AYOJAKARTA.COM - Kapan kamu terakhir ke dokter gigi? Satu tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu?
Wah, jangan-jangan kamu menderita kecemasan gigi atau bahkan dentofobia atau fobia gigi!
Dilansir dari Psych Central, jika kamu mengalami kecemasan terhadap perawatan gigi, kamu mungkin mengalami perasaan tidak enak di perut, sulit tidur, atau tanda-tanda kecemasan lainnya sebelum mengunjungi dokter gigi.
Baca Juga: Tips Minggu Pertama Masuk Kuliah, Mahasiswa Baru Harus Tahu Ini!
Fobia gigi adalah ketakutan ekstrem terhadap dokter gigi atau janji temu. Hal ini seringkali menyebabkan seseorang tidak pernah mengunjungi dokter gigi.
Apa itu kecemasan gigi?
Kecemasan gigi digambarkan sebagai ketakutan mencari perawatan gigi, menurut sebuah penelitian besar tahun 2022. Penyakit ini juga dianggap sebagai salah satu kondisi paling umum yang mempengaruhi populasi global.
Studi tersebut menunjukkan bahwa kecemasan terhadap perawatan gigi paling sering terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah, namun juga sangat menonjol pada orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.
Baca Juga: Awas, Ini 7 Bahaya Tidur dengan Kipas Angin!
Studi survei lain yang dilakukan pada tahun 2017 memiliki definisi kecemasan gigi yang serupa dengan studi tahun 2022 di atas.
Mereka mendefinisikan kecemasan gigi sebagai respons fisik atau emosional terhadap ancaman yang dirasakan.
Dengan kata lain, orang dengan kecemasan gigi mungkin mengalami kondisi tersebut karena takut akan rasa sakit akibat suntikan atau gesekan gigi.
Mereka mungkin juga takut akan kabar buruk, seperti adanya gigi berlubang atau kondisi lainnya.
Kecemasan terhadap gigi dapat menyebabkan kamu melewatkan atau tidak pernah pergi ke dokter gigi untuk pemeriksaan dan pembersihan.
Apa perbedaan antara kecemasan gigi dan fobia gigi?
Literatur ilmiah sering kali menggabungkan kecemasan dan fobia gigi ke dalam penelitian yang sama. Namun ulasan tahun 2016 memecah kecemasan dan fobia menjadi entitas yang lebih berbeda.
Mereka mendefinisikan kecemasan gigi sebagai kekhawatiran memikirkan mengunjungi dokter gigi.
Emosi inilah yang mendahului kunjungan sebenarnya dan mungkin merupakan penyebab kecemasan paling umum kelima.
Ketakutan atau fobia terhadap gigi digambarkan sebagai reaksi terhadap ancaman yang dirasakan di ruang praktik dokter gigi.
Ini mengarah pada respons melawan, lari, atau membekukan. Para peneliti menggambarkannya sebagai respons yang intens, terus-menerus, dan tidak realistis terhadap ancaman yang dirasakan.
Sebuah studi tahun 2022 mencatat perbedaan antara kecemasan, ketakutan, dan fobia gigi sebagai berikut:
Baca Juga: Tips Psikologi: Terapkan Aturan 8-8-8 agar Hidupmu Seimbang dan Sehat secara Fisik serta Mental
Kecemasan pada gigi: Reaksi umum terhadap bahaya yang tidak diketahui yang dapat menyerang siapa saja. Hal ini sering terjadi jika seorang dokter gigi berencana melakukan sesuatu terhadap seseorang yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Ketakutan terhadap gigi: Reaksi terhadap kejadian atau pengobatan yang diketahui. Seseorang yang merasa takut mengetahui apa yang akan dilakukan dokter gigi dan merasa gugup dengan apa yang akan terjadi.
Fobia gigi: Suatu jenis fobia spesifik yang ditandai dengan ketakutan yang terus-menerus, kuat, dan tidak realistis terhadap stimulus tertentu yang membuat seseorang benar-benar menghindari ancaman yang dirasakan. Orang dengan fobia gigi biasanya menghindari dokter gigi dengan cara apa pun.
Namun, kecemasan dan fobia terhadap perawatan gigi dapat menyebabkan seseorang tidak mengunjungi dokter gigi atau menghindari dokter gigi sama sekali, sehingga dapat mempengaruhi kesehatan mulut seseorang.
Baca Juga: Tips Psikologi: 10 Trik Psikologis yang Bikin Hidup Kamu Lebih Mudah
Bagaimana mengelola kecemasan gigi atau dentofobia
Tidak ada terapi tunggal yang dapat secara efektif mengatasi kecemasan gigi atau dentofobia.
Kecemasan terhadap gigi umumnya lebih ringan dibandingkan dengan fobia, sehingga kamu mungkin tidak memerlukan perawatan formal.
Beberapa cara yang mungkin untuk mengatasi kecemasan gigi meliputi:
belajar dan berlatih teknik pernapasan
cobalah meditasi atau latihan meditasi
membawa mainan ke kursi dokter gigi
lihat apakah kamu dapat berbicara dengan dokter gigi sebelum membuat janji untuk membantu meringankan kekhawatiran
Dentofobia sedikit lebih parah dan mungkin melibatkan penghindaran total terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan perawatan gigi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi pemaparan mungkin berhasil.
Dalam satu model, seseorang akan melalui beberapa langkah yang melibatkan wawancara dokter gigi, CBT, obat penenang, dan akhirnya transisi ke kedokteran gigi umum.
Jika kamu curiga kamu menderita fobia gigi, kamu mungkin ingin berbicara dengan ahli kesehatan mental atau dokter perawatan primer yang dapat merujuk kamu ke spesialis.
***