Khazanah

Tidak Harus di Masjid, Menyambut Lailatul Qadar di Rumah Bersama Keluarga, Begini Penjelasan Buya Yahya

Oleh: Fina Salsabila Aura Rabu 19 Mar 2025, 04:32 WIB
Buya Yahya soal malam lailatul qadar yang tak harus di masjid

AYOJAKARTA.COM - Lailatul Qadar merupakan malam yang istimewa dalam bulan Ramadhan, namun waktu pastinya disembunyikan oleh Allah SWT sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada umat manusia.

Buya Yahya dalam penjelasannya menekankan bahwa penyembunyian ini memiliki hikmah yang sangat dalam.

"Hai itu tanda kasih sayang Allah disembunyikan. Tidak diberitahu kalau Lailatul Qadar diberitahu, maka berantakan dunia ini. Anda mau ke pasar enggak bisa, sopir angkot juga nggak mau, dia akan berkisar Lailatul Qadr, yang masak pun gak mau, anda enggak makan, warung enggak jualan, karena semuanya pengin Lailatul Qadar," jelas Buya Yahya.

Baca Juga: Pelaku UMKM Akui Pelatihan Digitalisasi dan Business Matching dari BRI Berperan Vital Mendongkrak Pemasaran

Beliau menganalogikan bahwa jika waktu pastinya diberitahukan, maka seluruh aktivitas kehidupan akan terhenti karena semua orang akan fokus beribadah pada malam tersebut, sehingga menimbulkan kekacauan.

Meski demikian, para ulama telah bersepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan, dan kemungkinan besarnya adalah pada sepuluh malam terakhir bulan suci ini, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, dan 29).

Imam Syafi'i bahkan menyebutkan bahwa malam ke-21 lebih banyak diharapkan, meskipun tidak dipastikan secara mutlak.

Buya Yahya juga mengkritisi fenomena di masyarakat yang hanya ramai mengunjungi masjid pada malam yang telah ditentukan sebagai Lailatul Qadar.

Sementara malam-malam lainnya menjadi sepi, "Ramai di hari yang ditentukan Lailatul Qadar, dan dimana diamit, 'Ah kapan?' 'Besok malam 21.' Ramenya luar biasa. 23 diajak ramai lagi enggak mau, alasannya 'Pak, aku sudah dapat Lailatul Qadr.' Padahal Nabi tidak begitu mengajarinya."

Dalam tradisi Nabi Muhammad SAW, beliau menunjukkan sikap yang berbeda dalam menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan.

"Nabi kalau sudah masuk Indah kalau Astro akhiran Rhoma, won't you gitu, ah lahu dibangun dengan keluarganya, semir tal tsaubahu meruncingkan lengan baju, dan seterusnya. Itu Baginda Nabi kalau saya masuki 10 Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya dan Buddha beribadah dengan lebih banyak lagi," jelas Buya

Baca Juga: Fitur Baru WhatsApp untuk Simpan Status, Begini Caranya

Beliau menekankan bahwa kita seharusnya tidak memilih-milih malam tertentu saja, tetapi menghidupkan semua malam Ramadhan dengan ibadah, dan meningkatkan intensitasnya pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil.

Buya Yahya mengumpamakan pencarian Lailatul Qadar seperti seseorang yang menantikan makanan kesukaan atau memenuhi permintaan orang yang dicintai:

"Ada orang mau jualan makanan kesukaan anda, dan anda, istri anda yang paling anda cintai, dan anak-anak anda pun berbunyi anak ngidam istrinya, nidham tak tanya apa makanan kesukaannya adalah di dalam sehari ini perkiraan antara waktu Dhuhur sama magrib.

Kira-kira dimana? Kalau Anda anggap saja sehari ini enggak tahu, bisa pagi bisa siang bisa-bisa sore. Biasanya anda mengharap betul, pasti dari pagi anda nungguin."

Analogi ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim tidak hanya fokus pada satu malam saja.

Tetapi berusaha menghidupkan seluruh malam Ramadhan dengan ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir, untuk memaksimalkan kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar.

Mengenai lokasi dan waktu pelaksanaan ibadah di malam Lailatul Qadar, Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada ketentuan khusus harus di masjid saja.

"Baik ajak keluarga, tidak harus di masjid, bisa di rumah. Di rumah jangan sampai gara-gara tidak ke mesjid anda mendapatkan kebaikan," tegas beliau.

Baca Juga: Cerita Lucu UMKM Binaan BRI, Bukannya Dituntut Hak Cipta malah Diminta Sematkan Nama Ibu pada Sepatu Wanita

Hal ini menjadi penting terutama bagi wanita yang mungkin tidak dapat pergi ke masjid karena berbagai alasan atau bagi mereka yang harus menjaga anak di rumah sementara suami mereka beri'tikaf di masjid.

Buya Yahya mengingatkan, "Anda jangan mau ketinggalan, bangun di malam itu. Penuhi panggilan Helmi mustaghfirin faviola, siapa yang minta ampun akhirnya kau ampuni, siapa minta hajat agan aku PNY, saya minta untuk hajatnya akan aku penuhi. Bangun juga biarpun di rumah, tetap berpikir, baca al-qur'an, baca shalawat dan seterusnya. Intinya hidupkan malam itu dengan ibadah."

Beliau juga menjelaskan bahwa menemui Lailatul Qadar tidak harus ditandai dengan pengalaman supranatural atau tanda-tanda khusus.

Seseorang bisa saja mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar tanpa menyadarinya.

"Orang menemui Lailatul Qadar itu bukan 'oh aku ketungkul dari perempatan jalan' begitu. Artinya siapapun yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah, maka dia mendapat gelar doktor, biarpun tidak sadar kalau dia mendapatkannya."

Buya Yahya juga menyarankan untuk tidak menyombongkan diri jika merasa telah mendapatkan tanda-tanda Lailatul Qadar, karena hal tersebut sebaiknya dirahasiakan.

Baca Juga: Tanggapi OTT KPK Anggota DPRD dan Satu Kepala Dinas di Kabupaten, Bupati OKU Teddy Meilwansyah Pastikan Pelayanan Umum Tetap Berjalan

"Bahkan ini perlu dirahasiakan halnya semacam ini. Kalau kita mendengar cerita ulama melihat tanda-tanda semacam ini, itu hanya segar diceritakan untuk memberi motivasi yang lainnya, bukan untuk pamer 'aku sudah ketemu oleh dokter.'"

Dengan demikian, esensi dari Lailatul Qadar adalah menghidupkan malam dengan berbagai bentuk ibadah, baik di masjid maupun di rumah, dengan penuh keikhlasan dan tanpa mengharapkan pengalaman supranatural.***

Reporter Fina Salsabila Aura
Editor Jinan Vania Barizky