AYOJAKARTA.COM - Sejak gempa Cianjur terjadi pada 21 November 2022 silam, publik kian akrab dengan istilah-istilah di bidang ilmu Geologi.
Dikutip ayojakarta.com dari laman dinas pendidikan, geologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu mengenai planet bumi, di mana gempa adalah salah satunya.
Dari nama sesar atau patahan, lempeng hingga jenis-jenis gempa, istilah megathrust kini ramai menjadi pemberitaan yang terus-menerus.
Secara harfiah, megathrust memiliki makna yang terdiri dari kata dasar mega dan thrust, mega berarti sangat besar dan thrust adalah patahan naik.
Baca Juga: Mengenal Patahan Baru Sesar Cugenang, Ternyata Jadi Pemicu Gempa Cianjur
Sebagaimana diketahui bersama, Ring of Fire atau cincin api terhampar dan mengelilingi di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Dikutip Ayojakarta dari YouTube IDX Channel pada Jumat 9 Desember 2022, diketahui informasi terkait dampak lain dari gempa megathrust.
Menurut Dwikorita Karnawati selaku Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi gempa megathrust adalah sesuatu yang perlu diwaspadai.
Dalam sebuah wawancara, Kepala BMKG ini menjelaskan lebih rinci dan spesifik mengenai megathrust yang akhir-akhir ini menjadi akar kecemasan sebagian orang.
“Gempa megathrust adalah gempa yang terjadi di zona kontak atau tumbukkan antar lempeng samudera dan lempeng benua,” jelas Dwikorita.
Baca Juga: Bukan Gempa Sesar Baribis yang Akan Menimbulkan Korban Jiwa, Tapi Hal Ini Kata Ahli
Kontak atau tumbukkan antar lempeng tersebut sering terjadi dalam skala kekuatan bervariasi dan semua bisa diketahui melalui alat seismograf.
“Yang perlu diwaspadai dari adanya gempa megathrust ini adalah yang memiliki magnitudo di atas 7 dan bisa membawa kehancuran,” tambahnya.
Rita juga menjelaskan hal itu dikarenakan tumbukkan besar yang terjadi di dasar laut, bisa berpotensi dan menyebabkan adanya tsunami.
Ketika ditanya apakah lempeng-lempeng tektonik yang bisa memicu gempa megathrust ini berada di sejumlah Kepulauan Indonesia, Dwikorita kembali memberi penjelasan.
“Kepulauan Indonesia sehingga bisa muncul, Indonesia bisa hadir di atas permukaan air laut justru diakibatkan karena adanya tumbukkan lempeng,” jelasnya.
“Jika saja tidak ada tumbukkan antar lempeng tersebut, mungkin Kepulauan Indonesia juga tidak akan pernah hadir,” tambah Dwikorita.
Baca Juga: Gorontalo Diguncang Gempa M 4.9 pada Jumat, 9 Desember 2022, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Kepulauan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari adanya tumbukkan lempeng, maka gempa akan terus terjadi.
Rita juga mengingatkan bahwa dampak dari adanya gempa tersebut bukan sesuatu yang selalu berarti buruk.
“Selama lempeng bergerak, itu menandakan denyut kehidupan di planet bumi masih hidup, jika lempeng sampai berhenti, maka hanya Tuhan yang Maha Mengetahui,” pungkasnya.***