Gaya Hidup

Edukasi Psikologi: Memahami Delusi Keagungan alias Waham Kebesaran

Oleh: Muhammad Imansyah Selasa 11 Jun 2024, 13:41 WIB
Ilustrasi edukasi psikologi

AYOJAKARTA.COM - Di media sosial, kita dapat dengan mudah menemukan orang yang bertingkah laku aneh.

Lebih aneh lagi, orang semacam ini punya basis penggemar yang percaya dengan semua perkataannya.

Salah satu tingkah laku aneh tersebut adalah delusi keagungan atau waham kebesaran.

Dikutip dari situs WebMD, delusi keagungan adalah jenis keyakinan salah yang membuat seseorang berpikir bahwa dirinya memiliki lebih banyak kekuatan, kekayaan, kecerdasan, atau sifat-sifat agung lainnya daripada yang sebenarnya mereka miliki.

Baca Juga: Tes Asah Otak: Bisakah Kamu Menemukan Huruf C dalam 13 Detik?

Orang-orang dengan kondisi ini sangat percaya pada persepsi diri yang berlebihan, tidak seperti mereka yang hanya memiliki opini diri yang berlebihan.

Berikut contoh-contohnya:

Gejala

- Percaya bahwa dia bisa memerintah malaikat atau berbicara dengan orang yang sudah meninggal dunia.

- Mengalami perubahan suasana hati seperti mudah tersinggung atau depresi.

- Halusinasi yang berhubungan dengan khayalan, seperti mendengar suara Tuhan.

Penyebab

- Sering dikaitkan dengan penyakit mental lain seperti gangguan bipolar atau skizofrenia.

Baca Juga: KPM Khusus Golongan Ini Siap-Siap Akan Dapat Bantuan Tambahan yang Cair di Bulan Juni 2024

- Faktor yang mungkin termasuk riwayat penyakit mental dalam keluarga, ketidakseimbangan kimiawi otak, stres, penyalahgunaan obat-obatan, dan isolasi sosial.

Diagnosis

- Membutuhkan riwayat mental yang terperinci dan mengesampingkan kondisi medis lainnya.

- Kriteria diagnosis meliputi adanya delusi yang berlangsung selama sebulan atau lebih tanpa diagnosis skizofrenia atau perilaku aneh di luar delusi tersebut.

Baca Juga: Rekrutmen CPNS 2024 Diundur Lagi? Cek Jadwal Pendaftaran hingga Seleksi SKD Lengkap Rincian Formasi Terbaru

Penanganan

- Obat untuk gejala psikotik, depresi, atau stabilisasi suasana hati.

- Terapi perilaku kognitif untuk membantu mengubah perilaku yang tidak membantu.

- Dalam kasus yang parah, pengobatan yang tidak disengaja mungkin diperlukan untuk mencegah tindakan menyakiti diri sendiri atau merugikan orang lain.

Memahami dan mengobati delusi keagungan melibatkan kombinasi intervensi medis dan terapi, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan individu.***

Baca Juga: Keutamaan Puasa Arafah Jelang Hari Raya Idul Adha, Jangan sampai Terlewat!

Reporter Muhammad Imansyah
Editor Imanudin Abdurohman