guru, dan bekerja sama untuk mengurangi kecemasan anak.

Jika kamu mencurigai anakmu menderita mutisme selektif, bicarakan dengan dokter umum untuk mendapatkan rujukan ke layanan spesialis atau hubungi langsung klinik terapi wicara dan bahasa.

Diagnosis pada Orang Dewasa

Orang dewasa juga dapat mengatasi mutisme selektif, meskipun mereka mungkin menghadapi tantangan karena bertahun-tahun tidak berinteraksi sosial.

Diagnosis biasanya melibatkan ahli kesehatan mental dan mungkin mencakup dukungan dari terapis bicara dan bahasa.

Baca Juga: Jangan Telat Diagnosis! Layanan Deteksi Dini Gagal Ginjal Akut Sudah Tersedia di Puskesmas DKI Jakarta

Pengobatan untuk Mutisme Selektif

Perawatan berfokus pada mengurangi kecemasan yang terkait dengan berbicara daripada memaksa individu untuk berbicara. Strategi yang efektif meliputi:

- Menciptakan Lingkungan Positif: Menghilangkan tekanan untuk berbicara dan secara bertahap membantu orang tersebut merasa nyaman dalam lingkungan sosial.

- Terapi Perilaku Kognitif (CBT): Membantu individu mengubah pola pikirnya dan secara bertahap menghadapi ketakutannya.

- Terapi Perilaku: Menggunakan pendekatan langkah demi langkah untuk mengatasi kecemasan.

- Eksposur Bertingkat: Mengatasi situasi yang menimbulkan kecemasan paling sedikit terlebih dahulu dan secara bertahap beralih ke skenario yang lebih menantang.

Baca Juga: Dijamin Ampuh! Ini 5 Cara Mudah agar Membuat Lawan Bicara Tertarik, Senyum hingga Eye Contact!

- Stimulus Fading: Secara bertahap memperkenalkan orang-orang baru ke dalam lingkungan komunikasi yang nyaman.

- Membentuk: Mendorong kemajuan dari komunikasi non-verbal ke kata-kata yang diucapkan.

- Penguatan Positif dan Negatif: Menghargai upaya komunikasi dan tidak memperkuat keheningan.

- Desensitisasi: Mengurangi sensitivitas berbicara dengan menggunakan rekaman suara atau pesan video.

Dalam beberapa kasus, pengobatan mungkin diresepkan untuk anak-anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa untuk mengatasi kecemasan, terutama bila dikombinasikan dengan terapi perilaku.

Nasihat untuk Orang Tua

Orang tua dapat mendukung anak mereka dengan:

- Menghindari tekanan untuk berbicara.

- Meyakinkan anak dan membiarkan mereka mengambil langkah kecil.

- Memuji upaya komunikasi non-verbal.

- Bukan menghindari situasi sosial tetapi membuatnya lebih nyaman.

- Memberikan kasih sayang, dukungan, dan kesabaran.

Demikian edukasi psikologi menurut pendapat pakar tentang anak remaja yang tiba-tiba mogok bicara.***

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Kartika Endah Prihatin