Khazanah

Road to Ramadan: Kenali Nyadran, Tradisi Jelang Puasa dari Yogyakarta!

Oleh: Zharifah Ardiana Senin 27 Feb 2023, 20:13 WIB
Sadranan atau Nyadran, Tradisi Menyambut Ramadan

AYOJAKARTA.COM - Kurang dari sebulan lagi Ramadan 1444 Hijriah tiba.

Seperti diketahui, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1444 Hijriah jatuh pada 23 Maret 2023.

Indonesia sebagai negeri dengan 1001 budaya, memiliki berbagai tradisi jelang Ramadan salah satunya adalah Nyadran yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dikutip dari laman kebudayaan.jogjakota.go.id oleh ayojakarta.com pada 27 Februari 2023, Nyadran berasal dari Bahasa Sansekerta 'Sraddha' yang berarti keyakinan. 

Baca Juga: UPDATE Jadwal Lengkap Penjualan Tiket Kereta PT KAI untuk Lebaran 2023, Plus dengan Syarat dan Cara Belinya

Tradisi mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan memuat berbagai macam seni budaya, seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya dan asimilasi dengan budaya baru.

Tradisi Nyadran dilakukan oleh orang Jawa di bulan Syaban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa) untuk mengucapkan rasa syukur secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur.

Selain sebagai sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia hingga mengingatkan diri akan kematian, Nyadran juga dijadikan sebagai sarana gunamelestarikan budaya gotong royong dan menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).

Tradisi Nyadran terdiri dari beberapa kegiatan, yakni pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan, arak-arakan atau iringan peserta Nyadran menuju tempat upacara adat dilangsungkan.

Baca Juga: Ceramah Lucu Mbah Moen Tentang Ramadan, Cocok Dibagikan di Grup WhatsApp dan Facebook!

Setelah menyampaikan maksud dari serangkaian upacara adat Nyadran oleh pemangku adat, ada doa bersama yang ditujukan kepada roh leluhur yang sudah meninggal dan ditutup makan bersama.

Masyarakat menggelar Kembul Bujono atau makan bersama dengan setiap keluarga yang mengikuti kenduri dan harus membawa makanan sendiri.

Makanan yang dibawa berupa ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, tempe dan tahu bacem dan lain sebagainya.

Baca Juga: Inilah Tips Sehat Berbuka Puasa Ramadan dari Ahli Kesehatan, Ternyata Ada Makanan yang Perlu Dihindari!

Bawaan kenduri atau bungkusan makanan masing-masing kemudian diletakkan di depan untuk didoakan oleh pemuka agama setempat untuk mendapatkan berkah dan kemudian makanan tersebut ditukar antar keluarga untuk saling berbagi.

Nilai-nilai di masyarakat seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi dan saling berbagi antar masyarakat melalui makan bersama juga ditekankan selain nilai agama yaitu mengirimkan doa kepada leluhur.

Tradisi Nyadran dilakukan dengan kearifan lokal masing-masing sehingga ditemukan perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya di beberapa tempat, bahkan ada yang menampilkan berbagai kesenian khas daerah tersebut sebagai unsur pertunjukan.***

Reporter Zharifah Ardiana
Editor Fathul Amanah