AYOJAKARTA.COM -- Pasangan nomor urut 3 Pramono Anung-Rano Karno (Si Doel) secara sah memenangkan suara di Pemilihan Gubernur (Pilgub) PIlkada DKI Jakarta.
Pada 8 Desember 2024, pasangan Pram-Doel dinyatakan secara sah dinyatakan pemenang Pilgub Jakarta satu putaran dengan meraih suara terbanyak, yakni 2.183.239 atau 50,07 persen.
Direktur Utama (Dirut) Charta Politika, Yunarto Wijaya menyatakan bahwa kemenangan Pram-Doel menunjukkan kekuatan dukungan dari "Ahokers" dan "Anak Abah," yang merujuk pada basis pemilih yang setia kepada mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan.
Hal ini yang menjadi salah satu faktor dari kekalahan dari pasangan Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) di Pilgub Jakarta 2024.
Perkembangan Suara Pasangan Pram-Doel
Dirut Charta Politika, Yunarto Wijaya menurut saat pendaftaran pasangan Calon Pilgub DKI Jakarta, elektabilitas pasangan Pram-Doel masih 13 persen.
“saat itu mas Pram saya masukkan (ke dalam survei elektabilitas) juga namanya disimulasi banyak nama hanya 0,1% 0,1% 0,1% karena Tingkat pengenalannya saat itu hanya 13 persen,” Dirut Charta Politika, Yunarto Wijaya yang dikutip dari Youtube tvOnenews oleh Ayojakarta.com pada Senin 9 Desember 2024.
Baca Juga: Tim RK-Suswono Kekeh Pilkada Pilgub Jakarta Akan Digelar 2 Putaran: Ada Kok Anggarannya
Namun, dalam perkembangan masa kampanye dimana memperlihatkan Ahok mendukung kemudian diikuti Anies yang notabene keduanya mantan Gubernur Jakarta disitulah ada tren naik untuk Pram-Doel.
“perkembangan politik dalam masa kampanye memperlihatkan Ahok mendukung apalagi Anis kemudian mendukung mantan Gubernur lain juga mendukung,” jelas Dirut Charta Politika Yunarto Wijaya.
Menurutnya, kenaikan tren suara pada pasangan Pram-Doel selama kampanye Pilgub Jakarta tidak mengagetkan lagi.
“Saya melihat memang ada tren yang tidak terlalu mengagetkan,” tandanya.
Kekalahan Pasangan RIDO
Sementera kekalahan pasangan RIDO pada suara Pilgub DKI Jakarta 2024 disebabkan oleh beberapa faktor internal dari pasangan tersebut.
Dirut Charta Politika, Yunarto Wijaya menyatakan tren elektabilitas RIDO karena pada awal proses kampanye mereka antiklimaks tidak disiapkan untuk bertarung.
Baca Juga: Pilgub Jakarta 2024 Berpotensi Dua Putaran? KPU: Tunggu Hasil Rekapitulasi
"Proses kampanye pasangan RIDO anti klimaks, dalam prosesnya awal-awalnya tidak disiapkan untuk bertarung tapi disiapkan untuk masuk dalam skenario settingan melawan pasangan independen yang sudah pasti kalah,” jelasnya.
Tak hanya itu, pakar Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Ibnu Hamad juga menambahkan bahwa strategi kampanye pasangan RIDO kurang menyentuh Masyarakat.
“Mereka cenderung ngomongin program tapi kurang kurang menyentuh dengan kedekatan sosiologisnya gitu,” pakar komunikasi Ibnu Hamad.***