AYOJAKARTA.COM - Akhir-akhir ini wilayah pesisir DKI Jakarta ramai dengan banjir rob yang terjadi akibat curah hujan yang tinggi.
Kekinian, tanggul di wilayah DKI Jakarta pun menjadi sorortan publik.
Salah satunya tanggul Pantai Mutiara yang berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara.
Hal ini karena beredar video di media sosial yang memperlihatkan permukaan air laut yang semakin tinggi, bahkan terlihat adanya kebocoran kecil yang masuk ke area pemukiman warga.
Baca Juga: Menko Polkam Dorong Produksi Konten Edukatif, PWI Siap Gencarkan Literasi Publik
Penurunan Tanah di DKI Jakarta
Sebagai informasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menyebutkan bahwa DKI Jakarta mengalami penurunan muka tanah mencapai 10-30 cm per tahun.
Terlebih terjadinya banjir hingga erosi garis pantai membuat ancaman naiknya permukaan air laut di depan mata.
NASA sendiri beberapa waktu lalu sempat memperkirakan beberapa kota besar di dunia yang diprediksi akan tenggelam termasuk DKI Jakarta.
laporan ini hadir dari Sciencing yang menyebutkan Jakarta tenggelam sekitar 17 cm per tahun.
Beberapa faktor menyebabkan hal tersebut, seperti karena letak geografis yang berada didataran rendah bekas rawa serta dilintasi 13 sungai dan berbatasan langsung dengan laut Jawa.
Fakta Jakarta Tengelam Menurut SDA DKI jakarta
Dikutip ayojakarta.com dari situs Dinas SDA DKI Jakarta, menyebutkan bahwa pemanasan global yang membuat es di kutub mencair menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tinggi muka laut trs naik tiap tahunnya.
Ini menjadi perhatian global sebab ada banyak kota-kota pesisir dunia jadi terdampak langsung, kota-kota seperti Venesia di Italia, Kiribati, dan Tuvalu pun terancam akan tenggelam bila air laut terus meninggi.
Kondisi di Jakarta diperburuk dengan muka tanahnya yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun akibat fenomena alami yang disebut sebagai land subsidence.
Sayangnya, eksploitasi air tanah dan pembangunan yang berlebih mempercepat penurunan muka tanah di Jakarta, hingga 15 cm per tahun.
Walaupun faktanya memang terjadi penurunan permukaan tanah di ibu kota, Pemprv DKI Jakarta pun tak tinggal diam.
Melalui Dinas SDA DKI Jakarta berbagai langkah dilakukan, mulai dari pelarangan penggunaan air tanah di beberapa wilayah di Jakarta, pembangunan stasiun pemantauan penurunan muka tanah, serta pembangunan tanggul pengaman pantai dan muara sungai di kawasan pesisir.
Penurunan tanah adalah suatu fenomena alam yang terjadi di kota-kota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen muda, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan beberapa kota lainnya.
Fenomena ini dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti meluasnya daerah genangan banjir, retak pada gedung atau bangunan, miringnya bangunan, serta kerusakan pada sarana jalan.
Selain itu, penurunan tanah juga dapat menyebabkan banjir rob di area pesisir dan penurunan kualitas lingkungan.
Baca Juga: Tonggak Baru Investasi Syariah: KIK EBA BRI-MI Jakarta Lingkar Barat Satu Melantai di Bursa
7 Lokasi Pemantauan Penurunan Tanah
Setidaknya terdapat 7 lokasi tempat pemantauan penurunan tanah yang dimiliki Dinas SDA DKI Jakarta yakni:
1. Gudang Material Sumber Daya Air di Kecamatan Cilincing.
2. Gedung Pompa Tanjungan, Jakarta Utara.
3. Gudang Material Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat di Kecamatan Kembangan.
4. Gudang Material Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Utara di Kecamatan Pademangan.
5. Gedung Pompa Muara Angke, Jakarta Utara.
6. Gedung Pompa Super Timur, Satu Kodamar, Jakarta Utara.
7. Gedung Pompa Junction, Jakarta Utara.
Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk memahami lebih baik di mana dan mengapa penurunan tanah terjadi, serta untuk mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.***