AYOJAKARTA.COM - Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk mengantisipasi mikroplastik di Ibu kota adalah edukasi Pengelolaan Sampah dari sumbernya.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, edukasi ini sebagai salah satu langkah konkret dalam mengantisipasi dampak polusi dan menekan potensi pencemaran mikroplastik di udara serta air hujan.
“Yang paling penting adalah membiasakan masyarakat memilah sampah organik dan anorganik dari rumah," ujarnya.
Asep diketahui akan mengembangkan bank sampah dan TPS3R untuk mengelola sampah anorganik, terutama plastik.
Baca Juga: Bukan Hanya DKI Jakarta, BRIN Sebut Udara 18 Wilayah Indonesia Mengandung Mikroplastik!
Program 1 RW 1 Bank Sampah
Salah satu yang akan menjadi program ialah Satu RW Satu Bank Sampah untuk membangun budaya pengelolaan Sampah di warga.
Selain pengelolaan sampah rumah tangga, DLH juga akan terus meningkatkan fasilitas pengolahan skala besar.
Kekinian DKI Jakarta telah memiliki fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Bantar Gebang dan tengah menyiapkan fasilitas serupa di Rorotan.
Sebagai informasi Pemprov DKI akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai bagian dari program nasional pengolahan sampah menjadi energi.
“Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan pada TPA Bantar Gebang dan mendorong pengolahan sampah di dalam kota,” jelasnya.
Selain itu masyarakat bisa memantau kualitas udara di DKI Jakarta secara real time melalui udara.jakarta.go.id.
Baca Juga: Kualitas Udara di Jakarta Menurun karena Kandungan Mikroplastik, Dinas LH DKI Lakukan 8 Upaya Ini
DLH Akan segera melucurkan sistem early warning system atau peringatan dini untuk memprediksi kualitas udara dan tingkat polusi hingga tiga hari ke depan.
“Dengan sistem ini, masyarakat bisa lebih siap melakukan langkah antisipatif, misalnya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi tinggi,” ucapnya.***