AYOJAKARTA.COM -- Di balik perjuangan yang tak mudah dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) ada kisah-kisah yang menarik untuk di simak.
Salah satunya datang dari Beny Ramdani Sofara yang fokus memproduksi barang-barang berbahan kulit.
Pendiri sekaligus pemilik UMKM asal Bandung, Blankenheim, itu telah memulai perjalanan bisnisnya semenjak tahun 2013.
Dalam rentang waktu selama lebih dari satu dekade itu ia mendapatkan berbagai pengalaman bisnis yang dinamis. Mulai dari omzetnya yang turun akibat pandemi, sampai mendapatkan cerita lucu gara-gara memakai merek "Blankenheim".
Beny memaparkan, pengambilan nama Blankenheim dipilihnya karena merupakan nama jalan dan tempatnya tinggal selama satu tahun di Belanda.
Sebagai kenang-kenangan dan ide bisnisnya sepulang ke Indonesia, ia pun mendaftarkan "Blankenheim" sebagai merek dagang produsen sepatu, tas, dan aksesoris lain yang berbahan kulit.
Baca Juga: Kisah 3 UMKM Kuliner Indonesia yang Tembus Pasar Global berkat Dukungan BRI
"Usut punya usut, kalau ditarik ke belakang lagi, Blankenheim ini sebenarnya nama keluarga yang dijadikan nama kota di Jerman kemudian di Belanda dipakai untuk nama jalan. Yang menariknya adalah, karena ini nama marga, jadi ada beberapa keturunan keluarga Blankenheim yang kontak kita," kenangnya.
Beny mengaku awalnya cukup waspada ketika keturunan keluarga Blankenheim mengontaknya lewat Facebook. Ia pun sempat ditanya apakah punya garis keturunan dari Jerman.
"Dia cerita bahwa kakek buyutnya di tahun 1900-an adalah perajin sepatu. Jadi itulah yang kita jual, story itu yang kita angkat," lanjutnya.
Pengambilan nama Blankenheim pun rupanya menarik minat dan rasa penasaran lebih luas. Tidak hanya di luar negeri, namun pula di Indonesia.
Pasalnya, selama ini khalayak tahunya Blankenheim adalah merek luar negeri.
Akan tetapi, bukannya dituntut perkara hak cipta atau diminta royalti, beberapa keturunan keluarga Blankenheim yang berkomunikasi dengan Beny justru malah diminta menyematkan nama salah satu ibu mereka jika memproduksi sepatu wanita.
"Mereka enggak meminta royalti. Mereka juga enggak bisa klaim karena kan Blankenheim ini udah kita daftarkan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Udah kita patenkan. Malah dia minta, tolong kalau ada produk cewek, bisalah nama ibu saya jadi nama item sepatunya," tutur Beny sambil tertawa mengingat percakapan lucu dengan keturunan keluarga Blankenheim.

Share this article
Beny memamparkan, pengambilan nama Blankenheim dipilihnya karena merupakan nama jalan dan tempatnya tinggal selama satu tahun di Belanda.