TEBET, AYOJAKARTA.COM – Imam Malik dan Imam Syafii adalah guru dan murid yang kemudian menjadi ulama besar. Mereka pun melahirkan mazhab fikih (hukum Islam), Maliki dan Syafii.—dua di antara empat mazhab yang besar dan bertahan sampai saat ini. Dua aliran lainnya adalah Hanafi yang mengacu kepada Imam Hanafi, dan Hambali yang merujuk kepada nama Imam Ahmad bin Hambal
Sebagai guru dan murid, Imam Maliki dan Imam Syafii tidak jarang berbeda pandangan mengenai ketentuan fikih suatu masalah, termasuk soal rezeki. Hal itu diceritakan oleh Sayid Machmoed BSA lewat akun Twitter @sayidmachmoed, Selasa (4 Agustus 2020).
Namun perbedaan pandangan di antara kedua ulama besar tersebut tidak menyebabkan hubungan mereka renggang. Bahkan tidak jarang mereka melawatinya dengan guyon seperti yang diceritakan oleh Sayid Machmoed BSA.
Berikut kicauan @sayidmachmoed:
1. Imam Malik dan Imam Syafi'i: Guru dan Murid Tertawa karena beda pendapat tentang rezeki
AYO BACA : KISAH ANAK PANCONG: Rahasia Indomie Ibu Sami
Imam Malik (Guru Imam Syafi'i) dalam majlis menyampaikan bahwa Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki.
2. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.
Sementara Imam Syafi'i (sang murid berpendapat lain), bahwa seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.
3. Guru dan murid ini pun bersikukuh pada pendapatnya masing-masing.
Hingga suatu saat imam Syafi'i sedang bepergian keluar pondok, Imam Syafi'i melihat rombongan orang yang sedang memanen Anggur, diapun membantu mereka.
4.Setelah pekerjaan selesai. Imam Syafi'i memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafi'i girang, namun bukan karena mendapatkan anggur, melainkan pemberian itu telah menguatkan pendapatnya.
5. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapatkan rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.
Bergegas Imam Syafi'i menjumpai Imam Malik Gurunya. Sambil memberikan oleh-oleh Anggur itu kepada Gurunya seraya berkata:
6. “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur ini tidak akan pernah sampai ditangan saya.”
Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap:
7. “sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.
8. Bukankah ini juga bagian rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki, lakukan yang menjadi bagian mu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya."
9. Kemudian mereka tertawa
Dua imam besar mengambil dua hukum yang berbeda dari hadist yang sama. Begitulah cara ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat nya sendiri
Semoga bermanfaat