Jakarta Pusat

Belajar dari Lem Aibon, Disdik DKI Sisir Ketat Anggaran Komponen

Oleh: Admin Kamis 05 Des 2019, 16:26 WIB
Plt Kepala Dinas Pendidikan Syaefulloh Hidayat (Ayojakarta.com/Aprilia Rahapit)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta memastikan tidak ada lagi komponen-komponen janggal yang diunggah dalam e-budgeting apdb.jakarta.go.id.

Pasalnya, beberapa waktu lalu Jakarta dihebohkan dengan penemuan anggaran janggal dalam rancangan KUA-PPAS tahun 2020, di antaranya lem aibon senilai Rp 82,8 miliar, dan bolpoin Rp 124 miliar.

Namun, setelah pengesahan KUA-PPAS pada Kamis (28/11/2019), dan penyampaian Gubernur DKI Jakarta hasil Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Raperda) tahun Anggaran 2020 dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta pada Selasa (3/12/2019), kemudian data KUA-PPAS diunggah ke dalam e-budgeting.

"Sudah (disisir). Jadi, yang waktu dulu sempat viral, itu adalah komponen sementara yang diinput oleh suku dinas itu untuk komponen Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Belanja Operasional Sekolah (BOS)," ungkap Plt Kepala Dinas Pendidikan Syaefulloh Hidayat, di DPRD DKI Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Meskipun begitu, Syaefulloh mengingatkan agar penyisiran seluruh anggaran komponen dilakukan secara berhati-hati, sebab masih ada proses input komponen dari 2.100 sekolah.

"Saat ini yang ada dalam sistem Rencana Kerja Anggaran (RKA) e-budgeting, seluruhnya sudah menggunakan komponen riil sesuai dengan kebutuhan dari 2.100 sekolah," ujarnya.

Lebih rinci, kata dia, penyisiran saat ini dilakukan secara ketat.

"Pertama sekolah input, kemudian teman-teman suku dinas melakukan verifikasi, penyisiran, apakah komponen atau volumenya telah sesuai dengan kebituhan sekolah atau tidak, wajar atau tidak, kemudian lakukan koreksi-koreksi," tuturnya.

Setelah dilakukan koreksi, lanjut Syaefulloh, dinas pendidikan kembali melakukan penyisiran.

"Misalnya ada sekolah kok konsumsinya gede banget, kami ini sekolah ini kasih warning merah," ucapnya.

Syaefulloh memberi contoh, beberapa hari yang lalu pihaknya menemukan masih ada sekolah yang menganggarkan pembelian hewan kurban.

Saat dikonfirmasi, anggaran tersebut untuk praktek siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tata Boga membuat kambing dguling.

"Hal-hal kayak begitu kita lakukan. Misalnya, ada SD menganggarkan paku pentul. Ya memang betul butuh. Tapi volumenya kita sesuaikan," tandasnya.

 

Reporter Admin
Editor Lopi Kasim