AYOJAKARTA.COM - Ramadan usai, datanglah bulan Syawal. Idul Fitri yang diperingati setelah Ramadan atau lebih tepatnya satu Syawal memiliki makna tersendiri.
Salah satu makna lainnya adalah memasuki Bulan Syawal dan adanya ibadah sunnah puasa Syawal.
Dikutip oleh ayojakarta.com pada 20 April 2023 dari laman resmi NU diketahui bahwa puasa Syawal dikerjakan selama enam hari dan memliki pahala puasa setahun.
Baca Juga: Buya Yahya Ungkap Keutamaan Puasa Syawal 6 Hari, MasyaAllah Pahalanya Luar Biasa!
Dasar hukum puasa Syawal memiliki pahala puasa setahun adalah hadits riwayat Imam Muslim.
“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.”
Namun, sifat sunnah itu hanya berlaku bagi mereka yang tidak memiliki tanggungan puasa wajib, misal hutang puasa nazar atau ramadan.
Baca Juga: RESMI! Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1444 H, Jatuh pada 21 April 2023
Hukum puasa Syawal bisa menjadi makruh atau lebih baik ditinggalkan apabila seseorang yang ingin puasa syawal itu memiliki hutang puasa ramadan karena perjalanan jauh, keadaan sakit dan lainnya.
Sementara puasa Syawal bisa menjadi haram dilakukan oleh orang yang dengan sengaja tidak berpuasa di Bulan Ramadan.
Lalu apa hukum membatalkan puasa Syawal karena bertamu?
Baca Juga: Kapan 1 Syawal atau Idul Fitri 1444 H? Kemenag Lakukan Ini untuk Dapatkan Jawabannya
Membatalkan puasa Syawal karena bertamu? Boleh, bahkan sunnah. Hal ini terjadi karena ketika bertamu dan apabila rumah yang didatangi saat bertamu keberatan akan puasa sunnah yang sedang dijalani oleh yang puasa, maka sunnah untuk membatalkan.
Alasan menyenangkan hati tuan rumah atau (idkhalus surur) memiliki pahala yang lebih baik daripada puasa sunnah itu sendiri.
Hal ini sesuai dengan kitab Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, III, halaman 36.
Baca Juga: 10 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H, Simpel Namun Penuh Makna!
Bahkan pada hadits yang diriwayatkan ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, sahabat Rasulullah ernah ditegur oleh Rasulullah karena menolak pemberian makanan atau jamuan saat bertamu.
Bahkan dikutip melalui laman milik Syaikh Abdul Aziz bin Baz terungkap bahwa ada alasan puasa Syawal boleh dibatalkan, alasannya adalah panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya.
Bahkan, menurut Hadits Riwayat Muslim no. 1154, berdasarkan pengakuan Aisyah RA, istri Rasulullah sebagimana berikut ini.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya, ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?’.
Aisyah menjawab, ‘tidak’.
Beliau bersabda, ‘kalau begitu aku akan berpuasa’.
Kemudian di lain hari beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma)’.
Nabi bersabda, ‘kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi aku berpuasa’. Lalu Nabi memakannya.” ***