AYOJAKARTA.COM - Apakah kamu memiliki anak remaja yang tadinya cerewet tiba-tiba mendiamkanmu? Tidak ada orang tua yang senang dikucilkan, terutama jika kamu tadinya memiliki hubungan dekat.
Dikutip dari Child Mind Institute, hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa menjauhkan diri dari orang tua adalah tahap perkembangan remaja yang normal dan perlu.
Menjalani transisi menuju kemandirian ini memang sulit, namun ingat, anak-anak tetap membutuhkan orang tua untuk tetap terhubung dan terlibat dalam kehidupan mereka.
Baca Juga: Tes Psikologi: Gambar Pilihanmu Dapat Mengungkap Trauma Tersembunyi dalam Dirimu
Memahami Perlakuan Diam
Remaja membutuhkan ruangnya sendiri, tetapi mereka juga membutuhkan orang tuanya. Kebanyakan remaja ingin lebih dekat dengan orang tuanya tetapi tidak tahu caranya.
Saat anak kamu berusaha untuk menyapih dirinya, kamu perlu berusaha menjembatani kesenjangan tersebut dengan hati-hati. Mulailah dengan menemui mereka dimanapun mereka berada.
Seberapa Heningnya Perlakuan Diam?
Perlu atau tidaknya kamu khawatir tergantung pada seberapa sering anak kamu berhenti berbicara. Mari jelajahi tiga kemungkinan skenario berikut:
Skenario 1: Kamu dan Anakmu Dulunya adalah “Sahabat”
Mereka menceritakan segalanya padamu, tapi sekarang mereka menutup diri darimu dan hanya berbagi pemikiran pribadinya dengan teman-temannya. Sejauh ini, kamu tidak perlu begitu khawatir.
Meskipun mungkin menyakitkan, cobalah untuk tidak mengambil hati atas pilihan anakmu. Apa yang mereka lakukan masih dalam toleransi dan wajar.
Apa yang harus dilakukan:
- Jangan menceramahi anakmu atau memberi tahu mereka betapa sakitnya perasaan kamu.
- Cobalah untuk berinteraksi positif dengan mereka.
- Libatkan mereka dalam aktivitas yang kamu sukai bersama.
- Duduklah untuk makan bersama mereka.
- Jangan memompa mereka untuk mendapatkan informasi. Sebaliknya, bagikan sesuatu yang lucu atau menarik tentang kehidupan kamu sendiri.
Baca Juga: 5 Jurusan Kuliah yang Jadi Incaran Perusahaan Internasional, Tertarik Mempelajarinya?
- Bicaralah kepada mereka seperti orang dewasa dengan rasa hormat dan jelaskan bahwa kamu menghargai pendapat mereka dan mengharapkan rasa hormat sebagai balasannya.
Skenario 2: Anakmu Merespons dengan Jawaban Satu Kata dan Mata Berputar
Mereka menghabiskan waktu sesedikit mungkin dengan kamu dan tampaknya menaruh seluruh antusiasmenya pada teman-temannya. Perilaku ini, meskipun menjengkelkan, masih berada dalam batas perkembangan normal remaja.
Berfokus pada hubungan dengan teman sebaya membantu anak-anak mengurangi ketergantungan pada orang tua—sebuah langkah penting untuk menjadi orang dewasa yang bahagia dan mandiri.
Apa yang harus dilakukan:
- Tetapkan batasan yang sesuai, tetapi fokuslah untuk memperkuat hubunganmu.
- Tahan keinginan untuk menguliahi.
Baca Juga: Tes IQ: Yuk Uji Kecerdasan dengan Menebak Siapa yang Makan Kue dalam Waktu 11 Detik
- Carilah kesulitan di bawah rasa tidak hormat dan ingatkan mereka tentang siapa mereka sebenarnya.
- Katakan sesuatu seperti, “Aku tahu kamu sedang kesal, tapi biasanya kamu tidak bersikap kasar,” untuk memulai percakapan.
Skenario 3: Anakmu Menarik Diri Sepenuhnya
Anakmu tidak berbicara kepada siapa pun, menghabiskan seluruh waktunya di kamar, dan menarik diri dari teman dan aktivitas. Perilaku ini menimbulkan kekhawatiran serius dan berada di luar jangkauan perkembangan remaja normal.
Ini mungkin mengindikasikan trauma, penyalahgunaan zat, atau masalah kesehatan mental yang serius seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar.
Apa yang harus dilakukan:
- Jika anakmu tampak bermusuhan dan marah, beri dia kesempatan untuk menjelaskan jika kamu melakukan kesalahan.
- Ingat, privasi hanya berlaku sejauh ini. Kamu berhak mengetahui apa yang dilakukan anakmu di kamarnya.
- Bersikeras informasi lebih lanjut dan pantau media sosial mereka jika perlu.
- Carilah bantuan profesional dari dokter yang berkualifikasi dan jelaskan perilakunya secara detail.
Jika kamu Mencurigai Anak Remaja kamu Mungkin Ingin Bunuh Diri
Jika kamu curiga anak remajamu mungkin ingin bunuh diri, segera atasi masalahnya dengan tenang. Dekati anak kamu dengan empati dan cinta.
Apa yang harus dilakukan:
- Biarkan anakmu tahu bahwa kamu mencintainya berulang kali.
- Validasi perasaannya dengan mengatakan hal-hal seperti, “Sepertinya itu sangat sulit,” atau, “Aku tahu betapa menyakitkannya hal itu.”
- Bekerjasamalah dengan anakmu untuk mendapatkan bantuan profesional dan jelaskan bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Kesimpulan
Saat menghadapi perlakuan diam-diam, ingatlah bahwa ini bukan tentangmu. Pilih strategimu dan berikan ruang pada anak untuk tumbuh. Namun, prioritaskan kesehatan dan kesejahteraan anakmu dengan tetap terhubung, meski itu menantang.***