AYOJAKARTA.COM – Trauma adalah respon kejiwaan terhadap suatu peristiwa maupun situasi yang sangat menegangkan (menakutkan).
Akibat dari trauma ini bisa bertahan lama, namun tetap ada peluang untuk kesembuhannya.
Trauma bisa terjadi pada siapapun, termasuk dirimu, pada usia berapa pun, dan memiliki akibat jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental.
Pengalaman setiap orang adalah unik, tetapi ada beberapa penyebab yang sama, dan banyak orang yang memiliki gejala stress pasca trauma, seperti kecemasan dan gangguan tidur.
Baca Juga: Mau Mengajukan KUR Bank BRI? Cek Jenis KUR dan Persyaratan bagi Debitur, Jangan sampai Salah!
Pengertian Trauma
Trauma mengacu pada respon manusia terhadap suatu peristiwa yang secara psikologis membuat penderitanya tertekan.
Menurut Substance Abuse and Mental Health Service Administration (SAMHSA), trauma adalah peristiwa yang dialami manusia sebagai sesuatu yang berbahaya atau mengancam jiwa.
Kondisi ini memiliki efek buruk jangka panjang pada kesehatan mental, fisik, emosional, sosial, dan spiritual.
Trauma dikaitkan dengan peristiwa mengerikan seperti pelecehan seksual dan fisik, kekerasan, atau kecelakaan.
Namun, trauma juga bisa melibatkan respon terhadap kejadian yang berulang, seperti pelecehan emosional yang berkelanjutan atau pengabaian masa kecil.
Tidak semua orang yang pernah mengalami peristiwa traumatis ini mengalami akibat jangka panjang.
Trauma Kompleks
Trauma yang berulang kali terjadi dari waktu ke waktu dapat memiliki dampak kumulatif. Hal ini dikenal dikenal sebagai trauma kompleks.
Trauma kompleks sering dikaitkan dengan trauma masa kecil.
Pengalaman trauma sejak dini dapat meninggalkan jejak yang mendalam pada pandang dunia, rasa diri, dan hubungan di kemudian hari.
Apa Saja Efek Mental dan Fisik dari Trauma?
Trauma bisa mempengaruhi banyak kehidupan manusia, termasuk kesehatan emosional, sosial, dan fisik.
Selama masa stres yang ekstrem, tubuh dan pikiran menjadi kewalahan, sehingga melibatkan respon sistem saraf untuk melawan, menghindar, atau menyerah.
Gejala stres pasca trauma merupakan efek lanjutan dari sistem saraf yang kewalahan, karena tubuh dan pikiran tidak sepenuhnya memproses peristiwa traumatis yang terjadi.
Gejala umum pasca trauma meliputi:
- Pikiran yang mengganggu, termasuk kilas balik atau mimpi buruk
- Menghindari hal-hal yang mengingatkan manusia akan trauma, termasuk orang, tempat, atau benda
- Kewaspadaan yang berlebihan, atau menjadi sangat waspada terhadap bahaya
- Mudah terkejut atau "gelisah"
- Teraktivasi oleh pemicu yang mengingatkan manusia akan trauma, baik secara sadar maupun tidak sadar
Baca Juga: Tes Kepribadian Ilusi Optik: Apa yang Kamu Lihat Pertama Kali Ungkap Cara Hidup yang Kamu Pilih
- Perubahan dalam cara kamu melihat dirimu sendiri, seperti percaya bahwa kamu "buruk", atau merasakan rasa bersalah atau malu yang berlebihan
- Toleransi kejiwaan yang kecil, yang berarti kamu merasa mudah kewalahan atau mengalami kesulitan mengendalikan emosi kamu
Penyebab Trauma
Trauma sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan kejadiannya. Namun, trauma lebih berkaitan dengan cara kamu meresponnya.
National Child Traumatic Stress Network (NCTSN), melaporkan bahwa ada beberapa kejadian yang menyebabkan trauma, yaitu:
- Trauma medis
- Trauma seksual
- Trauma keluarga
- Trauma pengungsi
- Kesedihan traumatis
- Terorisme dan kekerasan
- Kekerasan pasangan intim
- Trauma bencana
- Penelantaran masa kanak-kanak
Jenis Trauma
The Jed Foundation, sebuah lembaga nirlaba yang melindungi kesehatan emosional dan pencegahan bunuh diri pada remaja, membagi trauma dalam 3 jenis, yaitu:
- Trauma emosional: Perasaan yang ditinggalkan oleh peristiwa traumatis. Ditandai dengan perasaan tidak aman di dalam tubuh seseorang, trauma emosional dapat mengubah fungsi otak dan menyebabkan rasa putus asa yang berlebihan.
- Trauma kompleks: Serangkaian peristiwa traumatis yang dapat memiliki dampak jangka panjang.
- Trauma sekunder. Juga dikenal sebagai trauma vikarius, trauma sekunder mengacu pada menjadi saksi trauma. Menyaksikan peristiwa traumatis dapat mempengaruhi kesehatan emosional dan layak mendapatkan dukungan, empati, dan kasih sayang.***