AYOJAKARTA.COM - Dikutip dari akun TikTok @psikosomatikandri, orang yang punya masalah gangguan kecemasan yang lebih dari 3 bulan, biasanya mengalami banyak keluhan fisik.
Keluhan fisik tersebut biasanya dihubungkan dengan kondisi organ otonom kita, seperti jantung, paru, dan lambung serta otot.
Menariknya, berkaitan dengan keluhan jantung, banyak pasien yang mengalami ketakutan, walaupun sudah memeriksakan diri.
Yang paling dominan adalah ketakutan akan mati, dan tentunya serangan jantung.
Sebenarnya, kalau pasien itu adalah perempuan yang masih menstruasi, biasanya berusia di bawah 50 tahun, sangat jarang terkena serangan jantung.
Yang sering mengalami serangan jantung di usia produktif biasa laki-laki.
Kita cukup sering mendengar berita pesohor muda laki-laki yang ditemukan meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung.
Ketika kita sudah melakukan screening atau upaya penapisan penyakit pada kondisi yang berkaitan dengan gejala, harusnya kita sudah cukup aman dan tak perlu khawatir.
Sayangnya, pasien cemas tidak demikian.
Walaupun sudah diberikan bukti-bukti bahwa semuanya aman, jantungnya aman, lambungnya aman, kondisi yang berkaitan dengan keluhan itu tidak ada yang mendasarinya secara medis, tapi tetap saja dia khawatir.
Dalam pikirannya selalu bergulir, jangan-jangan pemeriksaannya salah, jangan-jangan nanti bilangnya tidak apa-apa ternyata jadi kenapa-napa.
Ketakutan akan mati adalah salah satu ketakutan yang paling sering dikaitkan dengan keadaan ini.
Baca Juga: Gagal SNBT 2024? Ini 5 Kampus Swasta Berkualitas dengan Biaya Kuliah Termurah
Dan pada pasien cemas, ketakutan akan matinya memang luar biasa.
Yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini sebenarnya cukup memperkuat rasionalitas kita.
Memang, pada pasien cemas itu, bagian otak tengahnya, amigdala, jauh lebih aktif.
Dan sistemnya itu akan mengakibatkan posisinya selalu fight or flight.
Kalau tidak menghadapi, ya kabur.
Sayangnya, kondisi bersiap siaga ini juga terjadi ketika ada keluhan fisik.
Jadi si pasien selalu berpikir, jangan-jangan sakit ini yang belum terdeteksi, jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu.
Oleh karena itu, rasionalitas kita harus diperkuat.
Caranya cukup dengan melihat kembali hasil tes-tes medis itu, semuanya baik-baik saja, sudah cukup.
Tidak perlu mencari-cari lagi atau mungkin itu saatnya kamu untuk berkonsultasi dengan dokter jiwa.***
Baca Juga: Pegi Setiawan Jalani Tes Psikologi, Reza Indragiri Tak Yakin akan Berhasil