AYOJAKARTA.COM - BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah menemukan penyebab gempa Cianjur yaitu karena patahan baru yang dinamakan Sesar Cugenang.
Penemuan Sesar Cugenang sebagai penyebab gempa Cianjur diungkapkan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (8/12/2022).
Dikutip Ayojakarta.com dari Suara.com pada Jumat 9 Desember 2022, Daryono menjelaskan penemuan terkait Sesar Cugenang tersebut.
"Berdasarkan hasil analisis focal mechanism serta memerhatikan posisi episenter gempa utama dan gempa susulan, dapat diketahui bahwa patahan pembangkit gempa bumi Cianjur merupakan patahan baru," ujar Daryono.
Baca Juga: Gorontalo Diguncang Gempa M 4.9 pada Jumat, 9 Desember 2022, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Patahan aktif Sesar Cugenang ini sebelumnya belum terpetakan, karena dugaan awal penyebab gempa Cianjur menurut BMKG adalah karena adanya pergerakan Sesar Cimandiri.
Namun banyak pakar ahli kegempaan tanah air yang justru membantah bahwa sesar Cimandiri lah penyebabnya.
Menurut para ahli, gempa yang menewaskan lebih dari 300 orang tersebut dipicu oleh sesar misterius yang belum terpetakan.
Daryono juga menjelaskan berdasarkan analisis mekanisme pergerakan patahan dan episenter gempa utama serta susulan, patahan itu mengarah ke N 347 derajat timur dan kemiringan (dip) 82,8 derajat dengan mekanisme gerak geser menganan (dextral stike-slip).
Baca Juga: Mengenal Apa Itu Sesar Cimandiri, Sesar Baribis dan Sesar Mataram di Jalur Gempa Bumi
Ditemukan kondisi di mana ada 1800 rumah warga yang berada pada zona bahaya Sesar Cugenang.
BMKG lalu menyarankan agar 1800 rumah pemukiman yang berada di daerah seluas 8,09 kilometer persegi tersebut direlokasi.
Hal ini karena kondisi permukiman tersebut berada di zona bahaya Sesar Cugenang seperti sebagian Desa Talaga, Sarampad, Nagrak dan Cibulakan.
"Berdasarkan zona bahaya tersebut di atas, maka area yang terdokumentasi untuk direlokasi adalah area seluas 8,09 KM2 dengan hunian sebanyak kurang lebih 1.800 rumah yang berada di dalam zona bahaya patahan geser Cugenang, meliputi sebagian Desa Talaga, Sarampad, Nagrak, Cibulakan," ungkap Daryono.
Baca Juga: Gempa Bumi Berkekuatan Magnitudo 4,1 dan 3,6 Terjadi di Bali dan Banten, Berikut Penjelasan BMKG
Zona bahaya tersebut merupakan zona yang sangat rentan mengalami pergeseran atau deformasi getaran sehingga dapat mengalami kerusakan lahan dan bangunan.
Gempa Cianjur juga merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga meminta agar zona-zona yang berbahaya itu harus direlokasi.
"Zona bahaya itu dikosongkan dari hunian, tetapi bisa untuk dimanfaatkan untuk non hunian misalnya untuk persawahan, area resapan, konservasi, dihutankan, tapi jangan dibangun rumah lagi," ungkap Dwikorita kepada pers.***

Share this article
BMKG sebut Sesar Cugenang sebagai penyebab gempa Cianjur berkekuatan 5.6 magnitudo yang terjadi pada 21 November 2022.