Gaya Hidup

3 Alasan Mengapa Orang Depresi Selalu Merasa Ngantuk dan Ingin Tidur

Oleh: Salman Muhammad Ilham Senin 29 Apr 2024, 15:50 WIB
Ilustrasi orang depresi (pexels/Andrea Piacquadio)

AYOJAKARTA.COMDepresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum dihadapi banyak orang.

Gangguan ini tak hanya memengaruhi mood dan perasaan seseorang, tetapi juga memiliki efek signifikan pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari termasuk pola tidur.

Banyak dari kita mungkin pernah merasakan keinginan yang kuat untuk terus berada di tempat tidur terutama saat mengalami depresi.

Fenomena ini bukanlah kebetulan atau sekedar kebiasaan malas, melainkan memiliki beberapa penjelasan tersendiri.

Dalam artikel ini, akan digali lebih jauh tentang alasan mengapa depresi sering kali membuat kita ingin terus beristirahat dan tidur dikutip ayojakarta.com dari Instagram @insightme.id, Senin (29/4/2024).

Baca Juga: Menarik! 6 Kepribadian Seseorang Berdasarkan Cara Makan, Kamu Terbiasa Makan dengan Lambat atau Cepat? Simak Faktanya Disini...

1. Kelelahan Fisik dan Mental

Depresi tak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga memiliki dampak yang sangat nyata pada kondisi fisik.

Salah satu manifestasi paling umum dari depresi adalah kelelahan fisik yang ekstrem.

Ini terjadi karena depresi memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh termasuk sistem endokrin dan imun yang dapat membuat kita merasa lelah sepanjang waktu.

Baca Juga: 5 Kelemahan Anies Baswedan Berdasarkan Hasil Tes Psikologi MBTI, Apa Saja?

Ketidakseimbangan kimia otak yang merupakan fitur utama dari depresi juga berkontribusi pada perasaan kelelahan.

Hormon seperti serotonin dan dopamin yang berperan dalam mengatur mood, energi dan fokus saat tidak seimbang dapat menyebabkan kita merasa seperti tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun.

Depresi seringkali menimbulkan siklus pikiran negatif yang terus-menerus yang bisa sangat melelahkan.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Hewan Apa yang Pertama Kali Kamu Lihat? Cari Tahu Sifat dan Karakter Istimewa dalam Dirimu

Berusaha melawan pikiran-pikiran ini dan tetap melakukan aktivitas sehari-hari dengan beban pikiran tersebut bisa menjadi sangat melelahkan.

Kondisi ini seringkali menimbulkan keinginan untuk melarikan diri dari realitas dan tidur menjadi salah satu cara paling mudah untuk sementara waktu melupakan perasaan dan pikiran tersebut.

Depresi juga dikaitkan dengan peningkatan hormon stres seperti kortisol.

Baca Juga: Kamu Suka Memakai Cincin di Jari Mana? Cari Tahu Kepribadian yang Kamu Miliki Berdasarkan Letak Cincin yang Dipakai

Tingginya kadar kortisol dalam tubuh tak hanya membuat kita merasa lebih tegang dan cemas, tetapi juga bisa mengganggu pola tidur dan membuat tubuh merasa lelah.

Ironisnya, meskipun tubuh merasa lelah, gangguan pada pola tidur ini seringkali membuat tidur tak memberikan efek yang cukup untuk merasa beristirahat.

Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana kita merasa lelah tetapi tak bisa mendapatkan istirahat yang cukup yang pada akhirnya membuat kita ingin tidur lebih banyak lagi.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Aneh yang Dimiliki Orang Cerdas, Apakah Kamu Sering Melakukan Hal-Hal ini?

2. Pola Tidur yang Terganggu

Salah satu aspek yang paling terpengaruh oleh depresi adalah kualitas tidur.

Banyak orang dengan depresi mengalami kesulitan untuk tidur.

Hal ini seringkali disebabkan oleh pikiran yang terus-menerus berkecamuk, kecemasan atau bahkan efek samping dari obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Gangguan tidur ini tak hanya membuat kita merasa lelah di hari berikutnya, tetapi juga memperburuk gejala depresi dan menciptakan siklus yang sulit dipecahkan.

Depresi dapat menyebabkan dua masalah tidur utama yaitu insomnia yang berarti kesulitan untuk tidur dan hipersomnia yaitu kelebihan tidur.

Baca Juga: Jaga 5 Hal Ini Ketika Kuliah di Perantauan, Hati-hati Banyak Godaan!

Kedua kondisi ini sama-sama merugikan dan dapat menambah perasaan kelelahan serta memperburuk depresi.

Seseorang mungkin mengalami insomnia pada malam hari dan kemudian berubah menjadi hipersomnia di siang hari sebagai upaya untuk mengganti tidur yang hilang yang pada akhirnya mengganggu ritme alami tubuh dan pola tidur.

Gangguan tidur yang berkepanjangan dapat memiliki dampak negatif yang serius pada kesehatan fisik dan mental.

Baca Juga: Tips Psikologi: 3 Latihan untuk Membuat Kamu Lebih Disukai Orang Lain

Kurangnya tidur berkualitas dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung dan diabetes.

Selain itu, gangguan tidur juga dapat memperburuk gejala depresi, menciptakan lingkaran setan di mana depresi menyebabkan gangguan tidur yang kemudian membuat depresi menjadi lebih buruk lagi.

Mengatasi masalah tidur ini seringkali menjadi langkah penting dalam proses pemulihan dari depresi.

Baca Juga: Kepribadian Asli Dibalik Cara Tertawa Kamu, Kebiasaanmu Terbahak- bahak atau Hanya Tersenyum? Ini Ulasannya

3. Menghindari Rasa Sakit

Bagi banyak orang yang mengalami depresi, tidur seringkali dijadikan sebagai mekanisme penghindaran.

Melalui tidur, seseorang dapat sementara waktu melarikan diri dari rasa sakit, kecemasan atau kesedihan yang dialami.

Tidur menjadi cara menghindari realitas atau masalah yang mungkin terasa terlalu berat.

Meskipun ini mungkin terasa sebagai solusi jangka pendek, menghindari masalah atau perasaan tak akan menyelesaikan akar masalah dan pada akhirnya hanya akan memperburuk keadaan.

Depresi juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan waktu.

Baca Juga: 10 Hal yang Dihindari Orang Cerdas, Kunci Menuju Hidup Bermakna dan Bahagia

Hari-hari sering terasa lebih panjang dan lebih berat, membuat tidur terasa seperti satu-satunya cara untuk mempercepat waktu.

Persepsi waktu yang terdistorsi ini dapat meningkatkan keinginan untuk tidur sebagai cara untuk lolos dari perasaan yang mengganggu.

Namun ini seringkali hanya memberikan solusi sementara dan tidak mengatasi masalah yang lebih dalam.

Menghadapi masalah dan perasaan yang menyebabkan depresi adalah langkah penting dalam proses pemulihan.

Meskipun mungkin terasa sulit, mengambil langkah untuk mengatasi sumber masalah dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk melarikan diri melalui tidur.***

Reporter Salman Muhammad Ilham
Editor Fathul Amanah