AYOJAKARTA.COM - Presiden Joko Widodo atau akrab dengan panggilan Jokowi, mengatakan tahun ini dunia menghadapi situasi yang sulit lebih dari tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, Jokowi mengatakan tahun depan dunia akan berada di situasi gelap.
Semua negara akan menghadapi situasi yang semakin sulit pada 2023 nanti akibat adanya krisis ekonomi, pangan dan energi.
Menurutnya di masa depan, bukan negara besar yang akan mengalahkan negara kecil.
Bukan negara kaya yang akan mengalahkan negara miskin, melainkan negara cepatlah yang akan mengalahkan negara yang lambat.
Baca Juga: Begini Respons Presiden Jokowi Soal Citayam Fashion Week yang Viral di Medsos
Dia mengatakan dirinya mendapat bisikan tersebut saat berbincang dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), dan Kepala Negara G7 terkait kondisi dunia pada 2023.
"Beliau-beliau menyampaikan 'Presiden Jokowi' tahun ini kita akan sangat sulit'. Terus kemudian seperti apa? Tahun depan akan gelap. Ini bukan Indonesia, ini dunia. Hati-hati, jangan bukan Indonesia, yang saya bicarakan tadi dunia," kata Jokowi saat menghadiri Silaturahmi Nasional Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) di Sentul Bogor Jawa Barat, Jumat (5/8/2022).
Jokowi menegaskan, dibutuhkan setidaknya tiga fondasi utama untuk menghadapi tahun-tahun sulit tersebut yakni infrastruktur, hilirisasi, dan industrialisasi, serta digitalisasi.
Dalam akun Instagram resminya @jokowi, Jumat (5/8/2022), mengatakan Infrastruktur yang kita bangun saat ini, hasilnya mungkin baru akan terasa nanti lima atau sepuluh tahun yang akan datang.
Dalam tujuh tahun ini, kita telah menambah 2.042 km jalan tol, 5.500 km jalan bukan tol, 16 bandara baru, 18 pelabuhan baru, 38 bendungan baru, hingga irigasi 1,1 juta hektare.
Hilirisasi dan industrialisasi, mulai kita laksanakan dan pemerintah mendapatkan banyak keuntungan.
Baca Juga: Jokowi Minta Kasus Penembakan Brigadir J Tak Ada yang Ditutupi, Begini Respons Polri
Anda tahu, nilai ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah pada 2014 hanya mencapai USD1 miliar atau Rp15 triliun.
Begitu ekspor bahan mentah kita hentikan di tahun 2017, nilai ekspor nikel kita di 2021 mencapai lebih Rp300 triliun.
Lalu digitalisasi, utamanya untuk usaha mikro, kecil dan menengah.
Ada 65,4 juta UMKM di Indonesia, yang semuanya berkontribusi pada 61 persen ekonomi Indonesia.
Jika hilirisasi dan industrialisasi tersebut dilakukan secara konsisten, saya yakin PDB/GDP ekonomi Indonesia yang saat ini USD1,2-1,3 triliun menjadi di atas USD3 triliun, ranking tujuh dunia di tahun 2030 dan keempat dunia di tahun 2045.
Dengan pencapaian sejauh ini, Presiden Jokowi merasa masih butuh banyak peranan dari seluruh warga masyarakat seluruh Indonesia untuk mendukung segala aktifitas yang menyangkut kepentingan negara, demi menghadapi masa-masa sulit yang akan datang.*** (Arif Nurrohman)