AYOJAKARTA.COM - Kawasan Kuningan kembali memasuki fase penataan besar. Pemprov DKI Jakarta resmi mengalokasikan anggaran sekitar Rp102 miliar dari APBD 2026 untuk membenahi koridor Jalan HR Rasuna Said, salah satu “etalase” Ibu Kota yang dipenuhi gedung ekonomi, perkantoran, dan kedutaan besar.
Selama bertahun-tahun, Jalan Rasuna Said identik dengan tiang monorel terbengkalai yang menyisakan wajah arsitektural tidak sedap dipandang.
Di sisi lain, mobilitas kawasan ini semakin padat dengan kehadiran LRT, TransJakarta, pusat bisnis, serta aktivitas pejalan kaki yang meningkat.
Kondisi ini menjadikan penataan menjadi urgensi, bukan sekadar proyek estetika.
Pemprov DKI menegaskan bahwa penataan Rasuna Said tidak hanya fokus pada pembongkaran tiang monorel.
Proyek ini mencakup pembenahan jalan raya, drainase, marka, “street furniture”, dan trotoar agar lebih optimal dari aspek keselamatan, kenyamanan, dan estetika ruang kota.
Dilansir dari akun Instagram @dkijakarta, dua tiang monorel di segmen Setiabudi telah dipotong.
Sisa struktur tampak ditandai lakban kuning-hitam dan barier beton sebagai area kerja. Total terdapat 109 tiang monorel yang akan ditata ulang secara bertahap.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan proses pemotongan dilakukan pukul 23.00–05.00 agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Skemanya satu tiang per malam tanpa penutupan total, hanya penutupan lajur lambat secara bergilir.
Target penyelesaian disebut rampung pada September 2026, dan menjadi penanda keseriusan DKI membenahi aset publik terbengkalai.
Kawasan Kuningan kini menjadi salah satu pusat integrasi transportasi publik dengan jaringan LRT Jabodebek, TransJakarta, Mikrotrans, hingga koneksi ke jalur pedestrian Sudirman–Thamrin.
Penataan trotoar menjadi prioritas agar pejalan kaki memiliki jalur aman, rapi, dan tidak terhalang struktur lama.
Dalam rancangannya, trotoar akan dibangun dengan standar universal access, ramah disabilitas, serta mendukung konektivitas antar halte dan titik transit.
Jika proyek ini rampung, Rasuna Said berpotensi berubah menjadi ruang kota representatif yang mendukung investasi, wisata urban, dan mobilitas modern.
Di level makro, facelift ini melanjutkan transformasi wajah Jakarta pascapindahnya status ibu kota, sekaligus memperkuat branding Jakarta sebagai kota global.
Publik pun menantikan bagaimana Kuningan berbenah setelah bertahun-tahun terjebak citra monorel mangkrak.
Pertanyaannya, ketika Rasuna Said sudah rapi dan estetis, apakah kawasan Kuningan akan kembali menjadi koridor favorit warga urban?***