Gaya Hidup

Apa Itu Psikolog dan Psikiater, Apakah Keduanya Sama? Simak Perbedaannya, Jangan Salah Paham!

Oleh: Atiek Widyastuti Hadi Jumat 08 Mar 2024, 14:04 WIB
Ilustrasi pasien sedang konsultasi dengan psikiater

AYOJAKARTA.COM - Psikolog dan Psikiater, sama-sama cabang ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan.

Namun, tahukah kamu? Kalau sejatinya keduanya itu tidak sama. Salah satunya tentang batas penanganan saat memberikan konsultasi terhadap pasien.

Lalu apa bedanya psikolog dengan psikiater kalau sama-sama mempelajari tentang kejiwaan?

Sederhananya, psikolog klinik bukan dokter. Sedangkan psikiater adalah dokter. Tepatnya dokter spesialis kedokteran jiwa atau dr.SpKj.

Baca Juga: 10 Jembatan Tercantik Indonesia dengan Pemandangan Indah dan Jadi Icon Daerahnya, Mana Saja?

Psikolog klinis adalah sarjana psikologi yang kemudian mengambil kuliah profesi hingga akhirnya mendapat gelar psikolog klinis atau Magister Psikologi Klinis.

Sedangkan psikiater, kuliah dokter dan bergelar dokter umum. Selanjutnya ia mengambil studi spesialis, yakni Kedokteran Jiwa.

Artinya apa? Psikiater dapat memberikan resep obat. Sedangkan psikolog klinis tidak bisa.

Lalu, saat ada keluhan tentang kejiwaan ke psikolog dulu atau psikiater?

Contohnya, ketika seseorang mengeluhkan kesulitan dalam mengelola marah.

Baca Juga: ALHAMDULILLAH Nominal KJP Plus 2024 Bertambah! Ini Daftar Barang yang Bisa Dibeli dengan Uang Bantuan, Mulai dari Makanan Hingga Laptop

Melalui proses konseling, psikolog klinis akan memberikan semacam edukasi mengenai emosi. Pengaruhnya terhadap perilaku manusia, termasuk memfasilitasi klien untuk belajar mengenali situasi pemicu dan mengelola marah secara lebih adaptif.

Jika selama proses konsultasi, ternyata ada indikasi perilaku yang cenderung membahayakan diri maupun lingkungan. Psikolog klinis akan merujuk ke psikiater agar klien mendapatkan penanganan secara medis.

Kapan Harus ke Psikolog atau ke Psikiater?

Seorang psikolog klinis akan menjadi sosok pendengar atas apa yang dipikirkan, dirasakan dan dialami.

Baca Juga: Berbeda deri Tahun 2023, Ini Kriteria yang Wajib Dipenuhi KPM Penerima Bansos Beras 10 kg Tahun 2024

Pasien akan dibantu oleh psikolog klinis untuk merefleksikan dan menyadari kondisi sebenarnya yang kita alami.

Sebab tidak jarang saat dihadapkan pada suatu persoalan, pikiran hanya terfokus pada persepsi pribadi dan emosi negatif yang justru membuat semakin tidak nyaman.

Psikolog klinis membuka ruang menjadi teman diskusi saat dibutuhkan. Untuk mengenali potensi dalam rangka untuk mengembangkan diri, misalnya.

Bagaimana dengan psikiater? Prinsipnya, ketika merasakan kondisi yang tidak nyaman dan dirasa mengganggu fungsi keseharian.

Baca Juga: Cara Mudah Daftar KJP Plus 2024, Dapatkan Bantuan Pendidikan Sekarang Juga!

Seperti sudah mengarah pada perilaku membahayakan, tidak ada salahnya melakukan sesi konsultasi dengan psikiater agar mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Pada prinsipnya, psikiater maupun psikolog klinis sifatnya saling melengkapi.

Mengakses dan menerima bantuan dari profesional bukan berarti seseorang gila atau tidak waras.

Bisa jadi memang dalam kondisi membutuhkan mereka atau tengah memerlukan cermin untuk dapat melakukan refleksi atas keadaan diri sehingga dapat melihatnya secara objektif.***

Baca Juga: Saksikan Malam Puncak Penghargaan Indonesian Comedy Awards 2024 di GTV, Pukul 20.00 WIB

Reporter Atiek Widyastuti Hadi
Editor Imanudin Abdurohman