Gaya Hidup

7 Ajaran Filosofis Bangsa Jepang Melawan Rasa Malas, Terapkan Bila Ingin Menjadi Pribadi yang Berkarakter Tangguh

Oleh: Karseno AJ Selasa 07 Mei 2024, 18:14 WIB
Jepang diketahui mempunyai sejumlah ajaran dengan nilai filosofis yang mendunia.

AYOJAKARTA.COM — Menjadi salah satu negara besar di kawasan Asia, Jepang dikenal memiliki sumber daya manusia dengan etos kerja yang sangat tinggi.

Selain dikenal dengan berbagai macam kebudayaan dan mendunia, Jepang juga menjadi cermin kemajuan bangsa karena perilaku masyarakatnya yang cenderung rajin.

Menjalani roda kehidupan dengan berbagai kaidah dan peraturan, Jepang diketahui mempunyai sejumlah ajaran dengan nilai filosofis yang mendunia.

Sebagai salah satu acuan dalam meningkatkan kualitas pertumbuhan pribadi, berikut adalah ajaran hidup bangsa Jepang untuk menghancurkan kemalasan.

Baca Juga: Setelah Ramai Bea Cukai Diprotes dan Viral, Barang Bawaan Pribadi dari Luar Negeri Kini Tak Lagi Dibatasi Asal ...

7 Ajaran Filosofis Bangsa Jepang Melawan Rasa Malas

Ajaran pertama bangsa Jepang untuk bisa menghancurkan kemalasan adalah Kaizen atau mempraktekkan pertumbuhan pribadi.

Kaizen mengajarkan kepada masyarakat Jepang untuk konsisten melakukan perubahan kecil setiap hari, sehingga berujung menjadi kesempurnaan pada akhirnya.

Ajaran hidup masyarakat Jepang yang mendunia selanjutnya adalah wabi-sabi atau menemukan kebaikan dalam ketidak-sempurnaan.

Mengajarkan tentang pentingnya perspektif positif dalam setiap hal, wabi-sabi mengajak agar manusia fokus pada kebaikan diri daripada sisi negatif yang dimiliki.

Ajaran ketiga masyarakat Jepang untuk dapat menghancurkan kemalasan adalah ganbaru atau kesungguhan dan Kesabaran dalam berproses.

Dalam pandangan ganbaru, pencapaian hasil tidak terlalu menjadi ukuran karena konsistensi dan presisi akan membawa dampak dan nilai tersendiri.

Ajaran menghancurkan rasa malas keempat yang menjadi pedoman hidup masyarakat Jepang adalah shinrin-yoku atau menjadi bagian alam semesta.

Dalam bahasa Jepang, shinrin memiliki arti hutan sedangkan yoku bermakna bersih, gabungan dari keduanya bermakna keselarasan antara manusia dengan alam.

Melalui ajaran shinrin-yoku, masyarakat Jepang mengajak agar setiap manusia tidak berjarak atau mengabaikan hubungan baik dengan alam semesta.

Merasakan air hujan, angin, berjemur di bawah sinar matahari, dipercaya akan membuat manusia lebih terhubung dengan suasana sekitar.

Ajaran berikutnya yang diterapkan masyarakat Jepang untuk menghancurkan kemalasan adalah hara hachi bu atau membatasi asupan makan.

Masyarakat Jepang meyakini, perut yang terlalu kenyang hanya akan mendatangkan rasa malas sehingga jauh dari produktivitas.

Ajaran selanjutnya untuk menghancurkan rasa malas yang biasa dipraktekkan masyarakat Jepang adalah soshin atau tidak tergesa-gesa.

Pikiran yang fokus akan mendatangkan peruntungan yang bagus, sedangkan tergesa-gesa cenderung mendatangkan penyesalan.

Ajaran ketujuh yang diterapkan masyarakat Jepang untuk menghalau rasa malas adalah ikigai atau menetapkan tujuan hidup.

Dalam proses mencapai suatu tujuan, keselarasan hidup dengan lingkungan dan manusia harus selalu dipertimbangkan sehingga tidak berdampak pada nilai-nilai kehidupan.***

Reporter Karseno AJ
Editor Tedi Rukmana