AYOJAKARTA.COM - Kita bisa melakukan amalan sunah Idul Adha untuk menambah pahala di Hari Raya Idul Adha 1443 H atau 2022.
Banyak sekali amalan sunah Idul Adha yang bisa dilakukan agar menambah ibadah kita semakin bermanfaat.
Rasulullah SAW pun mengajarkan untuk kita bisa melakukan amalan sunah Idul Adha agar mendapat kemuliaan dari Allah SWT.
Hari Raya Idul Adha sendiri datang satu tahun sekali, seperti Hari Raya Idul Fitri.
Maka hendaknya kita laksanakan dengan sesempurna mungkin dengan menjalankan semua amalan sunah Idul Adha dengan niat tulus dan mengharap pahala dari Allah SWT.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Orang Mampu Tapi Tidak Berkurban saat Idul Adha? Begini Penjelasannya
Dikutip AyoJakarta.com dari NU Online, berikut 6 amalan sunah idul Adha yang dianjurkan oleh para ulama.
1. Mengumandangkan takbir di masjid-masjid, mushalla dan rumah-rumah pada malam hari raya.
Takbir dimulai dari terbenamnya matahari sampai imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya Idul Adha.
Karena pada malam tersebut kita dianjurkan untuk mengagungkan, memuliakan dan menghidupkannnya, anjuran ini sebagaimana terdapat dalam kitab Raudlatut Thalibin
فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ
"Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah."
Sebagian ulama ahli fiqih ada yang memberi keterangan tentang beribadah di malam hari raya, yaitu melaksanakan salat maghrib dan isya’ berjamaah, sampai dengan melaksanakan salat subuh berjamaah.
Baca Juga: 3 Tips Ampuh Hilangkan Bau Daging Kambing saat Idul Adha
2. Mandi untuk salat Id sebelum berangkat ke masjid.
Hal ini boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama yaitu sesudah waktu subuh, dikarenakan tujuan dari mandi ialah untuk membersihkan anggota badan dari bau yang tidak sedap, dan membuat badan menjadi segar bugar, maka mandi sebelum waktu berangkat adalah yang paling baik.
يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل
"Disunnahkan mandi untuk shalat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, ata pertengahan malam."
Kesunnahan mandi ialah untuk semua kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan, baik yang akan berangkat melaksanakan salat Id maupun bagi perempuan yang sedang udzur syar’i sehingga tidak bisa melaksanakan salat Id.
Baca Juga: Keutamaan Puasa Dzulhijjah, Menghapus Dosa Selama 2 Tahun hingga Dibebaskan dari Siksa Neraka
3. Disunahkan memakai wangi-wangian, memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau-bau yang tidak enak, untuk memperoleh keutamaan hari raya tersebut.
Hal-hal itu boleh dilakukan kapan saja, saat dalam kondisi yang memungkinkan, dan tidak harus menunggu datangnya hari raya, misalnya saja seminggu sekali saat hendak melaksanakan shalat Jumat.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab terdapat keterangan mengenai amalan sunnah ini,
والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب
"Disunnahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengn memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jumat, dan disunnahkan juga memakai wangi-wangian."
Baca Juga: Kemenag Gelar Sidang Isbat Idul Adha 2022 Sore Ini, Masyarakat Bisa Saksikan Melalui Live Streaming
4. Memakai pakaian yang paling baik, bersih dan suci.
Jika tidak memilikinya cukup memakai pakaian yang bersih dan suci, akan tetapi sebagian ulama’ mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian yang putih dan memakai serban.
Berkaitan dengan memakai pakaian putih, hal ini diperuntukkan bagi kaum laki-laki yang hendak mengikuti jamaah salat Id maupun yang tidak mengikutinya.
Sedangkan untuk kaum perempuan, cukup memakai pakaian yang sederhana atau pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari, karena berdandan dan berpakaian secara berlebihan hukumnya makruh.
Begitu juga dengan menggunakan wangi-wangian secara berlebihan.
Dalam Kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan:
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَأَفْضَلُهَا الْبِيضُ، وَيَتَعَمَّمُ. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا، اسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، وَيَسْتَوِي فِي اسْتِحْبَابِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ، الْقَاعِدُ فِي بَيْتِهِ، وَالْخَارِجُ إِلَى الصَّلَاةِ، هَذَا حُكْمُ الرِّجَالِ. وَأَمَّا النِّسَاءُ، فَيُكْرَهُ لِذَوَاتِ الْجَمَالِ وَالْهَيْئَةِ الْحُضُورُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَجَائِزِ، وَيَتَنَظَّفْنَ بِالْمَاءِ، وَلَا يَتَطَيَّبْنَ، وَلَا يَلْبَسْنَ مَا يُشْهِرُهُنَّ مِنَ الثِّيَابِ، بَلْ يَخْرُجْنَ فِي بِذْلَتِهِنَّ.
"Disunnahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukupla ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian."
Sabda Nabi SAW berikut ini memberi penjelasan terkait memakai pakaian yang paling baik, riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA,
كَانَ يلبس في العيد برد حبرة
"Rasulullah SAW di hari raya Id memakai Burda Hibarah (pakaian yang indah berasal dari yaman)."
Baca Juga: Pemprov DKI Minta Warga Tak Datangkan Hewan Kurban ke Jakarta Mulai 24 Juni, Ada Apa?
5. Saat berjalan menuju ke masjid ataupun tempat salat Id hendaklah berjalan kaki karena hal itu lebih utama.
Sedangkan untuk orang yang telah berumur dan orang yang tidak mampu berjalan, boleh saja ia berangkat dengan menggunakan kendaraan.
Dikarenakan dengan berjalan kaki ia bisa bertegur sapa mengucapkan salam dan bisa bermushafahah (Bersalam-salaman) sesama kaum muslimin.
Sebagaimana sabda Nabi SAW riwayat dari Ibnu Umar,
كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
"Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan shalat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat shalat Id."
Selain itu dianjurkan pula berangkat lebih awal agar mendapatkan shaf atau barisan depan.
Sembari menunggu salat Id dilaksanakan bisa bertakbirbersama-sama di masjid dengan para jama’ah lainnya.
Imam Nawawi dalam Kitabnya Raudlatut Thalibin menerangkan anjuran tersebut,
السُّنَّةُ لِقَاصِدِ الْعِيدِ الْمَشْيُ. فَإِنْ ضَعُفَ لِكِبَرٍ، أَوْ مَرَضٍ، فَلَهُ الرُّكُوبُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْقَوْمِ أَنْ يُبَكِّرُوا إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ إِذَا صَلَّوُا الصُّبْحَ، لِيَأْخُذُوا مَجَالِسَهُمْ وَيَنْتَظِرُوا الصَّلَاة
Baca Juga: Permintaan Pemotongan Hewan Kurban di RPH Naik Hingga 200% dari Tahun Lalu
6. Untuk Hari Raya Idul Adha disunnahkan makan setelah selesai melaksanakan salat Id.
Hal itu berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri yang disunahkan makan sebelum melaksanakan salat Id.
Pada masa Nabi SAW makanan yang dimakan berupa kurma yang jumlahnya ganjil, entah satu biji, tiga biji ataupun lima biji.
Jika di Indonesia makanan pokok adalah nasi, akan tetapi jika memiliki kurma maka hal itu lebih utama.
Jika tidak mendapatinya maka cukup dengan makan nasi atau sesuai dengan makanan pokok daerah tertentu.
عن بريدة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتي يرجع
"Diriwayatkan dari Sahabat Buraidah RA, bahwa Nabi SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan, dan pada hari raya Idul Adha sehingga beliau kembali ke rumah."
Diriwayatkan juga dari Sahabat Anas RA
انَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا .***