Jakarta Pusat

Anggaran Membengkak, Anies Sebut Kesalahan Ada di Sistem

Oleh: Admin Rabu 30 Okt 2019, 17:51 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan/Ayojakarta.com

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Anggaran pengadaan lem aibon sebesar Rp 82,2 miliar dan pulpen sebesar Rp 123,8 miliar dalam Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2020 viral. 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan telah membahas hal itu dua minggu yang lalu, namun enggan mengumumkannya. Menurut Anies, hal itu terjadi lantaran lantaran sistem digital yang masih manual, sehingga tidak bisa menghitung secara otomatis nilai-nilai yang dimasukkan. 

"Ini ada problem sistem, yaitu sistem digital, sistemnya digital tapi tidak smart, smart system dia bisa melakukan pengecekan, dia bisa melakukan verifikasi, dia bisa menguji. Nah ini sistemnya digital tapi sistemnya masih mengandalkan manual," ungkap Anies di Balaikota, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019).

Lebih lanjut Anies mengatakan, dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), misalnya, rencana pentas musik atau pameran ditetapkan nilai sebesar Rp 100 juta, padahal jumlah tersebut terbagi juga untuk turunan komponen lainnya.

AYO BACA : Anggaran Belanja Pulpen Sudin Pendidikan Menyusut Jadi Rp 18 Miliar

"Nah Rp 100 juta itu ada turunan komponennya. Nah, di kita diturunkan sampai detail di level rencana, padahal sesungguhnya yang dibutuhkan pada anggaran kegiatannya dulu, karena nanti di dalam rencananya akan dibahas bersama dengan dewan," ujar Anies.

Anies mengklaim, stafnya sering memasukkan nilai yang salah ke sistem dengan nilai yang cukup besar, lantaran bisa diperbaharui dalam pembahasan di dewan, hal ini pun dinilai Anies sebagai tindakan teledor.

"Teledor itu ya asal ada dulu, toh nanti diverifikasi nanti dibahas, diujung akan begitu, tapi yang terpenting anggarannya sudah 100 juta itu sudah terpenuhi. Nah hal ini berlangsung tiap tahun, jadi saya cek jadi tiap tahun selalu muncul angka yang aneh-aneh," tuturnya.

Ditambahkan Anies, jika sistem pintar maka akan otomatis melakukan kalkulasi dengan sendirinya. 

"Saya misalnya lulus SD tahun 82, terus masuk SMP-nya tahun 80 maka sistemnya harusnya nolak," pungkasnya. 

AYO BACA : Sudin Pendidikan Jakbar Serahkan Polemik Lem Aibon ke Gubernur Anies Baswedan

Reporter Admin
Editor Lopi Kasim