Gaya Hidup

Psikologi Orang yang Suka Memakai Barang Mewah dan Branded, Poin Terakhir Bikin Geleng-Geleng Kepala

Oleh: Dyah Arum Ratri Rabu 13 Mar 2024, 14:11 WIB
Ilustrasi barang branded dan mewah.

AYOJAKARTA.COM – Ada beberapa tipe orang yang dalam kesehariannya yang selalu menggunakan berbagai barang mewah atau branded.

Banyak yang menyebut juga jika barang mewah atau branded sebenarnya tidak diperlukan, namun di sisi lain sangat diinginkan oleh sebagian besar orang.

Bahkan, ada yang rela merogoh kocek bernilai fantastis hanya demi mendandani dirinya dengan barang branded dari ujung kepala hingga kaki.

Fenomena barang mewah ini tentunya jadi pembahasan menarik khususnya terkait psikologi orang yang menyukai barang-barang ini.

Lantas, bagaimana psikologi orang yang suka memakai barang branded dan mewah?

Dikutip dari tayangan YouTube Gunawan Setiadi pada Rabu, 13 Maret 2024, berikut psikologi seseorang yang suka memakai barang branded dan mewah.

Baca Juga: 10 Cara Psikologi agar Tidak Mudah Baper dan Tersinggung saat Berinteraksi Sosial

1. Kebutuhan akan keunikan

Psikolog dan peneliti mengatakan bahwa struktur psikologis seseorang untuk membeli barang mewah adalah kebutuhan akan keunikan.

Hal ini didasarkan pada teori keunikan, dimana individu cenderung ingin berbeda dengan orang lain.

Selain itu melalui barang mewah dan branded ini seseorang akan berusaha untuk menunjukkan bagaimana atau di mana mereka berada.

Baca Juga: Merasa Mudah Marah? Coba 5 Teknik Psikologi Ini untuk Mengelola Emosi, Bikin Suasana Hati Jadi Adem Lho

2. Sinyal dan status mahal

Tak dipungkiri jika banyak orang biasanya berbelanja produk mewah karena hal tersebut membuat diri mereka menonjol.

Penyuka barang mewah sangat percaya jika nama merek atau logo yang tertera di barang branded dianggap menampilkan citra yang eksklusif serta terlihat mewah.

Produk yang mencolok menandakan kekayaan dan status yang disebut dengan istilah pensinyalan dan status mahal.

Ini juga sesuai dengan teori psikologis yang menunjukkan bahwa orang akan membeli barang mewah secara eksklusif, untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kelompok penikmat kemewahan atau orang kaya.

Meski di tahun 2021 terungkap fakta dalam sebuah laporan bahwa konsumen barang mewah baru justru tidak menyukai hal itu.

Tepatnya hanya 6 persen yang menyatakan bahwa mereka membeli produk mewah sebagai ekspresi langsung dari kekayaan mereka.

Baca Juga: Tes Psikologi: Gambar yang Pertama Dilihat Pria atau Wanita? Jawabanmu Ungkap Kamu Golongan Otak Kanan atau Kiri

3. Membangun diri dan narasi diri

Pembelian barang mewah membantu individu untuk membangun narasi diri tentang status kekayaan dan keunikan mereka.

Hal tersebut adalah pembelian simbolis yang membawa individu lebih dekat dengan diri mereka, sebagai contoh membeli mobil sport merk Porsche agar terlihat kaya, klasik dan mendapatkan status tertentu.

Baca Juga: Tes Psikologi: Uji Keterampilan Visualmu dengan Temukan Orang Tersembunyi pada Gambar dalam Waktu 6 Detik!

4. Kepuasan

Membeli berbagai barang mewah dan juga branded bisa melepaskan dopamine dalam diri seseorang.

Dopamin sendiri adalah sebuah zat kimia di dalam otak yang bisa meningkatkan sensasi menyenangkan.

Kebanyakan orang ketika berhasil membeli barang branded dan mewah akan merasakan kepuasan luar biasa dan selalu meningkat.

Baca Juga: Tes Psikologi: Pilih Satu Gambar Coretan yang Bisa Mengungkap Trauma Masa Lalu yang Kamu Miliki

5. Hedonisme

Psikologi terakhir dari seseorang yang suka barang mewah dan branded adalah terhanyut dalam kehidupan hedonism.

Pembelian barang mewah juga kerap bersifat hedonis di mana pembeli barang mewah akan membeli barang untuk membuat dirinya atau orang lain merasa nyaman.

Sering kali pembelian barang mewah dan branded ini juga bersifat impulsive salah satunya untuk pemberian hadiah saja.***

Reporter Dyah Arum Ratri
Editor Tedi Rukmana