Komunitas

Dar Der Dor! Hebatnya Kesenian Musik Tanjidor Betawi Masih Eksis di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta Modern

Oleh: Fina Salsabila Aura Senin 21 Jul 2025, 09:59 WIB
Tanjidor lahir dari perpaduan budaya yang unik, diambil dari bahasa Portugis

AYOJAKARTA.COM - Siapa yang tidak kenal dengan bunyi "dar der dor" khas dari musik Tanjidor?

Kesenian musik tradisional Betawi ini memang udah jadi bagian yang nggak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jakarta.

Tanjidor lahir dari perpaduan budaya yang unik, diambil dari bahasa Portugis "Tangedor" yang artinya pemain alat musik.

Baca Juga: Jangan Khawatir! PKH dan BPNT Tahap 2 Masih Lanjut Dicairkan, Termasuk Bonus Beras 20 Kg dan Penebalan Rp400.000

Musik ini terdiri dari alat musik tiup seperti terompet dan trombone, ditambah dengan perkusi seperti senar drum dan drum bass yang mirip konsep drumband atau marching band versi kecil.

Biasanya dimainkan oleh 7-10 musisi yang kompak, Tanjidor sering tampil di acara-acara tradisional seperti pawai daerah, mengantar pengantin, dan perayaan Cap Go Meh.

Alunan musiknya yang meriah dan penuh semangat selalu berhasil mengajak siapa pun untuk tersenyum, menari, atau bahkan hanyut dalam nostalgia masa lalu yang penuh kehangatan.

Perjalanan Tanjidor dari masa ke masa cukup menarik untuk diikuti. Kesenian ini mulai dikenal sejak abad ke-14 sampai 16 ketika orang Portugis membawa pengaruh musik mereka ke Nusantara.

Pada abad ke-18, pengaruh Belanda sangat kental dalam lagu-lagu yang ditampilkan Tanjidor karena para budak sering memainkan kesenian ini di hadapan pejabat Belanda.

Tahun 1860 menjadi titik penting ketika perbudakan dihapus dan para pemain musik Tanjidor mulai membentuk perkumpulan musik sendiri.

Baca Juga: Dehidrasi Bisa Sebabkan Kejang dan Syok! Ini Panduan Lengkap Minum Air yang Benar

Memasuki abad ke-19, kesenian ini mulai tumbuh berkat peran Augustijn Michiels alias Mayor Jantje di daerah Citrap atau Citeureup.

Pada tahun 1950, Tanjidor semakin menjamur di Jakarta dan menjadi bagian penting dalam perayaan tahun baru Masehi, tahun baru Imlek, dan Cap Go Meh yang meriah.

Repertoar lagu yang dibawakan dengan musik Tanjidor sangat beragam dan mencerminkan sejarah panjang budaya Jakarta.

Ada lagu-lagu pengaruh musik Belanda seperti Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara yang biasanya dimainkan dengan tempo yang menggemaskan.

Kemudian ada juga lagu-lagu zaman Belanda seperti Mares Merin, Mares Duelmus, dan Walsa yang lebih bernuansa klasik Eropa.

Yang paling menarik adalah lagu-lagu Betawi asli seperti Jali-Jali, Keramat Karam, Merpati Putih, Surilang, Siring Kuning, Kicir-Kicir, Cente Manis, dan Stambul Persi yang penuh dengan nuansa lokal dan selalu bikin suasana jadi makin rame.

Dengan kekayaan repertoar seperti ini, Tanjidor nggak hanya sekadar hiburan, tapi juga jadi simbol kebanggaan dan identitas kota Jakarta yang harus kita jaga dan lestarikan sebagai warisan budaya yang berharga untuk generasi mendatang.***

Reporter Fina Salsabila Aura
Editor Jinan Vania Barizky