Internasional

Rusia Tolak Menghentikan Invasi ke Ukraina, Menparekraf Indonesia Sebut Alasan Menguntungkan

Oleh: Redaksi Minggu 21 Agu 2022, 13:05 WIB
invasi

AYOJAKARTA.COM - Diketahui invasi Rusia ke Ukraina telah terjadi sejak lama namun tidak kunjung damai.

Invasi dilakukan tentu dengan alasan yang kuat.

Hal ini dijelaskan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno yang mengatakan invasi tersebut menguntungkan Rusia.

“Kenapa perang Rusia Ukraina ini akan cukup lama? Because its profitable (karena sangat menguntungkan)," katanya dikutip dari Pikiran Rakyat.

Dia menjelaskan, Rusia mendapat keuntungan dari harga jual minyak yang merangkak naik hingga 5 miliar dolar AS per harinya.

Baca Juga: Viral! Mahasiswa Baru Unhas Ditolak Kampus Gara-gara Orientasi Seksualnya Non Biner, Begini Pengakuan Dosennya

Apalagi Rusia menjual minyak dengan harga 30 persen di bawah harga pasar.

Sementara dana yang diperlukan untuk invasi tersebut, kata Sandiaga Uno, hanya mencapai 1 miliar dolar AS.

“Jadi keuntungan Rusia setiap harinya berapa? 5 miliar USD," katanya.


Berkaca dari hal tersebut, Sandiaga Uno menyebut Indonesia harus pintar memanfaatkan momen, terutama terkait harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk menekan inflasi.

Mengingat Rusia menawarkan harga minyak 30 persen lebih murah dibandingkan harga minyak global.

“Eh lu (Indonesia) mau gak? India udah ambil nih. Minyak kita nih harganya 30 persen lebih murah dari harga pasar internasional,” ucapnya.

Baca Juga: Lengkap! Jadwal Bola dan Link Streaming Hari Ini 21 Agustus 2022: dari Liga Inggris, Spanyol hingga Italia

Kendati demikian, Sandiaga Uno menyebut ada pihak yang tidak setuju dengan hal tersebut.

“Ada yang gak setuju, karena takut, wah nanti gimana diembargo sama Amerika? Ya biar lah,” ujarnya.

“Kalau kita diembargo, paling kita gak bisa makan McDonald's kan. Makan (kebab) Babarafi lah!” sambungnya lagi.

Di sisi lain, dia turut menyebut adanya tantangan lain bagi Indonesia. Sebab Negara Barat mengontrol mata uang dolar AS.

Sandiaga Uno menjelaskan, pemerintah sedang mengkalkulasi harga beli minyak dengan pembelian menggunakan mata uang Rubel Rusia.*** (Saepulloh Hidayat/Pikiran Rakyat)

Reporter Redaksi
Editor Dian Naren