Metropolitan

Jakarta-Shenzhen Segera Jadi Sister City, Strategi Ambisius Menembus Top 50 Kota Global 2030

Oleh: Katarina Erlita Rabu 22 Apr 2026, 17:45 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Sumber: menpan.go.id)

AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semakin serius memantapkan posisinya di panggung internasional.

Dalam langkah diplomatik terbaru, Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menargetkan hubungan resmi Sister City antara Jakarta dan Shenzhen, Tiongkok, pada November 2026 mendatang.

Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja strategis ke Asia Timur yang dimulai pada 22 April 2026.

Shenzhen, Kiblat Inovasi untuk Solusi Macet dan Banjir

Pemilihan Shenzhen sebagai mitra strategis bukanlah tanpa alasan. Sebagai pusat teknologi dunia, Shenzhen dinilai memiliki kunci jawaban atas dua masalah klasik Jakarta, yaitu kemacetan dan banjir.

Melalui unggahan di media sosialnya, Pramono Anung menegaskan bahwa kerja sama ini adalah kesempatan emas bagi Jakarta untuk menyerap ilmu smart city.

"Kota Shenzhen adalah kota terdepan di bidang inovasi, teknologi, dan smart city. Sehingga, menjadi kesempatan emas bagi Jakarta dalam menjalin kerja sama. Khususnya untuk menangani isu kemacetan dan banjir," tulis Pramono pada Rabu, 22 April 2026.

Salah satu implementasi konkret yang dijajaki adalah kolaborasi transportasi publik.

Penandatanganan nota kesepahaman antara MRT Jakarta dan Shenzhen Metro diharapkan mampu membawa standar baru dalam efisiensi mobilitas warga ibu kota.

Diplomasi Asia Timur, Dari Seoul hingga Tokyo

Tidak hanya Shenzhen, lawatan yang berlangsung hingga 28 April 2026 ini juga mencakup Seoul, Tokyo, dan Kyoto.

Di Korea Selatan, fokus Jakarta tertuju pada peningkatan kualitas layanan kesehatan dengan melakukan benchmarking ke fasilitas medis modern untuk pengembangan rumah sakit daerah, seperti RS Sumber Waras.

Sementara di Jepang, diplomasi hijau menjadi agenda utama. Pertemuan dengan Gubernur Tokyo akan membahas inovasi berkelanjutan dan solusi iklim.

Jakarta juga menunjukkan taringnya di kancah akademik dan intelektual melalui kuliah umum yang dibawakan Pramono di Kyoto University serta partisipasinya sebagai pembicara di G-NETS Leaders Summit 2026.

Ambisi Jakarta untuk masuk ke jajaran 50 kota global dunia pada tahun 2030 membutuhkan perubahan paradigma.

Pramono Anung menilai bahwa berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi Jakarta saat ini justru merupakan modal untuk berinovasi.

"Jakarta adalah laboratorium hidup transformasi perkotaan di Asia Tenggara. Tantangan iklim, banjir, kemacetan, hingga polusi udara bukan penghalang, melainkan pendorong inovasi," ungkapnya dalam keterangan resmi.

Dengan memperkuat diplomasi kota (city diplomacy) dan membangun jejaring global yang kuat, Jakarta tidak lagi sekadar menjadi pusat ekonomi nasional, tetapi bersiap bertransformasi menjadi megapolitan kelas dunia yang inklusif, cerdas, dan layak huni bagi seluruh warganya.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita