AYOJAKARTA.COM---Sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Bulan Ramadan sendiri merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat muslim
Pada bulan Ramadan, Allah melipatgandakan pahala untuk semua amalan baik yang dikerjakan.
Selain itu hal yang paling istimewa dalam bulan Ramadan adalah mengerjakan ibadah wajib yakni puasa.
Baca Juga: Sudah Bayar Tapi Ngutang Lagi? Kata Mbah Moen Baca Ini 100 Kali Agar Terhindar dari Hutang
Dimana orang yang berpuasa harus menahan untuk tidak makan dan minum juga menahan segala hawa nafsu seharian selama 30 hari.
Kemudian bagaimana hukumnya apabila tidak bisa menjalankan ibadah puasa secara penuh, apalagi bagi kaum perempuan yang setiap bulannya mengalami haid.
Dikutip AyoJakarta.com dari akun Tiktok @baby_an1496 pada (29/3/2022), hukum mengenai hutang puasa tersebut dijelaskan oleh Ustadz Abdul Somad.
Sebelum menjelaskan tentang hukum membayar hutang puasa, Ustadz Abdul Somad menyebut jika ada waktu yang sudah tidak diperbolehkan untuk membayar hutang puasa.
Waktu yang sudah tak boleh digunakan untuk membayar hutang puasa adalah apabila sudah lewat nifsu sya’ban.
“Kalau sudah lewat nifsu sya’ban tak boleh lagi puasa, yang tak boleh itu puasa sunat,” ujar Ustadz Abdul Somad.
“Tapi puasa qodo’ boleh puasa lebaran boleh, puasa fidhiyah boleh,” imbuhnya.
Kemudian soal membayar hutang puasa, Ustadz Abdul Somad menegaskan jika hutang puasa harus dibayar.
“Maka bayarkan hutang yang kemarin ,” tegas UAS.
Khususnya bagi para perempuan yang sudah pasti memiliki hutang puasa karena kodratnya haid, melahirkan, serta menyusui.
Kemudian UAS juga membacakan sebuah hadist mengenai bagaimana jika hutang puasa tidak dibayar.
Baca Juga: Apakah Kredit Rumah dengan Sistem KPR Itu Riba? Simak Penjelasan Ustadz Adi Hidayat Menurut Islam
Di mana hadist tersebut jika diterjemahkan memiliki arti seperti berikut.
“Siapa yang mati punya hutang puasa, ahli warisnya,” ujar Ustadz Abdul Somad.
“Wajib menggantikan puasanya tak ada tawar menawar!” tegas UAS.