AYOJAKARTA.COM - Apakah kamu memiliki bos toxic? Atau kamu pernah mengalaminya?
Bekerja dengan seorang bos toxic dapat merugikan kesehatan, baik fisik maupun mental.
Fenomena bos toxic adalah hal yang umum. Kamu bekerja tanpa semangat dan kehilangan motivasi.
Potensimu yang besar bisa menjadi sia-sia jika di kantormu yang memimpin adalah seorang bos toxic.
Tapi jangan khawatir, kamu bisa menemukan ciri-cirinya serta cara mengatasinya.
Baca artikel ini sampai selesai.
Ciri-ciri pemimpinmu di kantor adalah seorang bos toxic:
· Manajemen mikro
Seorang atasan yang melakukan pengelolaan hingga ke hal-hal kecil terindikasi adalah seorang bos toxic. Mereka akan mengecek secara terus menerus kabar terbaru, mempertanyakan kemampuan kamu, serta melarangmu mengambil keputusan tanpa masukan atau pengawasan dari mereka.
Baca Juga: Jenis Game yang Disukai Berdasarkan Tipe MBTI, Sesuai dengan Kepribadianmu?
· Tidak paham batasan
Pemimpin yang tidak memiliki batasan akan mengorek kehidupan pribadi anak kamu, atau mengharapkan kamu selalu siap setiap saat.
Perilaku toxic ini menciptakan kurangnya pemisahan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
· Sikap meremehkan
Perilaku toxic pada atasan akan menghasilkan sikap meremehkan, baik pada kesuksesanmu dan mengabaikan saran kamu tanpa memberi pertimbangan yang adil.
· Sikap tidak adil
Pemimpin yang toxic juga bisa bersikap pilih kasih di tempat kerja. Mereka bisa memberikan pekerjaan pada individu tertentu secara tidak proporsional, sementara yang lain menerima beban kerja yang ringan.
· Perilaku tidak konsisten
Pemimpin yang toxic akan bersikap tidak konsisten. Mereka memberikan instruksi yang berubah-ubah. Situasi ini akan membuat karyawan menjadi tertekan dan stres.
· Pengalihan kesalahan
Pemimpin toxic akan menimpakan kesalahan kepada anak buahnya. Mereka akan menuding orang lain atas kesalahan yang dilakukannya sendiri.
Nah, setelah mengetahui ciri-ciri si bos toxic, maka sekarang kamu perlu tahu bagaimana cara mengatasinya.
Berikut ini 5 cara untuk menghadapi si bos toxic yang menjengkelkan.
1. Jangan terlalu dimasukkan hati
Cara terbaik menghadapi bos toxic adalah dengan tetap bersikap netral.
Kamu harus memahami, bahwa perilaku toxic semacam itu karena mereka tidak nyaman dengan diri mereka sendiri.
Kamu bisa mendekati situasi ini dengan rasa empati. Namun, bukan berarti kamu memaafkan perilaku beracun ini.
Hal ini memungkinkan kamu untuk melepaskan diri secara emosional dari tindakan atasan dan tidak menyalahkan diri sendiri.
2. Temukan sekutu dan pendukung
Jika bos kamu toxic, maka janganlah mengisolasi diri. Kamu sebaiknya menunjukkan kemampuan kerja, membantu rekan kerja, dan menemukan sekutu untuk memperkuat posisi kamu.
Koneksi-koneksi ini dapat membuatmu memiliki kesempatan alternatif, seperti pindah ke tim lain.
3. Ambil cuti untuk “healing” sejenak
Bekerja dalam lingkungan yang toxic bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Tanpa istirahat yang memadai, kamu akan didera kelelahan yang amat sangat, karena pikiranmu terkuras untuk faktor non teknis.
Maka dari itu, ambillah cuti dan gunakan untuk “healing”, karena kesehatan mental lebih penting dari pekerjaanmu.
4. Dokumentasi perilaku bos toxic
Seringkali, akan ada konsekuensi hukum dari lingkungan kerja yang beracun. Cobalah mendokumentasikan peristiwa yang terjadi dengan atasanmu yang toxic.
Dokumentasi ini setidaknya bisa kamu lakukan seminggu sekali.
Tuliskan secara spesifik konteks peristiwa, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana perasaan kamu.
Ingatan akan sebuah peristiwa bisa menjadi kabur seiring berjalannya waktu. Jadi, memiliki dokumentasi akan membantumu mengingat peristiwa secara detail dan akurat.
Hal ini akan berguna ketika kamu meminta intervensi ke bagian HRD atau membawanya masalah ini ke pengadilan.
Baca Juga: Rismon Sianipar Singgung Nama Rosiana Silalahi dan Karni Ilyas, Minta Bantu Kasus Jessica Wongso?
5. Berpihaklah pada dirimu sendiri
Ketika kesehatan mental, fisik, atau emosional terganggu, maka kamu harus menjadi pembela bagi diri kamu sendiri.
Kamu harus melindungi diri kamu sendiri dengan cara apapun yang dapat kamu kendalikan.
Kamu juga bisa menyampaikan masalah ini kepada manajer atau HRD dan terbuka terhadap solusi.
***