AYOJAKARTA.COM - Tahukah kamu tentang seni menipu? Mengapa dan apa yang harus kamu ketahui tentang pembohong?
Kamu dibohongi puluhan kali setiap hari karena itulah kamu harus memahami seni menipu untuk membaca pikiran mereka.
Mempelajari seni menipu bukanlah untuk belajar menjadi seorang pembohong.
Ingat, sekali lagi, setiap hari, kamu puluhan kali telah dibohongi.
Mulai dari kebohongan kecil, seperti orang yang mengatakan bahwa mereka baik-baik saja padahal sebenarnya mereka sedang mengalami hari yang buruk.
Hingga, kebohongan serius dari orang yang kamu cintai dan atasan yang berpotensi mengubah hidupmu.
Mampu memahami kapan, mengapa, dan bagaimana orang berbohong akan membantu kamu membangun hubungan yang lebih jujur dan mencegah terjadinya bencana akibat informasi yang salah.
Berikut adalah sembilan hal yang harus kamu ketahui tentang berbohong dan pembohong:
1. Kita Semua Pembohong
Meskipun kamu mungkin berpikir bahwa kamu adalah orang yang jujur.
Namun secara statistik, kamu juga seorang pembohong.
Para peneliti memperkirakan rata-rata orang berbohong minimal satu hingga dua kali per hari.
Jika kamu tidak percaya, tanyakan pada diri kamu sendiri:
· Apakah kamu pernah memberikan pujian kepada orang lain yang tidak sepenuhnya tulus?
· Pernahkah kamu mengatakan kepada seseorang bahwa kamu baik-baik saja, padahal kenyataannya kamu sedang kelelahan dan mengalami minggu yang buruk?
· Apakah kamu pernah mengatakan kepada orang lain bahwa kamu sedang sibuk untuk menghindari berbicara dengan mereka dalam waktu yang lama atau melakukan sesuatu dengan mereka?
Jika kamu menjawab ya untuk semua pertanyaan tersebut, maka kamu telah berbohong. Itu hanyalah beberapa skenario umum yang memicu kebohongan.
2. Pembohong 'Normal' vs Pembohong 'Produktif'
Kabar baiknya? Kebanyakan orang jujur. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar kebohongan dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang dikenal sebagai "pembohong yang produktif".
Para peneliti membuat model statistik untuk membedakan pembohong yang produktif dengan pembohong yang biasa atau 'normal'.
Berikut adalah cara untuk mengenali pembohong yang produktif:
· Pembohong produktif adalah mereka yang melaporkan bahwa mereka berbohong lima kali atau lebih dalam sehari.
· Pembohong yang produktif cenderung lebih muda, laki-laki, dan memiliki status pekerjaan yang lebih tinggi.
· Mereka cenderung berbohong paling banyak kepada pasangan dan anak-anak mereka.
· Mereka lebih cenderung percaya bahwa berbohong dapat diterima dalam beberapa situasi.
· Mereka cenderung tidak berbohong karena kepedulian terhadap orang lain dan lebih cenderung berbohong untuk kepentingan diri sendiri, seperti untuk melindungi sebuah rahasia.
· Pembohong yang produktif mengatakan lima setengah kebohongan untuk setiap satu kebohongan putih yang dikatakan oleh orang kebanyakan.
· Mereka mengatakan 19,1 kebohongan untuk setiap satu kebohongan besar yang dikatakan oleh orang biasa.
3. Polisi Memiliki “Mata” Untuk Pencuri
Orang akan berharap bahwa petugas polisi karena mereka menghabiskan banyak waktu untuk mencoba memisahkan yang bersalah dari yang tidak bersalah, akan pandai dalam mendeteksi kebohongan.
Sayangnya, penelitian telah menemukan bahwa sebagian besar petugas tidak lebih baik dalam mengidentifikasi kebohongan daripada orang pada umumnya.
Namun, mereka unggul dalam satu aspek deteksi kebohongan: menemukan orang yang tidak jujur di tempat umum.
Ketika diperlihatkan video pencuri yang berinteraksi dengan orang yang tidak bersalah ketika bersiap untuk mencuri, polisi dapat menemukan para penjahat pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada polisi yang sedang berlatih dan mahasiswa.
Hal ini penting karena mengungkap masalah umum dalam pendeteksian kebohongan: orang sering salah mengartikan stres sebagai sinyal kebohongan.
Alasan polisi dapat mengidentifikasi penjahat di tempat umum adalah karena, saat pencuri bersiap untuk mencuri, mereka lebih tertekan daripada keadaan di tempat umum.
Di sisi lain, selama wawancara polisi, bahkan orang yang tidak bersalah pun mengalami stres karena mereka berusaha membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.
Cara orang berperilaku secara berbeda, dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari situasi tersebut, yang mengungkapkan kebohongan, bukan perilaku tertentu secara umum.
4. Efek Keakraban pada Deteksi Kebohongan
Dapatkah kamu mendeteksi kebohongan dengan lebih baik dalam situasi yang lebih kamu kenal? Penelitian mengatakan ya.
Dalam penelitian ini, tim psikolog melakukan empat eksperimen yang mengungkapkan bahwa keakraban situasional menghasilkan penilaian yang lebih akurat mengenai kebenaran dan penipuan.
Orang yang tidak begitu akrab dengan situasi mereka tidak dapat membedakan kebohongan dan kebenaran lebih dari 50 persen.
Sedangkan orang yang sangat akrab dengan situasi mereka dapat mendeteksi penipuan dengan akurasi 8-23 persen lebih tinggi.
Hal ini disebabkan karena ketika orang lebih mengenal situasi dan atau orang yang mereka ajak bicara, mereka memiliki lebih banyak informasi dasar dan isyarat kontekstual yang dapat dijadikan acuan.
5. Orang Lebih Suka Berbohong untuk Tim Mereka
Penelitian telah menemukan bahwa orang lebih bersedia berbohong untuk menerima insentif yang menguntungkan seluruh tim mereka daripada insentif yang hanya untuk diri mereka sendiri.
Sebagai contoh, karyawan lebih cenderung berbohong kepada atasan mereka tentang kemajuan sebuah proyek jika hal tersebut dapat mencegah seluruh tim mereka mendapat masalah, bukan hanya diri mereka sendiri.
Para peneliti menduga bahwa kesediaan untuk berbohong dalam lingkungan tim tidak sepenuhnya tanpa pamrih.
Dalam lingkungan kelompok, orang cenderung tidak terlalu merasa bersalah karena berbohong karena mereka membantu orang lain.
Mereka tidak terlalu takut untuk berbohong karena kecil kemungkinan mereka ketahuan dan menanggung semua kesalahan karena semua orang dalam tim mereka terlibat.
6. Berbohong di Media Sosial vs Pena dan Kertas
Pembohong yang akan menipu dengan lidahnya tidak akan ragu untuk melakukan hal yang sama dengan pena.
Frekuensi berbohong memang berubah berdasarkan medianya, tapi bisakah itu berubah di dalam media yang sama?
Para peneliti telah menemukan bahwa orang lebih cenderung berbohong ketika menggunakan media sosial dibandingkan pena dan kertas.
Keduanya sama dalam hal "kekayaan media", yang berarti kedua bentuk tersebut hanya berupa teks.
Baca Juga: Bongkar Fakta Psikologi dari Kepribadian Orang yang Lahir Tanggal 1: Sosok Mandiri hingga Sensitif
Namun, orang lebih banyak berbohong, mengungkapkan lebih sedikit informasi, dan merasa lebih dibenarkan saat menggunakan email daripada saat mengirim pesan melalui pena dan kertas.
Menurut penelitian tersebut, "Temuan ini konsisten, baik ketika tugas tersebut meyakinkan partisipan bahwa kebohongan mereka akan atau tidak akan ketahuan oleh rekan-rekan mereka."
7. Kenangan tentang Pembohong
Bagi sebagian besar orang, berbohong tentang suatu kejadian meningkatkan keyakinan mereka bahwa kejadian tersebut tidak terjadi ketika ditanyai tentang hal itu di kemudian hari.
Para pembohong mengalami perubahan ingatan akibat kebohongan yang mereka lakukan karena mereka melaporkan bahwa kebohongan yang mereka lakukan adalah benar.
Para peneliti percaya bahwa dalam kasus-kasus tersebut, berbohong memiliki kekuatan yang sama dengan imajinasi untuk mengubah ingatan.
8. Berbohong dalam dua bahasa
Jika kamu merasa sulit berbohong dalam bahasa ibu kamu, cobalah berbohong dalam bahasa kedua.
Para peneliti telah menemukan bahwa orang menunjukkan respons stres yang lebih besar ketika berbohong dalam bahasa kedua karena berbicara dalam bahasa kedua lebih menantang, dan berbohong meningkatkan stres kognitif.
Dalam sebuah penelitian khusus, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi sifat fisiologis seseorang saat berbohong dalam bahasa lain:
· gairah karena emosi yang terkait dengan kebohongan, dan
· kecemasan tentang mengelola produksi bicara dalam bahasa yang bukan bahasa ibu.
Baca Juga: TOP 10 Kampus Terbaik Bidang Keilmuan Pendidikan di Indonesia versi SIR 2024, UM Paling Unggul
9. Pembohong Kesulitan Menjawab Pertanyaan Mengapa
Jika kamu mencurigai seseorang berbohong kepada kamu namun tidak yakin, cara mudah untuk mengetahuinya adalah dengan menanyakan pertanyaan "Mengapa?".
Jauh lebih sulit bagi orang untuk berbohong tentang mengapa mereka melakukan sesuatu atau mengapa sesuatu terjadi daripada berbohong tentang fakta-fakta dasar.
Jika seseorang kesulitan untuk menjelaskan maksud mereka, itu adalah tanda bahaya bahwa mereka sedang berbohong.
Nah inilah 9 hal yang harus kamu ketahui tentang para pembohong. Seni menipu ini cukup kamu gunakan untuk langkah antisipasi, bukan menyalahgunakannya! ***