LEBAK BULUS, AYOJAKARTA.COM - Pedagang di TerminaL Lebak Bulus Jakarta Selatan harus balik ke Tasikmalaya dan banting steer menjadi tukang cangkul di kampung halamannya. Itu terjadi lantaran kondisi di terminal belum bisa kembali normal sejak wabah Covid-19 merebak di Indonesia.
Yayak (52), menceritakan bagaimana corona merobohkan perekonomiannya. Menurutnya, pulang kampunng dan menjadi tukang cangkul bukanlah pekerjaan sampingan, melainkan karena keterpaksaan.
"Ini bukan kerjaan sampingan, tapi terpaksa,” ujar Yayak yang merupakan salah satu pedagang warung di Terminal Lebak Bulus, Kamis (30/7/2020).
Gara-gara pandemi Covid-19, pedagang warung di sekitar Terminal Lebak Bulus menutup warungnya. Pasalnya, jika pun mereka buka, namun pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari. Yayak menuturkan, para pedagang memilih menutup warungnya secara serempak selama empat bulan.
AYO BACA : Anies Perpanjang Lagi PSBB Transisi Fase I hingga 13 Agustus 2020
Baru sejak 16 Juli lalu, Yayak yang sempat pulang kampung kembali ke Ibu Kota. Dia tinggalkan istri dan enam anaknya di kampung sampai kondisi Jakarta pulih sebelum pandemi Covid-19. Warung berukuran 1,5x3 meter yang menjual makanan ringan, kopi, camilan, sudah dibukanya kembali.
Sayangnya, meskipun warungnya sudah beroperasi kembali, sejauh ini penghasilan Yayak belum stabil. Dia tetap bersyukur dengan keadaan sekarang. “Alhamdulillah ada lah buat makan mah,” tuturnya.
Hingga saat ini, Yayak hanya mengandalkan warga yang lewat, penumpang Terminal Lebak Bulus yang masih terhitung sedikit, serta sopir bus. Hanya saja, ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya lantaran pendapatannya anjlok. “Selama pandemi ini mah enol. Pemasukan enol pisan,” ucap Yayak dengan logat Sunda yang kental.
Selain minimnya pemasukan, Yayak juga tidak mendapatkan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Selama tinggal di kampungnya di Tasikmalaya, ia dianggap bukan sebagai warga yang masuk kategori prasejahtera. Malahan, ketika ia tiba di Jakarta, malah mendapat bansos dari ketua RT. “Tapi waktu ke sini ada dapet sembako, sekali,” kata Yayak, meskipun KTP-nya menunjukkan bahwa ia bukan warga Jakarta.
Terkait pandemi Covid-19, Yayak mengaku, lebih memikirkan nasib anak dan istri di rumah yang pasti mengharapkan kiriman uang. Hanya saja, ia belum bisa mengirim uang lantaran pemasukan dari hasil berjualan juga pas-pasan. Dia pun hanya bisa tabah. “Ini pandemi mah emang, duh, menyakitkan,” tutur Yayak sedih yang mencoba tegar.
AYO BACA : Dear Mas Menteri Nadiem, Siswa Sekolah di Pegunungan Dieng Belajar di Atap Rumah karena Susah Sinyal